Siapa Manusia Dalam Perspektif Sokrates?

- Penulis

Sabtu, 20 Oktober 2018 - 18:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak zaman dahulu kala banyak orang secara khusus menaruh perhatian terhadap manusia. Hal itu terekspresi dalam berbagai tulisan zaman lampau hingga saat ini. Sofokles, seorang dramawan Yunani, berkata dalam sebuah karya tragedi yang berjudul Antigone, “Banyak keajaiban di dunia ini, tetapi tidak ada satupun yang lebih ajaib daripada manusia”. Pernyataan ini masih bisa dibenarkan sampai hari ini. Tentu saja sejak pernyataan Sofokles ini ditulis, hampir 25 abad yang lalu, telah terjadi banyak perubahan. Pengetahuan manusia sudah meloncat mencapai ketinggian yang belum pernah diimpikan.[1]

Berbicara tentang manusia ada banyak pertanyaan yang bisa diajukan. Meminjam istilah Driyarkara, ada pertanyaan “eksperimental”, baik eksperimental biasa maupun eksperimental ilmiah. Namun khusus untuk pertanyaan dalam filsafat, manusia tidak bisa mengajukan pertanyaan eksperimental melainkan metafisis atau hakiki. Yang ditanyakan: hakekat manusia. Jawaban atas pertanyaan yang hakiki itu menjadi dasar keterangan semua hal manusiawi.[2] Belajar tentang manusia selalu menarik justru karena bermuara pada pengenalan dirinya sendiri dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Hal itu sepintas diakui oleh Mortimer yang menulis:

Whether or not the proper study of mankind is man, it is the only study in which the knower and the known are one, in which the object of the sciences is the nature of the scientist. If we consider every effort men have made is response to the ancient injunction “know thy self”, then psychology has perhaps a longer tradition than any other science.[3]

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

(Apakah benar atau tidak bahwa studi khusus tentang umat manusia adalah manusia, ialah satu-satunya studi di mana ilmuwan dan ilmu adalah satu, di mana obyek dari ilmu-ilmu pengetahuan adalah kodrat dari ilmuwan itu sendiri. Jika kita memperhatikan setiap usaha yang telah dibuat oleh manusia merupakan tanggapan terhadap pepatah kuno, kenalilah dirimu, lantas psikologi mungkin memiliki tradisi yang lebih lama dari pada ilmu pengetahuan yang lain).

Dalam seluruh ajaran Sokrates kita tidak bisa menemukan pemikiran yang sistematis tentang pandangannya mengenai manusia, apa dan siapa itu manusia. Dari catatan-catatan yang bersifat framentaristik, kita hanya bisa menyusun pemikirannya dengan bersumber pada para penulis lain, entah itu muridnya seperti Plato atau orang-orang yang menaruh perhatian kepada hidup dan ajarannya. Hal ini jelas bagi kita sebab, seperti yang tertera pada bagian terdahulu dalam tulisan ini[4], Sokrates tidak meninggalkan karya tulisan apapun kepada kita. Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui pemikiran Sokrates tentang manusia? Menurut refleksi penulis, hal itu bisa kita lakukan dengan coba membedah karya-karya tulis sahabat dan murid-muridnya.

Dalam tulisan ini, secara khusus penulis hanya berpatokan pada tulisan-tulisan Plato.[5] Alasan penulis ialah sebab Plato memiliki kerangka berpikir yang agak sistematis dan lebih lengkap dalam menyajikan kepada kita siapa sebenarnya Sokrates dan bagaimana pemikirannya tentang manusia dan kehidupannya. Selain itu, Plato menaruh minat yang sangat besar terhadap Sokrates. Hal ini jelas dari antusiasme Plato terhadap Sokrates, gurunya sendiri. Plato mengakui hal itu dengan terus terang dan memberikan gelar kepada Sokrates sebagai the noblest and the wisest and most just (yang paling mulia dan paling bijaksana dan yang paling tulus).[6] Setelah kematian Sokrates, Plato juga mengatakan kekagumannya, the best man of all his time that we have known, and moreover the most wise and just (manusia terbaik pada masanya yang kita tahu, dan lagi pula paling bijaksana dan adil).[7]

[1] Soerjanto Poespowardojo & Kees Bertens (red.), Sekitar Manusia: Bunga Rampai Tentang Filsafat Manusia  (Jakarta: Gramedia, 1978), p. 1.
[2] Driyarkara menjelaskan lebih lanjut melalui contoh tentang pertanyaan eksperimental biasa: “Kamu dari mana, kamu mau ke mana, siapa namamu.” Sedangkan pertanyaan eksperimental ilmiah terdiri macam-macam bidang pengetahuan secara: sosiologis, psikologis, yuiridis, antropologis, dsb. Bdk. Driyarkara, Filsafat Manusia  (Yogyakarta: Kanisius, 1969), p. 6.
[3] Mortimer J. Adler (ed.), Great Books of the Western World (Chicago: The University of Chicago), 1990, p.
[4] Martin J. Wals, A History of Philosophy (London: Geoffrei Chapman,  1985), p. 20.
[5] Tentang hal yang sama pada penulis lain akan kami singgung sejauh memiliki hubungan yang membantu kita dalam menjelaskan Sokrates dan ajarannya. Antara lain kita bisa menyebut Xenophon dalam tulisannya Memorabilia.
[6] “Phaedo” dalam W.H.D. Rouse, The Complete Texts of Great Dialogues of Plato  (New York: New American Library), 1970, p. 597; Bdk. J.H. Rapar, Filsafat Politik Plato (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), p. 57.
[7] Wals, Op. Cit. p. 23.
Komentar

Berita Terkait

Siapa Menciptakan Tuhan?
Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?
TERGILAS ANGKA MIMPI
Motif Tenunan, Filosofi Kehidupan dan Nilai Budaya
ALTECO DAN KEBAIKAN
Selesailah Sudah…
Opa, Bangunlah…In Memoriam Opa Teus (1)
Orang Wonda-Lio & Pandangan Tentang Roh Jahat
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 April 2021 - 18:24 WITA

Siapa Menciptakan Tuhan?

Minggu, 27 September 2020 - 03:23 WITA

Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?

Selasa, 26 Mei 2020 - 18:36 WITA

TERGILAS ANGKA MIMPI

Jumat, 2 Agustus 2019 - 16:50 WITA

Motif Tenunan, Filosofi Kehidupan dan Nilai Budaya

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:37 WITA

ALTECO DAN KEBAIKAN

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:26 WITA

Selesailah Sudah…

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:21 WITA

Opa, Bangunlah…In Memoriam Opa Teus (1)

Selasa, 4 Desember 2018 - 17:46 WITA

Orang Wonda-Lio & Pandangan Tentang Roh Jahat

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA