RITUS TEING HANG ORANG MANGGARAI[1] (Sebuah Studi Awal Untuk Mencari Pertautannya dengan Inkulturasi Iman Kristen)

- Penulis

Minggu, 8 Mei 2016 - 04:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kanisius Teobaldus Deki 

Dalam kesehariannya, orang Manggarai sebagai orang Katolik, tetap juga menjalankan ritus-ritus adat yang kerap dianggap secara sepihak bertentangan dengan isi iman Kristen. Hal itu menimbulkan perdebatan di kalangan umat dan menimbulkan berbagai pertanyaan, antara lain: “Apakah ini bentuk sinkretisme? Apakah ini penghayatan iman yang dualistis? Apakah ini tidak bertentangan dengan isi dan inti iman Kristen? Apakah ini bentuk penyembahan berhala?”
Pertanyaan-pertanyaan ini, seyogyanya harus membawa kita pada penemuan jawaban berbasis analisis yang diposisikan di atas pangkuan penelisikkan secara mendalam melalui penelitian adequat tentang hal ini. Dengan jalan ini, kita bisa menjustifikasi kenyataan itu bertitik pijak pada pengetahuan yang kurang lebih memadai.
Studi kecil ini lebih merupakan sebuah studi awal yang berusaha menjelaskan ritus Teing Hang orang Manggarai dan sekilas refleksi atasnya jika diperhubungkan dengan arus inkulturasi dalam Gereja Katolik Manggarai. Tentu, sebagai studi awal, bahan ini memiliki banyak keterbatasan. Karena itu, diskusi atasnya merupakan keharusan, demi meraih perspektif pencerahan yang lebih benderang dalam menempatkannya pada area iman berbasis budaya.[2]

  1. Konteks Ritus Teing Hang
    Kepercayaan orang Manggarai tak dapat dilepas-pisahkan dengan kultur agraris yang memiliki keterkaitan yang erat antara alam dengan seluruh kehidupan ciptaan. Tanah, gunung, air, iklim mempunyai relasi yang tak terpisahkan dan menyatu dengan kehidupan semua mahkluk. Kepercayaan akan keterkaitan unsur-unsur itu menyata dalam berbagai bentuk. Hal itu menjadi umum dalam agama-agama asli.[3]
    Pertama, kepercayaan akan roh alam dan roh leluhur. Roh berpengaruh atas pelbagai peristiwa dan kejadian yang dialami manusia dan ciptaan yang lainnya. Kepercayaan akan roh alam ini[4] membawa Orang Manggarai kepada keyakinan bahwa roh alam inilah jiwa dari alam semesta. Selain roh alam yang memiliki identitas yang abstrak dan tak terjamah, Orang Manggarai juga percaya pada roh leluhur yang telah meninggal (ata pele sina). Roh-roh leluhur ikut berperan dalam menciptakan keseimbangan kosmos. Itulah sebabnya terhadap roh-roh ini Orang Manggarai memberikan respek, penghargaan serta menjalin relasi yang tetap intim dan konstan melalui pelbagai ritus. Salah satu ritus itu adalah Teing Hang atau kerap disebut Takung yakni memberikan sesajian kepada roh leluhur sebagai bentuk persembahan yang memiliki berbagai maksud, antara lain meminta keberhasilan, memohon perlindungan dan juga berupa ucapan syukur. Dalam kesempatan itu dibuat Toto Urat [memperlihatkan usus hewan] yakni sebuah upacara untuk membaca tanda-tanda alam, khususnya berkaitan dengan nasib di masa depan, dengan melihat bentuk usus ayam, hati babi ataupun hati kerbau, tergantung bahan korban yang disiapkan dan maksud diadakannya ritus itu. Usai toto urat sebagian bahan persembahan disebarkan ke berbagai tempat yang disebut wecak helang dan sebagian lagi disimpan di piring kecil bersama dengan secangkir tuak.[5]
    Roh alam dan roh leluhur juga sering disebut naga golo, naga tana [roh kampung]. Naga golo ini diyakini memiliki peran khusus yakni melindungi masyarakat Adak komunal dari berbagai serangan, entah serangan fisik dalam peperangan maupun serangan non fisik seperti penyakit, berbagai bentuk mbeko janto [racun kiriman melalui ilmu hitam yang dimaksudkan sebagai aksi destruktif], bencana alam dsb. Naga golo juga kerap dihubungkan dengan pelbagai peristiwa yang menakjubkan, khususnya bila warga golo bersangkutan selamat dari pelbagai bencana.[6]
    Kedua, kepercayaan akan adanya roh halus berupa Darat Tana [Bidadari, peri] dan Poti [setan]. Alam-dunia dipercayai oleh Orang Manggarai sebagai yang memiliki roh. Mahkluk halus seperti peri, bidadari yang disebut darat adalah mahkluk halus yang sering menampakkan diri di mata air, sungai yang memiliki kolam besar dengan kedalaman yang tinggi dan berdaya angker [tiwu leténg]. Darat kerap dilihat sesekali pada saat matahari meninggi persis di atas ubun-ubun atau sekitar jam 12 siang, pada kesempatan yang kerap tidak diduga-duga dan merupakan pengalaman istimewa. Ada keyakinan bahwa darat biasa membantu manusia dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu, misalnya memikul batu-batu untuk Compang [altar persembahan]. Di kampung Tenda-Riwu ataupun Ruteng Pu’u terdapat compang yang dibuat dari batu-batu ceper besar yang beratnya berton-ton. Menurut masyarakat yang mendiami wilayah-wilayah itu, batu-batu besar itu berada di compang berkat bantuan darat yang didasarkan pada perjanjian tertentu.
    Selain membantu manusia, darat juga dapat memberikan malapetaka tertentu. Misalnya ada orang yang tiba-tiba hilang yang biasa disebut wendo le darat yakni peristiwa darat membawa-lari seseorang dan akan dikembalikan lagi jika ada ritus tertentu dibuat oleh ata Pecing atau ata Mbeko. Ritus pemanggilan orang yang dibawa oleh darat disebut benta. Ritus itu ditandai oleh pemukulan gendang dan gong. Ada keyakinan bahwa bagi darat bunyi gong dan gendang yang ditabuh di luar acara-acara adak merupakan bunyi gemuruh guntur dan halilintar yang menyambar-nyambar mereka. Itulah sebabnya para darat membuat aksi pemulangan [podo kole] orang yang mereka bawa itu. Menurut pengalaman beberapa orang yang mengalaminya, orang merasa kehilangan kesadaran, tidak mampu melawan kekuatan yang membiusnya dan darat mengadakan penawaran nuru [daging] orang itu kepada poti [setan] yang berada di berbagai pong [hutan rimba].[7] Ritus benta yang dibuat dengan pertolongan ata Mbeko atau Tu’a adat membuat mereka melepaskan orang bersangkutan.
    Selain darat, ada mahkluk halus yang disebut poti [setan]. Poti merupakan kekuatan yang kerap dinilai indifferent terhadap manusia, tetapi pada saat tertentu ia memberi pengaruh khususnya poti yang disebut jing da’at atau biasa disebut juga dengan poti wolo [setan jahat]. Jika manusia berpapasan dengan poti, maka manusia akan sakit dan bahkan dapat juga meninggal dunia. Untuk menghindari bahaya yang lebih besar dari kekuatan poti ini, ata Peci atau ata Mbeko membuat ritus tertentu, misalnya upacara Sening di wilayah Manus, Manggarai Timur.[8] Poti juga dapat dipakai manusia yang memiliki kekuatan supranatural untuk membawa malapetaka bagi orang lain. Di Manggarai ada istilah rasung [racun] yang berhubungan dengan penggunaan kekuatan magis dan melibatkan poti sebagai mediumnya. Aktus memberi rasung bisa dilakukan melalui pelbagai materi alam misalnya: air, udara, cahaya, kayu, tanah, dsb. Benda-benda ini akan membunuh manusia dengan cara yang irrasional dan tak tampak secara kasat mata. Kehadiran ata Pecing dan ata Mbeko sangat penting untuk menetralisir kekuatan magi hitam. Dalam banyak kasus, ata Mbeko selalu berpihak pada korban, kecuali jika ada perhitungan bisnis antara yang memberikan rasung dengan ata Mbeko. Meskipun hal itu merupakan kekecualian, pada ghalibnya ata Mbeko hadir sebagai pihak yang selalu menolong. Itulah sebabnya ada pembagian yang jelas antara ata Mbeko dengan ata Janto [orang yang menggunakan Mbeko-nya untuk tujuan destruktif].
    Ketiga, benda dan ucapan magis [mbeko, ceca, krenda, sungke].[9] Mbeko berhubungan dengan benda-benda dan ucapan-ucapan mantra yang memiliki daya magis. Ata Mbeko memiliki keduanya. Dalam melakukan aktus penyembuhan ata Mbeko merapalkan beberapa mantra kemudian melakukan gestikulasi tertentu lalu mengambil air [wae], garam [ci’e] atau benda lain seperti akar kayu [wake haju], keris [kiris], medali [ceca] lalu meletakkan benda-benda itu sesuai dengan maksudnya ke badan orang sakit. Benda-benda dan mantra-mantra ini kerap berfungsi sebagai pelindung diri dan masyarakat [pake weki] yang disebut jimak [azimat]. Jimak memiliki banyak wajah yang terungkap dalam benda-benda bertuah seperti batu akik, keris, bandul, tanduk dan gigi binatang tertentu, emas, dsb.
    Ada satu jenis mantra yang disebut Krenda. Krenda adalah mantra-mantra tertentu yang diucapkan oleh orang Manggarai pada saat-saat khusus dengan tujuan untuk membebaskan pengucapnya dari rasa takut dan tertekan oleh situasi atau peristiwa tertentu. Misalnya jika seseorang dipanggil oleh Kraeng Raja atau atasan, maka supaya tidak salah dalam berkata-kata krenda toe rantang dirapal kemudian terjadilah percakapan dengan raja sebagai sebuah dialog yang akrab. Seperti diakui banyak pihak krenda bukanlah bagian dari Mbeko.[10] Sebab krenda dapat diucapkan oleh siapa saja meskipun asal krenda dari ata Mbeko. Walaupun demikian, krenda tetap diyakini sebagai mantra yang manjur dan berdaya magis, namun menjadi mantra popular masyarakat kebanyakan.
    Keempat, Mori Keraeng: Pencipta, Pemelihara dan Pemilik Segala Sesuatu. Hingga saat ini bagian terbesar populasi penduduk yang mendiami tanah Manggarai beragama Katolik. Menurut Robert Mirsel, jumlahnya hampir sebanyak 95 % orang Manggarai menganut agama Katolik.[11] Meskipun demikian, kepercayaan akan adanya Yang Ilahi yang mengatasi segala kekuatan yang ada [roh alam, roh leluhur, kemampuan supranatural, dsb.] dan menjadi sumber, asal dan tujuan segala sesuatu bukanlah semata-mata karena ajaran iman Katolik. Sejak zaman lampau Orang Manggarai percaya akan adanya Allah yang diungkapan melalui paralelisme: Morin agu Ngaran, Jari agu Dedek, Parn awo-kolepn sale, tanan wa-awangn eta.[12]
    Dalam pemahaman asli Manggarai terminologi iman dalam kosa kata agama formal sinonim dengan imbi [percaya].[13] Terminologi ini secara eksplisit menggambarkan relasi antara seseorang atau sekelompok orang dengan yang lain. Relasi ini terbentuk karena rasa saling percaya. Karena itu, imbi dipahami sebagai suatu sikap percaya kepada sesuatu yang lain, baik orang-pribadi, kelompok maupun kekuatan lain. Dalam konteks religius, terminologi yang sama menggambarkan sikap dan keterarahan hati manusia kepada Wujud Tertinggi dalam agama primal mereka.[14]
    Dapat disimpulkan bahwa kepercayaan orang Manggarai dalam kesatuannya dengan kosmis berkiblat pada animisme, dinamisme, fetisisme dan totemisme yang bercampur dengan ide tentang Yang Ilahi yang mereka sebut sebagai Morin agu Ngaran, Mori Jari Dedek, atau pada zaman modern disingkat dengan Mori Keraeng.
  2. Pengertian dan Maksud
    Teing Hang adalah upacara memberikan makan kepada leluhur atau orangtua yang sudah meninggal. Ada tiga kesempatan teing hang dilakukan. Pertama, karena ada sakit yang berkepanjangan lalu muncullah mimpi (lang one nipi) bertemu dengan orangtua atau leluhur yang telah meninggal. Menurut penafsir (ata mbéko, ata pécing), mimpi itu memperlihatkan kenyataan bahwa anak-anak, termasuk yang sakit, lupa pada orang tua atau leluhurnya yang telah meninggal.
    Kedua, Teing hang menjadi satu kebiasaan dalam upacara penti, baik di akhir panen maupun pada saat pergantian tahun.
    Ketiga, pada saat-saat khusus, misalnya pada saat laki (persiapan perkawinan), wuat wa’i (meminta restu saat bepergian untuk maksud tertentu), rampas (perang) untuk meminta kekuataan dan penyertaan, dan landang (memenuhi undangan dari pihak yang melaksanakan hajatan tertentu yang disertai caci). Saat sekarang, perluasannya di segala lini kehidupan, misalnya untuk meraih jabatan politis (Pilkada, Pileg, Kadis, dll).
  3. Hewan Kurban
    Dalam acara Teing Hang, hewan kurban adalah ayam jantan putih. Warna bulu ayam disesuaikan dengan penglihatan dalam mimpi atau yang lazim menjadi kepercayaan. Bulu ayam juga memiliki arti, misalnya ayam putih melambangkan keputihan hati, hati yang bersih, tulus dan suci.
  4. Struktur Torok Teing Hang
  5. Pembukaan
    Pembukaan dibuat sebagai pengantar untuk menyampaikan maksud dipanggilnya penutur torok ke rumah kediaman mereka yang mengadakan upacara Teing hang. Wakil keluarga akan mengatakan:
    “Yo éma, agu ised ngasang énde laing, ka’e laing, ase laing. Tara mangad lonto cama wie ho’o, padir wa’i, rentu sa’i dite, ai alang wa keta betid, pu’ung eta main hiat ngaso, wan iset cucu, nenggitu koles wote agu hi énde. Itu tara mangan nggo’o tae, ole, asa landing méjeng hese, ngonde holes dami ngasan anak, toe manga nuk ata Tu’a Ema, pa’ang be le. Hitu kole itan one nipi, landing lé ho’o e, landing lé hitu e tara mangas meu ringing tis, népo leso, wan cengata, etan cengata. Itu tara nggo’on ema ga, wie ho’o kudut adak teing hang hi éma dami. Betuan, itu tara mangan siro ite éma laing, ise ende do, ase-kae, kudut teing hang hi ema. Kudut hia koe panggad buru warat, nggitu kole ringingtis, népo léso,kudu ngaji kole latang te hia kamping Mori agu Ngaran, poli ngaji eta mai boa bo ga.Hitu de betuan lonto dite wie ho’o. Ho’o tuak. Képok.” (Ya Bapa, dan semua yang disapa sebagai mama, kakak dan adik. Adapun yang menjadi alasan kita duduk bersama malam ini, menjulur kaki, beradu muka, karena kerap terjadi sakit yang menimpa keluarga kami mulai dari yang sulung hingga yang bungsu, demikian pula anak mantu dan mama. Itulah sebabnya ada prakiraan, barangkali karena ada rasa malas untuk bangun, Anak-anak tak gegas untuk bergerak, lupa pada bapa yang telah meninggal dunia. Itulah yang telah ditemukan melalui mimpi, alasan sakit karena disebabkan oleh hal ini atau hal itu. Itulah sebabnya bapa, malam ini kita akan mengadakan upacara Adak Teing Hang untuk ayah kami. Jadi, itulah sebabnya kami mengundang Bapa ke sini, mama sekalian, adik-kakak, untuk mengadakan upacara Teing Hang. Supaya, dialah yang menahan angin puyuh, semua sakit, dan berdoa ke hadapan Tuhan-Pencipta untuk keselamatannya. Kami sudah berdoa di kubur tadi. Itulah maksudnya kita duduk berkumpul bersama malam ini. Inilah tuaknya. Képok).
    Lalu pihak keluarga [kilo] yang meminta menyampaikan kêpok yang diwakili sebotol tuak, seraya berkata,
    “Aram manga toe di’a nain hi éma ho’od pa’ang be le wiga mangad do do’ong, itu tara mangad do bules ami ngasang anak, toe cumang nuk tau ase-ka’e, éma agu anak. Ho’og de haeng lamid anak laing kudut adak teing hang,kudut we’ang gerak wancing ngalis. Dopo one wie ho’os kali sangged po’ong jogot, ête nggéte, éma agu anak, ase agu ka’e, nénggitu kole ised cau léwing be musid. One manuk taungs keta tombod to’ong”. (Barangkali bapa yang telah meninggal memiliki perasaan yang tidak menyenangkan sehingga terjadilah berbagai rintangan, muncullah banyak penyakit dalam diri kami anak-anak, hadirnya berbagai pertentangan dalam diri kami adik-kakak, bapak-anak sebagai satu keluarga. Sekarang kami anak-anak temukan untuk mengadakan upacara Teing Hang, biarlah terang berpendar dan jalan terbuka lebar. Berhentilah malam ini semua usaha menumbuh-kembangkan dengki, perpecahan antara bapak dan anak, adik dengan kakak, demikian pula ibu-ibu yang bekerja di dapur. Dalam ayam ini nanti semuanya akan disampaikan).
  6. Penutur Torok Menerima Maksud Teing Hang
    Setelah wakil keluarga menyampaikan maksud, penutur torok akan berkata:

Nggo’o anak, ase ka’e tite. Ngasang éma kami, anak tite. Ai dite ho’o pe, gereng keta manga béti po manga teing hang ata Tu’a. Tama keta landing lé hitue, landing lé toe teing hang. Ho’o kali haeng kawen to’ong kudut dumpun, eta lawang ka’e hi énde, hi ka’e, ited do. Ho’o neng lonto torok dite wie ho’o, teing hang hi ka’e (sebut nama orang yang meninggal) hitu kudut neka manga wéndu lé watu ngasang meut anak dading, wécar lé tanad, neho réweng dé meu anak kamping amid éma. Ai hitu itay, ho’o neng pande. Eme landing lé hitu gauk de kraeng tu’a weli kamping ite anak, ole, mbér agu nantal beti situe, hood de teing hang to’ong. Toe manga célan réweng hitue. (Anak, kita adalah saudara. Kami disapa sebagai bapak, kalian anak-anak. Dalam kenyataannya kita baru ingat dan memberi penghormatan kepada orang tua jikalau kita sakit. Yang terpenting itulah alasan utamanya semua terjadi karena kita tidak ingat dan memberikan penghormatan kepada mereka. Inilah saatnya kita menemukan jawabannya, mulai dari ibu, kakak dan kita semua. Inilah saatnya di mana kita duduk bersama malam ini, mengadakan upacara untuk (sebut nama orang yang sudah meninggal) supaya jangan lagi ada batu yang membebani dan tanah percikan yang membuat mata kalian anak-anaknya tak sanggup melihat seperti yang kalian sampaikan melalui kami sebagai bapak. Karena kita sudah melihat, maka sekaranglah saatnya untuk menyatakannya melalui perbuatan. Jikalau karena kesilapan kita Kraeng Tu’a menjadi marah terhadap kalian anak-anak, ya, biarlah semua sakit terelakkan dan terpental, sekaranglah saatnya kita akan mengadakan upacara Teing Hang. Tiadalah bercacat suara yang kalian sampaikan).

Kemudian, penutur Torok menerima tuak kepok sebagai ungkapan kesediaan untuk menjadi wakil kilo [keluarga] yang membuat upacara Teing Hang. Lalu dilanjutkan dengan dialog antara penutur torok dan keluarga yang mengundang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Upacara Teing Hang dimulai
    Dalam upacara ini yang menjadi korban adalah ayam jantan putih. Tujuan utama dari upacara ini ialah supaya para leluhur tidak menjadi murka oleh karena keluarga yang masih hidup melupakan dia dan berperilaku tidak sesuai yang diharapkannya, misalnya saling bermusuhan. Dalam torok penutur berkata,
    “Dénge lite Kraeng (sebut nama), etad ata ngaso wad cucu anak ata ronam, ai lé ngonde holes, lé méjeng hése dise olo e, itu mangad macél one célis, da’ong one tokos beti. Kali manga kantad dite, manga tegi dite eta mai Gewak,[15] cala lé rugi tite, rabo tite, ho’o tuak, etad anak ata ngasom, wan ata cucu, nénggitu kami ase-ka’e, nenggitus weta, anak rona, ngasang empo. Reje neka beng kami wie ho’o, molor lonto torok, ho’o tuak bantang agu bentam.
    Mai neki no’od ga ai ho’o de manuk kudut teing hang ite. Neka peleng nggér le wiwim, neka pacu nggér lau. Ho’o tuak bantang agu bentam. Mai lonto no’o ce ite. Ca salang kole, ise ema Tu’a, ise ende tu’a, ende (sebut nama) mai lonto néki no’o meu, kudut senget papi agu tombo dami, teing hang to’ong, kudut majak lonto cama meu le mai, molor lonto torok, senget papi agu tombo eta lawang hi ka’e (sebut nama), wa lawang wing agu dading.
    Kudut majak lonto cama meu le mai senget papi agu tombo, manuk to’ong teing meu, kudut senang kole widang wéki. Kudut neka peleng nggér le wiwi, neka tei ringing ti’is, neka népo leso. Ho’o kole tuak kudut bantang agu bentas meu”. (Dengarlah Keraeng (sebut nama), berkatalah istrimu, anak-anak lelakimu mulai dari yang sulung hingga yang bungsu, karena mereka malas untuk bergerak, tak gegas berdiri, itulah sebabnya tinggallah sakit dalam daging, berdiamlah sakit dalam tulang. Ternyata kraeng terpaut rasa marah, terdapat permintaan dari Gewak, barangkali kraeng tersinggung, tersebab kraeng marah, inilah tuak, mulai dari yang sulung hingga yang bungsu, demikian kami saudara-saudari, anak rona, dan semua cucu. Sertailah kami malam ini, supaya benar dalam tutur bersama, inilah tuak untuk mengundangmu. Marilah datang bergabung bersama kami di sini, inilah ayamnya untuk memberi makan engkau. Janganlah engkau acuh tak acuh tanpa menghiraukan kami. Inilah tuaknya untuk mengundang dan memanggilmu. Kraeng, marilah duduk di sini. Selain itu kami juga mengundang dan memanggil para leluhur, mama (sebut nama), mama (sebut nama), marilah duduk bersama di sini, supaya mendengar keluh kesah kami mulai dari kakak (sebut nama), dan semua anak yang terlahir. Supaya senang duduk bersatu kalian yang datang dari dunia seberang, mendengar tutur dan keluh kesah kami, ayamlah yang akan dikorbankan untuk memberi kalian makan, supaya ada rejeki, supaya kalian jangan acuh tak acuh terhadap kami, supaya janganlah sakit menimpa kami. Inilah tuak untuk memanggil dan mengundang kalian).
  2. Torok Teing Hang
    Setelah menyampaikan sapaan terhadap orang yang meninggal, penutur torok memegang ayam jantan, mengarahkan matanya ke depan. Penutur torok menyampaikan kembali struktur yang sama seperti pada bagian terdahulu. Setiap satu ba’it torok selesai, ia mencabut bulu ayam sehingga ayam itu mengeluarkan suara.

Yo, Kraeng Tu’a, Eta lawang ised ngasang ka’e, wan lawang sangged anak, wote agu émpon, Ata one tana datad mole, ho’o taung ise. Ai dite ho’o lé la’ang le nipi lise anak dite. Rugi ite, keraeng Tu’a, lé toe di teing hang.One mai rugi ho’o weli ga mangas ita calang one weki: ringing tis, népo leso. Kali lé toe teing hang ite. Ho’o kali lami ga, lalong bakok teing hang. Kudut palong koes nai bakok dite. Kudut totos nai molor dite. Kudut widangs di’a, patis ngalis. Kudut widangs moncok neteng moso, hasil neteng uma. Neka mangas peleng nggér le, pacu nggér lau. Neka teis ringing tis. Neka patis népo léso. (Ya, Keraeng Tu’a, Mulai dari semua yang dipanggil kakak, juga yang disebut sebagai anak, menantu dan cucumu, mereka yang berada di tempat perantauan, mereka semua telah ada di sini. Karena engkau telah menunjukkan diri dalam mimpi anakmu. Kraeng Tu’a telah marah tersebab belum dibuat upacara Teing Hang. Dari sebab itulah, muncullah berbagai bentuk petaka: sakit kepala, kebingungan. Ternyata semua itu disebabkan oleh lupa memberikan makan Kraeng Tu’a. Kini kami memberikanmu ayam jantan putih. Supaya engkau mengalirkan hatimu yang putih. Supaya engkau memperlihatkan hatimu yang benar. Supaya engkau menghadiahkan kami kebaikan, membagi keluasan. Supaya engkau menganugerahkan keberhasilan di setiap moso,[16] hasil di setiap kebun. Janganlah kau nyatakan ketidak-acuhanmu. Janganlah kau beri kami kemalangan. Jangan timpakan kami segala kebingungan).
Kudut émos sangged wéjang rugi, senget di’a lite Kraeng Tu’a. Ite kole anak, etan lawang ata ngaso, wan lawang ata cucu, sangged woten, agu émpon, wae tuka di (sebut nama). Ai toe di teing hang du ntaung weru olo, Aik hitu tara mangan rugi agu rabo, Nénggitu kole sangged wintuk da’at dé meu anak, One mai toe bae hiang cama tau, Lawang ase-ka’e, weta-nara, ende agu anak, agu sangged émpon. Hambor keta ata naun one lonto cama ho’o. Neka po’ongs jogot, béte nggete. Paka oke keta taungs beti nais, mose molor one lino. Mber koe taungs nengong-nangong, Du lesos saled, wa’a le waes laud. (Supaya berhentilah semua kemarahan, dengarlah baik-baik Kraeng Tu’a, demikian juga anak-anak, mulai dari yang sulung hingga yang bungsu, semua menantu, dan cucu-cucumu, anak kandungmu sendiri. Karena belum memberikan persembahan saat tahun baru yang lalu. Barangkali karena itulah sebab muncul berbagai kemarahan. Begitu juga sifat dan perilaku buruk kalian, hai anak-anak. Tersebab kalian tidak saling menghormati, antara adik-kakak, saudari-saudara, mama dengan anak, serta semua cucunya. Berdamailah yang indah dalam duduk bersama. Janganlah rasa dengki dipelihara, pupuskan sakit hati. Haruslah semua sakit hati dibuang, hidup benar di bumi. Menjauhlah semua pertengkaran, pergi bersama terbenamnya mentari, terbawa bersama air yang mengalir)

