FilsafatSastra

Sumbangan Etika Sokrates:Manusia Mencintai Dan Mengakui Kehidupan (2)

Sumber gambar: www.andthem.com

Tatkala pemusnahan terhadap martabat dan kehidupan manusia menjadi suatu trend yang sulit untuk dikendalikan, sebagai mahkluk yang mengenal arti pentingnya kehidupan, manusia dipanggil untuk mencintai dan mengakui kehidupan. Di saat manusia kehilangan jati dirinya karena arus perkembangan zaman, kita mestinya menunjukkan kepada dunia bahwa hidup manusia adalah suatu keharusan yang patut dipelihara, diakui dan dicintai. Kita tidak bisa membenarkan pembunuhan dengan motivasi apapun.

Mengapa kita tidak bisa membenarkan pembunuhan dalam bentuk apapun? Martabat manusia dapat dikatakan terletak dalam kenyataan, bahwa ia merupakan mahkluk yang berakal budi dan berkemauan, bahwa ia memiliki suara hati dan kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Ia memiliki otonomi. Dalam filsafat kita mengatakan bahwa manusia itu persona. Itulah yang membedakannya dari semua mahkluk lain di dunia ini. Dan itulah sebabnya mengapa manusia, dan hanya manusia, dapat menjadi alamat sapaan Tuhan penciptanya. Manusia adalah satu-satunya makhluk dunia yang terbuka pada transendensi. Ide Sokrates tentang kebakaan jiwa dan adanya hidup sesudah kematian membuktikan hal itu. Itulah dasar paling dalam dari nilai tak terhingga setiap manusia. Maka setiap manusia baik pria maupun wanita, yang sudah lahir atau belum, pandai atau bodoh, sehat atau sakit jiwanya, merupakan tujuan in se (dalam dirinya sendiri), dikehendaki secara personal oleh Sang Pencipta, dan tak pernah boleh diperuntukkan bagi pelbagai kepentingan, tak pernah boleh menjadi sarana untuk mencapai pelbagai tujuan masyarakat.

Nilai khusus kehidupan manusia terletak dalam kenyataan bahwa kehidupan itu merupakan basis eksistensi dan pengembangan manusia dalam martabatnya itu. Maka kehidupan manusia tidak pernah boleh sekedar dipakai untuk mencapai pelbagai tujuan. Nilai kehidupan manusiawi mendahului penataan diri masyarakat, maka keutuhannya merupakan salah satu hak azasi manusia yang paling dasariah. Itulah yang dimaksudkan kalau dikatakan bahwa kehidupan manusia adalah suci. Kehidupan manusia harus dianggap suci, artinya tidak boleh dijamah demi pelbagai keuntungan. Bahkan dalam situasi kematian yang penuh derita, kesucian hidup tidak hilang. Bagi manusia yang percaya akan Allah Pencipta, wewenang mutlak Tuhan atas kehidupan dan kematian manusia merupakan dasar yang paling kokoh agar kehidupan manusia tidak diperkosa.

Melalui refleksi kritis kita menolak gaya hidup hedonisme. Hedonisme di dalamnya mengandung kebenaran bahwa manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidaksenangan. Kita harus mengakui bahwa keinginan akan kesenangan merupakan suatu dorongan yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Tapi kita mesti bertanya secara kritis apakah manusia selalu mencari kesenangan? Apakah tidak mungkin bahwa manusia membaktikan hidupnya demi orang lain dengan niat dan motivasi yang murni? Sr. Teresa dari Kalkuta membaktikan hidupnya sampai akhir demi melayani kaum miskin di Kalkuta. Apakah dia bersama rekan-rekannya hanya ingin mencari kesenangan semata? Sulit untuk membuktikan ketidakbenaran para hedonis. Melalui refleksi kita menemukan bahwa mereka tidak benar bukan karena suatu kekurangan logis dalam argumentasinya, melainkan karena pandangan mereka tidak cocok dengan pengalaman hidup manusia.

Namun jika kita jeli melihat argumentasi mereka ada satu loncatan yang tidak dipertanggungjawabkan. Mula-mula mereka menganggap bahwa kodrat manusia adalah mencari kesenangan lalu kemudian ia menyetarafkan kesenangan dengan moralitas yang baik. Secara logis mestinya ia membatasi diri pada suatu etika deskriptif saja dan tidak sampai merumuskan etika normatif. Jika manusia cenderung kepada kesenangan, apa yang membuktikan hal itu tentang kualitas etisnya? Ada kenyataan bahwa sebagian orang mencapai kesenangan dengan menyiksa diri atau membunuh orang lain. Melihat kenyataan ini kita bisa mengatakan bahwa kesenangan saja tidak cukup untuk menjamin sifat etis suatu perbuatan. Selain itu para hedonis mempunyai konsep yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik kalau disenangi. Sebagai konsekuensinya hedonisme mengandung suatu egoisme, karena hanya mementingkan diri sendiri saja. Maksudnya ialah lahir suatu egoisme etis atau egoisme yang mengatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban moral untuk membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik buat saya. Egoisme etis harus ditolak sebab bertentangan dengan prinsip persamaan: semua manusia harus diperlakukan secara sama, selama tidak ada alasan untuk suatu perlakuan yang berbeda.

Kita juga menolak sikap kaum utilitarian. Prinsip kegunaan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya benar. Misalnya pada era Orde Baru, banyak rakyat dikorbankan demi kepentingan pembangunan nasional. Kita bertanya: Jika pembangunan itu bertujuan mensejahterakan rakyat Indonesia, mengapa rakyat yang justru diperlakukan tidak adil? Untuk siapa pembangunan dilaksanakan? Keberatan lain lagi adalah bahwa prinsip kegunaan tidak memberi jaminan apa pun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam suatu masyarakat mayoritas anggotanya hidup makmur dan sejahtera serta hanya sedikit yang miskin dan mengalami banyak kekurangan, menurut utilitarisme dari segi etis masyarakat seperti itu telah diatur dengan baik, karena kuantitas kesenangan melebihi ketidaksenangan. Bahaya terbesar prinsip utilitarisme adalah ketika manusia diukur dari kemampuannya: sejauh mana ia memberikan kegunaan dan nilai plus. Akibatnya janin manusia yang sudah diketahui cacat dalam kandungan dianggap tidak memberikan manfaat yang besar bagi keluarga, malah akan mendatangkan kerugian. Karena itu praktek aborsi sangat dekat dengan prinsip ini. Demikian halnya tuntutan spesialisasi dalam berbagai bidang pekerjaan. Manusia tidak bisa dinilai dari aspek kemampuan semata: sejauh mana dia sanggup memberikan sesuatu. Manusia tanpa spesialisasi tetaplah memiliki eksistensi yang luhur, yang harus dihormati dan diakui.

Seperti hedonisme dan utilitarisme, kita juga menolak materialisme dalam segala bentuknya. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis. Pada satu kutub ekstrem, materialisme merupakan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pikiran (roh, kesadaran, jiwa) tidak lain adalah materi yang sedang bergerak. Pada kutub ekstrem lainnya, materialisme merupakan keyakinan bahwa pikiran sungguh-sungguh ada tetapi disebabkan oleh perubahan material dan sama sekali tergantung pada materi. Pikiran tidak memiliki daya guna kausal, juga tidak mutlak perlu untuk berfungsinya alam semesta. Konsekuensi dari pemikiran ini adalah tidak mengakui eksistensi Allah atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manisfestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya besifat abadi.[1]Materialisme cenderung membawa manusia kepada kerakusan. Manusia tidak lebih dilihat semata sebagai sarana yang bisa mendatangkan keuntungan bagi pemilik modal. Harkat dan martabat manusia hanya diukur dari sejauh mana seseorang bisa menghasilkan sesuatu. Banyak peristiwa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) terjadi justru karena orang ingin menumpuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya hanya untuk kepentingan pribadi, meskipun banyak orang lain menjadi korban. Materialisme juga membawa manusia kepada sikap konsumeristis. Konsumerisme merupakan sikap hidup yang lebih mau menikmati daripada menahan, mengkonsumsi daripada memproduksi. Akibatnya jika manusia sudah ketiadaan barang-barang yang bisa dikonsumsi ia akan melegalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dengan ini dapat kita katakan bahwa hidup manusia bukan hanya untuk menghasilkan materi sebanyak-banyaknya. Makna hidup manusia bukan terletak di situ. Melalui kekayaan yang ada sebenarnya manusia dapat mengekspresikan dirinya sebagai mahkluk sosial yang mencintai orang lain, jatuh belas kasihan kepada mereka yang tak berdaya sebab mereka adalah sesama manusia, bukan sampah. Dengan mencintai dan memberi kita menegaskan bahwa mereka adalah diriku yang lain.

Akhirnya kita juga menolak sekularisme yang melanda dunia. Hidup manusia bukan hanya untuk hari ini. Sokrates sungguh menyadari hal itu. Ia menegaskan bahwa manusia akan hidup terus setelah kematiannya. Karena itu dari pihak manusia dituntut suatu persiapan melalui kebajikan-kebajikan. Kebajikan dilihatnya sebagai jalan menuju kepada kesempurnaan hidup. Kemajuan dalam segala bidang penting bagi manusia karena dengan itu manusia ditolong untuk menyempurnakan eksistensinya sebagai animal rationale. Tetapi manusia juga tidak bisa menyadari bahwa ia adalah homo religiosus yang mengarahkan dirinya kepada sesuatu yang transenden, Wujud Tertinggi. Sokrates tidak mengingkari adanya dewa-dewa sebagai sembahan manusia. Dalam kosa kata Kristen, wujud tertinggi itu adalah Allah.

Keutuhan atau integritas etis manusia bernilai lebih tinggi. Maka demi penyelamatan orang lain, orang boleh mempertaruhkan, bahkan mengorbankan kehidupannya, misalnya yang belum ada obatnya, atau apabila ia lebih suka membunuh diri daripada dipaksa oleh siksaan yang tak tertahankan, untuk membela keadilan dan kebenaran atau untuk memberitahukan nama-nama mereka yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak yang mau menghancurkan mereka. Sokrates meminum racun bukan karena ia tidak menghargai kehidupan, bukan pula semata-mata karena ia melihat badan tidak memiliki arti. Namun, ada satu nilai yang lebih tinggi yang ia mau capai ialah bahwa kebenaran dalam keadaan apapun harus dibela dan dipertahankan.[2] Di sini, Sokrates memperlihatkan bahwa kehidupan manusia mencapai kepenuhan maknanya bila ia mempertaruhkan segalanya untuk mencapai kebenaran, hal mana yang merupakan unsur yang memberikan makna bagi hidupnya. Perjuangan Sokrates berdimensi sosial: Ia tidak hanya berjuang untuk mencapai keamanan dan kemapanan dirinya, tetapi ia juga lebih dari itu berjuang untuk masa depan negerinya, terutama kehidupan kaum mudanya. Ia memiliki orientasi agar manusia muda beralih dari cara pandang lama ke cara pandang baru, dari pendewaan kekuasaan, kekayaan dan tradisi kepada kelepasan, kebebasan dan sikap yang selalu kritis. Sebab bagi dia, makna hidup manusia justru terletak pada kesadaran akan eksistensinya sebagai mahkluk yang memiliki rasio. Rasionya menyanggupkan dia untuk melihat kebenaran dan melalui kebenaran ia mencapai tujuan hidupnya yakni kesempurnaan jiwanya, yang dalam hal ini ia sebut sebagai kebahagiaan.***

[1] Lorens Bagus, Op. Cit., pp. 593-dst.

[2] Frans Ceunfin, “Etika Umum”, Manuskrip (STFK Ledalero, 2002), pp. 19-20.

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button