Ekonomi

Pembangunan Pabrik Semen, Untuk Apa?


Saat ini wacana tentang pembangunan Pabrik Semen di Lingko Lolok dan Luwuk, desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda sangat kencang, menimbulkan kekisruhan. Pertentangan-pertentangan terasa di mana-mana dalam ruang publik. Saling serang merupakan situasi yang terang benderang dipamerkan dalam perdebatan publik. Argumentasi-argumentasi yang dibangun berbasis pada kepentingan masing-masing pihak yang melatarinya.


Kedua belah pihak, pemerintah dan masyarakat memunyai konsep-konsep yang ingin dimenangkan. Di satu sisi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur (Matim) memiliki landasan pijak pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk mensejahterakan masyarakat melalui pemanfaatan maksimal potensi wilayah yang dimilikinya. Beroposisi pada konsep Pemkab, masyarakat (dengan berbagai kategori: pemilik lahan, pemerhati lingkungan, insitusi swadaya masyarakat, institusi agama dan elemen-elemen lain) terpecah belah. Ada yang menerima, tak sedikit juga yang menolak rencana itu.
Artikel ini merupakan sebuah kajian yang bertujuan membangun dasar epistemologis pilihan sikap kita dalam menganalisis kebijakan pembangunan.
Konsep Pembangunan Pembangunan daerah menjadi alasan utama dalam menentukan pilihan sikap Pemkab Matim untuk menerima tawaran investor untuk melakukan investasi. Logika yang dibangun adalah keterhubungan antara terciptanya lapangan kerja, keterserapan tenaga kerja,  pendapatan per kapita naik dan kemakmuran ekonomi menjadi muara akhir dari pembangunan itu. Logika ini merupakan sebuah upaya merealisasikan visi, misi dan program kerja dengan tujuan final (final goal) bahwa akhirnya masyarakat yang mereka pimpin mencapai kesejahteraan.
Pembangunan pada hakikatnya memiliki dua unsur penting; pertama, masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi, bersemuka dengan hal kedua, masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif dan sekaligus menjadi subjek dari pembangunan itu. Sebab, bagaimanapun juga, pembangunan tidak hanya sampai pada jumlah produksi dan distribusi barang-barang material, lebih dari itu pembangunan harus berkiblat pada pemerdekaan manusia dalam segala aspeknya. Manusia adalah dasar sekaligus alasan pembangunan sehingga segala dimensinya harus dihiraukan.Pemerintah dalam alur logis pembangunan adalah pihak yang secara legal mendapatkan mandate dari rakyat untuk memenuhi tujuan pembangunan. Ia memiliki kekuasaan yang sah (legal power) mengimplementasi program pembangunan bagi rakyatnya. Melalui legitimimasi kekuasaan itu, termasuk di dalamnya ia memiliki kekuatan yang memaksa.
Dalam wacana pembangunan mondial, muncul dua persepsi teoretik tentang perubahan sosial (social exchange) dalam pembangunan, yakni teori modernisasi dan teori dependensi. Teori modernisasi berupaya memperlihatkan kesenjangan antara Negara maju dan Negara berkembang. Solusi untuk melakukan percepatan pembangunan adalah dengan memberikan bantuan kepada Negara-negara berkembang dalam banyak hal untuk mengejar ketertinggalannya.

Setelah sekian lama berjalan, para ekonom melihat bahwa konsep ini membawa kebergantungan Negara berkembang kepada Negara maju, bahkan muncul Negara-negara yang terkebelakang (the development of underdevelopment) akibat modernisasi yang dicanangkan melalui pelbagai bantuan dari Negara maju untuk Negara berkembang. Teori Dependensi mengatakan bahwa kebergantungan terhadap Negara maju dan pemilik modal menyebabkan perangkap kemiskinan (the vicious circles) yang tak terelakkan. Karena itu, membebaskan diri dari ketergantungan adalah jalan yang harus dipilih untuk menjadi sejahtera.
Dua konsep teoretik itu diterjemahkan oleh para pengambil kebijakan baik pada level Negara maupun dalam skala kecil, di daerah-daerah.
Mencari Solusi BersamaJika ditilik, terdapat tiga kelompok yang saling memberi pengaruh dalam wacana pabrik semen di Matim. Pertama, aliran developmentalis. Kelompok ini berusaha mencari jalan keluar atas masalah perekonomian kabupaten Manggarai Timur yang masih masuk dalam kategorisasi daerah tertinggal baik Perpres nomor 113 Tahun 2015 maupun Perpes nomor 62 Tahun 2020 bersama 13 kabupaten lain di NTT. Dalam situasi ini alasan yang sangat dasariah bagi Pemkab Matim mencari segala daya upaya untuk membebaskan rakyatnya keluar dari kertinggalan. Diharapkan, dengan adanya pabrik semen ini, ada penyerapan tenaga kerja yang memberi pengaruh pada adanya pendapatan pada masyarakat.
Kedua,  aliran ekosentrisme. Aliran ini peduli pada lingkungan hidup. Pembangunan tetap boleh dilakukan asalkan tidak merusak lingkungan dan ekosistem yang ada di dalamnya. Karenanya, kehidupan yang selaras alam adalah hal utama. Diskusi pertumbuhan ekonomi bukanlah hal yang paling penting. Sektor-sektor yang harus digenjot menurut aliran ini adalah ekowisata berbasis pertanian organik.Ketiga,  aliran antroposentrisme. Aliran ini mengutamakan masa depan manusia dan turunannya. Menurut aliran ini, manusialah tujuan dan pusat pembangunan. Pembangunan tidak boleh merusak harkat dan martabat manusia. Kemajuan pembangunan tidak boleh menciderai manusia.
Apapun aliran yang memberi pengaruh pada setiap pewacanaan, pertentangan pendapat bukanlah tujuan. Diskursus rasional hanyalah medium kita mengambil keputusan yang tepat dan mengakomodir kehidupan yang layak dan bermartabat.
Dari indicator tentang daerah tertinggal yang berbasis 6 (enam) aspek, antara lain: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas dan karakteristik daerah, Kabupaten Manggarai Timur berturut-turut berada di posisi daerah tertinggal. Suatu status yang ironis dihadapan fakta tanah Manggarai Timur yang subur dan branding kopinya yang sohor.
Semua pihak seyogianya berusaha memberikan kontribusi alternatif pemecahan atas masalah kemiskinan yang akut. Pemkab Matim membenahi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan sebagai sektor unggulan yang berkontribusi dominan bagi Pendapatan Asli daerah (PAD). Lembaga-lembaga yang melakukan advokasi tidak menjadikan isu tambang dan semen sebagai lahan mengeruk keuntungan, melainkan ruang untuk mengubah ekonomi masyarakat sehingga mereka memiliki kemandirian dan kesejahteraan lahir-batin. Kekisruhan membahas rencana membangun pabrik semen di Matim menyadarkan kita bahwa pembangunan adalah usaha bersama untuk menyatukan semua energi pelbagai elemen dalam daerah, baik pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat, agar Manggarai Timur keluar dari predikat tertinggalnya dan masyarakatnya sejahtera.***

Kanisius Teobaldus DekiStaf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri
(Dipublikasi pertama oleh Harian Umum Pos Kupang, edisi Jumat, 26 Juni 2020). 

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button