Eme landing lé hitue, ho’o lalong bakok teing hang dite: kudut widangs di’a, patis ngalis, karong salang,teing salang, kudut tompals momang, kudut widangs moncok neteng moso, tei berkak latang té meu anak dading.Kudut dani koe neteng mbaru, kudut neho pongkor eta golo moses, kudut pateng koe wa wae…Teing hang ite ga, lalong bakok. Tiba sina teing dami, kraeng Tu’a… (Jika itulah yang menjadi penyebabnya inilah ayam jantan putih untuk memberikan makan: supaya kebaikan diberikan, keluasan dibagi, jalan dibuka, jalan diberi. Supaya kemurahan diturunkan, supaya tanah memberikan hasil di setiap moso, berkat bagi semua anak kandung. Supaya rejeki ada di setiap rumah. Supaya hidup kalian seperti pongkor[17] di bukit. Supaya seperti pateng[18] di dalam air…Keraeng Tu’a diberi makan ayam jantan putih. Terimalah di sana, Keraeng Tu’a…).
Hitus de tombo ata kop, hitus de pau ata patut kudut pinga torok hitu sina, senget torok hitu le, kudut cama laing lé ase ka’e weki cama raja ce’e, manuk laing tu’ung ho’o te ho’o muing manuk ita one urak te pecing one pening. Wai déri hau manuk, bombong pésu langkas maja! (Itulah permohonan yang kami sampaikan, dengarlah hai kalian para leluhur, inilah ayam dalam kesejatiannya, nyatakanlah restumu dalam usus ayam ini!)

  1. Toto Urat Manuk
    Hati dan usus ayam diperlihatkan. Jika berbentuk lurus dan kilat-berkilau maka Tuhan dan leluhur merestui acara ini dan pihak yang sakit akan sembuh. Demikianpun sebaliknya.
  2. Helang (Memberi Makan Roh Leluhur)
    Memberikan makanan serta minuman kepada leluhur dalam sebuah piring beserta tuak dalam gelas. Bersamaan dengan itu, peserta yang hadir dalam ritus ini juga akan menyantap hidangan yang sama.
  3. Hang wie cama (Makan Malam Bersama)
    Acara ini ditutup dengan makan malam bersama. Ada kebiasaan untuk saling menasihati, menanyakan kabar anggota keluarga yang jauh atau juga membahas rencana ke depan dari keluarga besar.
  4. Beberapa Penafsiran
    4.1. Status Questionist Leluhur dan Orang Tua dalam Teing Hang
    Ada keyakinan Orang Manggarai bahwa orang yang sudah meninggal, khususnya nenek moyang dan orang tua, mempunyai relasi intim dengan anak dan cucunya yang masih hidup di dunia. Relasi itu tetap terbangun dalam semua situasi kehidupan, lebih-lebih saat anak atau cucunya mengalami penderitaan. Pihak énde-éma ata pa’ang be le, diminta bantuan untuk menjadi letang temba le ranga de Morin agu Ngaran. Adapun penderitaan tertentu juga disebabkan karena leluhur tidak diindahkan, dilupakan atau tidak dihiraukan.[19] Karena itu, mereka tersinggung (régis) dan memberikan malapetaka atau ikut serta dalam kemarahan alam.[20]
    Leluhur di satu sisi dianggap sebagai pihak yang dapat membantu dan menolong. Dia menjadi letang temba. Dia hidup di hadirat pemilik kehidupan.[21] Namun di sisi lain, dia bisa menjadi pihak pemberi bencana, kesusahan atau hal yang tidak menyenangkan bila dia tidak diindahkan.

4.2. Teing Hang sebagai Moment Rekonsiliasi
Teing Hang dibuat untuk membangun kembali hubungan yang telah retak atau rusak. Ada dua sisi. Pertama, rekonsiliasi adalah inisiatif pihak yang masih hidup. Kesadaran rekonsiliatif datang dari kesulitan hidup. Ada relasi kausal antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup dari sisi jalan keluar kesulitan-kesulitan ini.
Kedua, relasi yang benar di antara orang (anggota keluarga) yang masih hidup menjadi salah satu prasyarat pemberian restu dari leluhur. Leluhur akan menyatakan restunya, bila semua saudara-saudari, orang tua dan semua keluarga telah bersepakat dalam menyatakan intensi dalam komitmen membangun kembali hidup yang benar.

4.3. Tentang Maksud Toto Urat[22]
Adapun maksud dari toto urat sebagai berikut. Pertama, Untuk membaca baik tidaknya acara yang dibuat. Acara Teing Hang tidak sekedar sebuah ritual. Tetapi ada maksud atau pencapaian yang menjadi target. Karena itu, toto urat menjadi tanda bahwa acara in se diterima dan sesuai prosedur standar.[23]
Kedua, diterima atau tidaknya maksud atau intensi teing hang itu. Teing hang memiliki kiblat untuk menjawabi masalah tertentu. Kondisi usus ayam yang lurus-berkilau adalah tanda pengabsahan yang menegaskan bahwa maksud diadakan upacara itu direstui. Tanda itu juga memberikan kekuatan, kesembuhan dan kepastian bagi yang meminta jika nyata usus/hati ayam bertanda demikian. Ataupun sebaliknya, memberikan tanda jelek akan masa depan atau tak direstuinya maksud upacara itu.[24]
Ketiga, toto urat pada dasarnya berciri visioner, melihat sesuatu di depan. Ia menjadi tanda pendahuluan untuk mengetahui apa yang bakal terjadi pada seseorang, keluarga atau komunitas masyarakat tertentu.
Sebenarnya, toto urat adalah moment sakral karena mengandung penyampaian restu oleh leluhur. Pada saat yang sama juga bermakna “sumpah” sebab ia akan menegaskan apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Rumusannya sbb:[25]

“…..Hitus de tombo ata kop, hitus de pau ata patut kudut pinga torok hitu sina, senget torok hitu le, kudut cama laing lé ase ka’e weki cama raja ce’e, manuk laing tu’ung ho’o te ho’o muing manuk ita one urak te pecing one pening. Wai déri hau manuk, bombong pésu langkas maja…”
(Itulah niat dan permohonan kami, permohonan yang indah dan pantas, dengarlah hai kalian leluhur kami, agar kita bersatu hati, seperti persatuan nyata di bumi, nyatakanlah dalam usus ayam, lurus-kilat berkilau, kuat-perkasa dengan perbawa yang agung…)

“…..Hoog de manukn ga, adak tanda ngasang hi (sebut nama anak), ratung di’a wuwung-wali di’a cumpe. Manuk keta laing tu’ung, paka cékél ndéng-wa’i déri, bombong pésu-langkas to’ong maja…”
(Inilah ayamnya, untuk memberi nama…dalam acara membongkar cumpe. Inilah ayam dalamkesejatiannya, haruslah kuat-perkasa dengan perbawa yang agung…)

“…..Ho’o de manuk ga adak wuat dia wa’i ngo one tempat tugas cumang cama tuang boto mas agu macak lé hae atan, manuk keta laing tu’ung hau manuk paka cékel ndéng, wa’i déri, bombong pesum, langkas majam.”
(Inilah ayamnya untuk menghantar-pergikan anak kita agar tatkala bertemu dengan rekan sejawatnya dia selalu bersahaja, inilah ayam dalamkesejatiannya, haruslah kuat-perkasa dengan perbawa yang agung…)

Toto Urat kerap dinilai oleh banyak orang sebagai bentuk penyembahan berhala. Pernyataan ini menurut hemat saya lebih karena kurangnya pemahaman akan maksudnya. Pernyataan restu leluhur sebenarnya sebuah tanda akan kemampuan visioner ke masa depan. Mereka dapat melihat melampui waktu sekarang. Toto Urat juga dapat menjadi motivasi untuk orang yang mengadakannya. Sedangkan ketika tak mendapat restu, pihak yang menyelenggarakan upacara ini berefleksi dan membuat penilaian kritis atas sikap hidupnya.

  1. Rekomendasi
    Studi kecil ini membawa beberapa implikasi untuk dapat direfleksikan dalam upaya inkulturasi:
    · Untuk memahami koeksistensi Kristen dan budaya lain kita dapat kembali menengok ke zaman apostolik. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memerintahkan murid-muridNya untuk menyebarkan ajarannya sampai ke ujung bumi (Mk28, 28; Mk16, 15). Tetapi Yesus tidak memberitahukan mereka bagaimana caranya secara eksplisit.[26] Namun, pidato Santo Paulus kepada orang Yunani di Aeropagus-Athena (Kisah 17:22-33) dapat dianggap sebagai upaya inkulturasi pertama. Sekitar tahun 50, para rasul mengadakan konsili Gereja pertama, Konsili Yerusalem, untuk memutuskan apakah akan menyertakan “orang kafir” (non Yahudi) dan inkulturasi budaya non-Yahudi. Konsili menegaskan bahwa orang bukan Yahudi dapat diterima sebagai orang Kristen.
    · Inkulturasi kemudian berlanjut dalam perjumpaan Kekristenan dengan budaya lain. Gereja secara resmi mengeluarkan dokumen-dokumen yang menyokong tujuan ini dari masa ke masa.[27]
    · Ritus Teing Hang merupakan bentuk pengakuan eksistensi dan peran Allah sebagai pencipta dari ketiadaan (ex nihilo) dan peran orang tua dan leluhur sebagai co creator Allah. Manusia tidak pernah bertemu langsung dengan Allah (yang tak kelihatan), namun ia dapat menemukan Allah dalam diri orang tuanya (Mori ata ita le mata). Tanggung jawab orang tua, bahkan kalaupun mereka sudah mati, tetap dimintai anak-anak/cucunya untuk memberikan pertolongan, perlindungan, rejeki dan penyertaan. Ole karena kualitas baik yang menjadi cirri orang tua, maka mereka diandaikan telah hidup di hadirat Allah. Karenanya mereka menjadi perantara antara anak-anak/cucu dengan Allah.
    · Toto Urat dalam ritus Teing Hang dimaknai sebagai bentuk restu yang dapat terbaca untuk mengetahui maksud atau intensi yang terjawab atau tidak. Karena ini adalah tanda maka, tidak ada alasan untuk menyamakannya dengan kepercayaan yang sia-sia apalagi sebagai bentuk penyembahan berhala. Kita tahu, bahwa para nabi juga sering meminta tanda dari Allah melalui sarana alam.
    · Upaya inkulturasi, ritus teing hang dengan alasan-alasannya, merupakan bagian dari pendaratan iman atas kebudayaan Manggarai.
  2. Kesimpulan
    Ritus Teing Hang sebagai praktik keagamaan tradisional orang Manggarai memiliki nilai yang sangat tinggi. Keyakinan akan nilai itu yang membuat ia tetap bertahan dalam kehidupan masyarakat pemiliknya. Unsur itu menyata dalam penghormatan terhadap orang tua dan peran yang dapat dimainkannya.
    Orang tua memiliki posisi yang sangat penting sebagai penghubung antara anak yang masih hidup dengan Tuhan Sang Pemilik kehidupan. Melalui Ritus Teing Hang, hubungan itu tetap berlanjut pada saat orang tua sudah meninggal dunia. Ada harapan agar peran dan fungsi orang tua tetap berjalan walaupun dia sudah meninggal. Peran itu menjadi nyata dalam fungsi perlindungan terhadap anaknya yang masih berjuang di dunia ini.
    Berhadapan dengan fakta kesulitan, ritus ini memberikan salah satu tawaran jalan keluar melalui penilikan atas relasi horizontal dan vertical. Rekonsiliasi merupakan prasyarat bagi terlaksananya hubungan yang baik antar manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam. Ritus yang menawarkan sebuah alternative pemecahan untuk mengobati penyakit buruknya relasi zaman ini. Dari sisi ini, ritus ini dapat memberikan jalan untuk lahirnya sebuah inkulturasi dalam peribadatan Kristen.***
Komentar

Berita Terkait

Ruteng, Kota Natal
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang
Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terkait

Jumat, 3 Desember 2021 - 11:20 WITA

Ruteng, Kota Natal

Minggu, 24 Oktober 2021 - 17:23 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 16:54 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:52 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:34 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:03 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Selasa, 20 Juli 2021 - 11:46 WITA

Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang

Jumat, 25 Juni 2021 - 10:11 WITA

Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA