Yulianus Man: Bapa Pendiri Sekolah dan Pencinta Seni

- Penulis

Selasa, 26 Januari 2021 - 11:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yulianus Man lahir di Orong, 30 April 1935. Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang kala itu memercayai para misionaris sebagai pembawa perubahan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Hal itu memang punya alasan. Situasi saat itu, banyak keluarga tidak ingin menyekolahkan anaknya karena adanya kecurigaan terhadap orang asing. Ia bersekolah di Sekolah Rakyat Ranggu.

Baca Juga : Walter Wasibin Wisang: Konseptor, Sekretaris Tulen di Semua Lini

Sejak tahun 1913, misionaris SVD mulai membuka sekolah rakyat di Ruteng. Beberapa tahun kemudian dibuka sekolah di Pongkor, sebagai sekolah kedua, tahun 1919. Hingga tahun 1930, di seluruh Manggarai telah dibuka 52 sekolah rakyat. Untuk wilayah Barat, tahun 1924 dibuka sekolah di Ranggu. Tahun 1930 dibuka sekolah Semang. Tercatat data kajian karya misionaris hingga tahun 1959 telah berhasil mendirikan 171 sekolah dasar di seluruh Manggarai.[1]

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Usai menyelesaikan pendidikan dasar di kampung halamannya, Yulianus lalu hijrah ke Ruteng untuk melanjutkan pendidikan di Standard School lalu ke SMP Tubi yang didirikan oleh P. Yan van Roosmalen SVD, 1 September 1950. Sekolah berasrama ini perlahan-lahan membentuk karakternya sebagai seorang pendidik di kemudian hari. Pola hidup yang disiplin, teratur, rapih, rajin adalah bagian dari karakter Yulianus. Beberapa rekannya seangkatan antara lain Tote Djelahu dan Anton Mashur.

Baca Juga : Guru Wens Wisang: Pencinta Seni, Sahabat Cosmas Batubara

Mereka adalah barisan 30 siswa angkatan pertama sekolah menengah pertama di Manggarai. Sekolah ini berada di bawah Yayasan Pemerintah Kabupaten Daerah Manggarai dengan ketua yayasan Raja C. Ngambut.[2] Sekolah ini berkembang pesat. Tahun 1954 disiapkan dua rombongan belajar yakni kelas A dan B untuk kelas 1 dengan jumlah 80 siswa. Tahun 1956 dibuka kelas C khusus untuk perempuan di biara SSpS Ruteng. Pada 1 April 1978 sekolah ini kemudian beralih status dan nama menjadi SMP Negeri 1 Ruteng.[3]

Usai menyelesaikan pendidikan di SMP Tubi, ia melanjutkannya ke SGA Ndao tahun 1956. SGA Ndao termasuk salah satu sekolah menengah atas pertama di Flores setelah SMA Syuradikara. Pendidikan di SGA Ndao terbilang ketat. Dalam segala hal mengutamakan implementasi nilai untuk pembentukkan karakter siswa. Sekolah ini dikelola oleh para Bruder Bunda Hati Kudus asal Belanda.[4]

Kerinduannya untuk menjadi seorang pendidik terus berlanjut. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke PGSLP Undana Kupang tahun 1959, setelah menikahi gadis Nekang-Ruteng, Martina Pune, pada 15 November 1958. Pendidikan di PGSLP tidak diselesaikannya karena pada saat bersamaan ia kembali ke Ruteng untuk menanti proses kelahiran putera pertamanya, Willybrordus Hangguman.

Baca Juga : Prof. Dr. Berthold Antonius Pareira O.Carm: Selamat Jalan Elia dari Timur

Di Ruteng mula-mula ia mengajar di SMP Tubi, almamaternya. Ia tidak saja bergaul dalam lingkup lembaga pendidikan. Ia masuk Partai Katolik dan menjadi pengurus partai itu. Kemudian dirinya berpindah ke Partai Golkar ketika Partai Katolik melebur ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Sebagai guru, Yulianus menerapkan prinsip pendidikan yang deliberative, pendidikan yang membebaskan. Ia betul sabar menghadapi kelakuan para siswa dengan pelbagai tingkah mereka. Demikian halnya dengan siswa yang agak lambat dalam menangkap pelajarannya. Guru Yulianus mengajar bidang pelajaran ilmu ukur, aljabar dan bahasa Inggris. “Bapa memang ahlinya Matematika. Ketika saya sudah di Seminari Kisol, kemampuan Matematika saya juga sangat bagus. Saat liburan saya sudah bisa membantu Bapa untuk mengoreksi pekerjaan murid-muridnya”, ungkap Willy Hangguman, anak pertamanya.

Kesan terhadap Guru Yulianus sebagai guru yang penuh perhatian, kasih sayang dan penyabar diungkakan salah seorang muridnya. “Bapa Guru Yul itu sangat menyayangi kami, beliau sangat sabar terhadap kelemahan kami sebagai murid yang kurang cepat menangkap pelajarannya”. Kesan ini memang menjadi kesaksian banyak orang. Guru Yulianus juga menjadi teman yang baik bagi sahabat guru di sekolahnya.

Komentar

Berita Terkait

Menulis Buku, Bangun Budaya Literasi Dalam Koperasi Kredit di Indonesia
Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende
Yohanes Sason Helan, GM Kopdit Swasti Sari:Hati yang Selalu Mengabdi
Romo Edu Jebarus Pr: Sejarawan Gereja yang Andal
Dr. Max Regus Pr: Habemus Rectorem!
Caritas est Mater, Radix, et Forma Omnium Virtutum
Frans Kalis Laja: Pendobrak yang Pantang Menyerah
P. Dr. John M. Prior: Nabi yang Terus Bersuara

Berita Terkait

Selasa, 12 September 2023 - 07:48 WITA

Menulis Buku, Bangun Budaya Literasi Dalam Koperasi Kredit di Indonesia

Selasa, 15 Agustus 2023 - 19:33 WITA

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Senin, 24 Juli 2023 - 21:48 WITA

Romo Edu Jebarus Pr: Sejarawan Gereja yang Andal

Kamis, 22 Juni 2023 - 16:54 WITA

Dr. Max Regus Pr: Habemus Rectorem!

Kamis, 2 Februari 2023 - 17:36 WITA

Caritas est Mater, Radix, et Forma Omnium Virtutum

Minggu, 31 Juli 2022 - 20:43 WITA

Frans Kalis Laja: Pendobrak yang Pantang Menyerah

Selasa, 5 Juli 2022 - 13:24 WITA

P. Dr. John M. Prior: Nabi yang Terus Bersuara

Sabtu, 9 April 2022 - 13:34 WITA

Tokoh Koperasi Itu Telah Pergi

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA