Pemuda menggagas (kembali) Kesenian Lokal Catatan Reflektif Gelar Seni Budaya Manggarai 27-28 Oktober 2015

- Penulis

Senin, 7 Maret 2016 - 16:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagaimana sebuah produk seni budaya dapat bertahan? Itulah pertanyaan awal yang muncul tatkala kenyataan menyodorkan fakta tentang terkikisnya minat kaum muda terhadap seni budaya Manggarai. Ambil misal, hingga saat ini kaum muda yang terlibat dalam permainan caci sangatlah sedikit. Caci sebagai sebuah ajang tarung lokal yang sangat kesohor dari Manggarai berlimpah makna: semangat juang, keberanian, ketabahan, pengorbanan, keindahan, ketulusan, ketelitian, kesemarakan, persaudaraan dan kebersamaan kini dilihat sebagai bentuk kekayaan masa lalu yang usang dan dihindari. Hal ini merupakan sebuah kenyataan yang memerihatinkan!


Pertanyaan tadi coba dijawab pemuda Manggarai melalui kegiatan gelar seni budaya yang telah dilakukan pada 27-28 Oktober 2015. Sebuah ajang kaum muda unjuk kebolehan melalui seminar dan pagelaran seni budaya. Catatan kecil ini lebih merupakan sebuah mimesis dan memoria untuk memulangkan kita pada kekayaan yang sudah dilangkahi, serentak kembali kepadanya untuk menemukan makna demi merajut kehidupan berbasis karakter budaya kita.

Akar Masalah
Hubungan kaum muda dan dunia seni tidaklah selalu selaras. Keterlibatan mereka dalam dunia seni terganjal banyak masalah dan tantangan. Khusus untuk kaum muda di daerah, tantangan yang dihadapi lebih sering terkait dengan daya tahan terhadap desakan pola hidup dan norma baru. Globalisasi membawa serta teknologi dan pilihan kesenian yang lebih sering bertolak belakang dengan kreasi-kreasi seni lokal. Begitu pula halnya, globalisasi menganjurkan pentingnya kalkulasi ekonomi bagi kreasi seni yang mencerabutkan gagasan kesenian lokal dari akar-akar budaya setempat. Seni menjadi barang dagangan, dipajang dan dipentas semata-mata untuk memuaskan selera pasar dan industri pariwisata. Kreasi seni lokal pada akhirnya kehilangan spontanitas, otentisitas dan cita rasa estetika itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Kapitalisasi budaya di atas dibuat makin parah dengan kurangnya perhatian pemerintah daerah dan masyarakatnya. Pemerintah daerah tidak memiliki agenda kebudayaan yang jelas dan hal ini berakibat langsung pada orientasi kesenian kaum muda di daerah. Kaum muda pelaku seni menjadi galau, merasa diabaikan, dan merasa kreasi seni yang sedang mereka lakukan tidak bermanfaat bagi masyarakat. Kaum muda akhirnya dilanda disorientasi, sebuah situasi darurat di mana pragmatisme menuntun mereka meniru perilaku modal dalam kreasi seni. Sikap apatis pemerintah daerah kerap ditandai dengan hanya memanfaatkan kreasi seni kaum muda untuk memamerkan budaya lokal pada acara-acara resmi kenegaraan tapi tidak menjadikan kreasi seni kaum muda sebagai bagian integral dari pembangunan kebudayaan daerah termasuk di dalamnya tidak ada agenda kepemudaan yang terpadu dengan sektor-sektor pembangunan lainnya.
Tantangan lain datang dari terbatasnya dukungan dan perhatian masyarakat daerah terhadap kreasi seni kaum muda. Hal ini lebih disebabkan oleh berurat berakarnya rasa rendah diri masyarakat di hadapan masyarakat atau kebudayaan yang dianggap lebih modern. Apa saja yang datang dari luar sana dianggap lebih baik, lebih maju dan lebih bernilai ekonomis. Dampaknya sangat merusak, bahwa kreasi seni lokal yang digeluti kaum muda dianggap sebagai pelarian dari ketidakmampuan menerima perubahan. Dalam situasi ini, kaum muda pelaku seni dilanda keraguan dan semakin tak percaya diri. Komitmen kian pudar dan satu per satu kelompok seni yang dirintis kaum muda berubah haluan dan bahkan semakin banyak yang membubarkan diri.

Menggagas kembali, melibatkan semua
Menanggapi kondisi tersebut, kegiatan Gelar Seni Budaya ini memandang perlunya pembaharuan cara pandang terhadap kesenian daerah dan memandang kaum muda sebagai sumber daya kesenian daerah yang sangat mendesak untuk diperhatikan. Mereka membutuhkan insentif moril agar dapat keluar dari rasa rendah diri dan memulihkan komitmen mereka bagi kelestarian dan kemajuan budaya daerah. Pentas Seni dapat menjadi ajang strategis bagi para pelaku seni daerah. Mereka dapat bersua dalam satu panggung pementasan dan mengukur sejauh mana kreasi mereka telah dan akan tetap melestarikan budaya daerah serta meramu unsur-unsur baru dari kebudayaan nasional dan dunia.
Diharapkan pula dengan penyelenggaraan Gelar Seni Budaya tersebut pemerintah daerah dan masyarakat terdorong untuk lebih pro-aktif mendukung kerja-kerja kesenian kaum muda. Pemerintah memiliki sumber daya dan otoritas yang dapat dikerahkan untuk memaksimalkan pencapaian budaya daerah. Kaum muda pelaku seni membutuhkan insentif kelembagaan agar kreasi seni mereka berada dalam agenda pembangunan pemerintah. Begitu pula dukungan masyarakat diharapkan dihidupkan kembali melalui Gelar Seni tersebut. Dukungan masyarakat sangatlah penting karena kreasi seni kaum muda lahir dan berkembang dari sejarah dan dinamika masyarakatnya sendiri. Sebuah usaha bersama melakukan pemertahanan nilai budaya, bukan hanya pada apa yang tampak, tetapi mulai dari hati yang memiliki nilai-nilai dan kebanggaan akan seni budaya.***
(Diposkan pertama oleh: www.nusalale.com pada 31/12/2015)

Komentar

Berita Terkait

Ruteng, Kota Natal
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang
Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terkait

Jumat, 3 Desember 2021 - 11:20 WITA

Ruteng, Kota Natal

Minggu, 24 Oktober 2021 - 17:23 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 16:54 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:52 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:34 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:03 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Selasa, 20 Juli 2021 - 11:46 WITA

Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang

Jumat, 25 Juni 2021 - 10:11 WITA

Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA