P. Carolus Kale Bale, SVD: Pahlawan Kemanusiaan Manggarai

- Penulis

Rabu, 23 Oktober 2019 - 16:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kanisius Teobaldus Deki
Penulis Buku 100 Tahun Paroki Katedral, Dosen STIE Karya Ruteng

Pater Kale lahir di Paga tahun 1914. Ia berasal dari keluarga campuran Sabu-Maumere. Dia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya seorang polisi. Mereka bertumbuh dan berkembang dalam kehidupan bersahaja. Sebagai anak polisi dia mengikuti orangtuanya ke mana saja mereka pindah. Tidak banyak catatan tentang masa kecil dan pendidikan dasarnya. Saat itu seminari menengah hanya satu-satunya di Nusa Tenggara yakni di Sikka yang dimulai 2 Februari 1926. Seminari itu dipimpin oleh P. Cornelissen SVD. Dia mengenyam pendidikan di tempat itu pada 1927-1929. Selanjutnya, P. Kale melanjutkan pendidikan ke Seminari Yohanes Berchmans-Toda Belu Mataloko.

Pada 28 Januari 1941, Kale tercatat sebagai imam pribumi pertama dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero bersama rekannya P. Gabriel Manek SVD. Mereka adalah panenan perdana dari seminari tinggi itu. Sebenarnya, ada dua angkatan pertama yang juga menjadi mahasiswa calon imam di panti itu: Lucas Lusi dan Niko Meak. Lucas Lusi kemudian menjadi imam projo Keuskupan Agung Ende ditahbiskan pada tahun 1944 oleh Mgr. Hendrikus Leven SVD. Sedangkan Niko Meak meninggal sebagai frater pada 30 November 1938.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pater Kale pascatahbisan dibenum sebagai pastor di wilayah Maumere. Dia bertugas hampir di seluruh wilayah Maumere sampai Komandaru. Persis 15 Mei 1942 tiba-tiba berita sedih muncul. Semua misionaris Eropa diperintahkan untuk meninggalkan Indonesia. Pada 15 Juli 1942 terdapat 70 imam, 14 bruder dan 29 suster dibuang ke Pare-Pare oleh Jepang. Mereka hidup sengsara lara di tempat itu dan baru mengalami kemerdekaan setelah Jepang dinyatakan kalah.

Selama Jepang menjajah Indonesia itulah beberapa frater ditahbiskan sebelum waktunya: Yohanes Bala Letor dan R. Pedriko. P. Yan Bala, asal Koting-Maumere, diberi tugas untuk melayani umat di Manggarai.

Sesudah Indonesia merdeka, Pater Kale ditugaskan di Manggarai. P. Kale menjadi pastor paroki di Katedral tahun 1953. Ia melayani umat dengan sepenuh hati untuk semua aspek, bukan saja pelayanan sacramental tetapi juga memperhatikan aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Pater Kale mendirikan SDK Ruteng VI dan Panti Asuhan. “Setiap umat yang datang padanya selalu dilayani dengan baik. Mereka yang berkekurangan meminta uang dan diberikan. Dia tidak mau umat pulang dengan tangan kosong”, kesaksian seorang imam SVD tentang sosok P. Kale.

Berpikir Jauh ke Depan

Pater Kale menjadi salah satu tokoh kunci untuk pendidikan tinggi di Manggarai, khususnya dengan kehadiran lembaga Akademi Pendidikan Kateketik (APK) di Ruteng yang kemudian menjadi cikal bakal UKI Santu Paulus Ruteng.

Tatkala tahun 1959 lembaga pendidikan Kateketik hendak dibangun di tanah ulayat orang Tenda, Lingko Tubi, bersamaan dengan itu ada rencana polisi membangun asrama di tempat itu. Dengan sigap P. Kale dan tim kerjanya menjumpai tetua adat di Tenda. Dia meminta ijin untuk membeli tanah itu untuk kepentingan misi. Jadilah demikian, P. Kale membeli tanah-tanah dari pemiliknya masing-masing untuk menjadi tanah misi. Sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng, P. Kale membantu Mgr. Wilhelmus van Bekkum SVD dalam banyak urusan.

Usaha P. Kale tidak sia-sia. Tanah itu tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun sehingga menjadi tempat yang layak lagi legal untuk di atasnya dibangun rumah pendidikan tinggi yang menampung sebagian anak-anak bumi Manggarai pun Nusantara demi meraih masa depan yang lebih baik.

Kelak di kemudian hari, dia tidak hanya memperjuangkan ruang bagi bertumbuhnya generasi-generasi baru anak tanah Nuca Lale, lebih dari itu, dia mengangkat harkat dan martabat anak-anak yang tersingkir karena kehilangan orang tuanya.

Membangun Panti Asuhan

Teks Injil Lukas 11:27-28 sangat memberi pengaruh pada P. Kale. Dalam teks itu, seorang perempuan yang menjadi pendengar Yesus berteriak: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” P. Kale sudah mengikuti Yesus dengan penuh kesetiaan. Ia bukan saja menjadi pendengar. Dia adalah pemelihara Sabda. Menimba kekuatan dari Sabda dan menjalankannya dalam kehidupan kongkrit.

Di bagian lain, kisah tentang pengadilan terakhir injil Mateus 25:35-40, sangat menginspirasi P. Kale sehingga kemudian dia mendirikan panti asuhan bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongannya. Teks lengkap berbunyi demikian:

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Pater Kale mendirikan panti ini mula-mula dekat Rumah Wunut, lalu berpindah ke Kampung Maumere. Tatkala makin banyak anak yang membutuhkan pertolongan, perawatan dan pendampingan, sementara rumah itu tidak lagi dapat menampung, maka P. Kale memindahkan rumah panti ke Kampung Wae Peca-Lalong.

Selain membutuhkan tempat yang luas, P. Kale juga berpikir ke arah kemandirian. Menurut informasi yang disampaikan Bapa Musa, saudara dan rekan pengurus panti, P. Kale membeli beberapa bidang tanah, yang kemudian dijadikan sawah dan ladang. Sawah ditanami padi. Sekali panen diperoleh 6 ton padi. Itu sudah sangat cukup bagi kebutuhan anak-anak panti dari segi ketercukupan pangan. Ladang ditanami tanaman perdagangan seperti cengkeh dan kopi. Selain itu dibudidayakan juga sayur mayur untuk keperluan mereka sehari-hari.

Usaha P. Kale tidaklah sia-sia. Banyak anak panti yang dididik dan dibesarkannya bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dalam pelbagai aspek kehidupan. Mereka kini tersebar di mana-mana dalam pelbagai profesi. Mereka menjadi manusia yang lengkap oleh sentuhan kasih P. Kale dan timnya di panti asuhan Wae Peca.

Usai menjalankan tugas dari Paroki Katedral, P. Kale mendirikan paroki Ka Redong. Selanjutnya, di usia senjanya, P. Kale menepi di Panti Asuhan Wae Peca dan akhirnya meninggal pada tahun 1989 dalam usia 75 tahun. P. Kale dikebumikan di Novisiat SVD Kuwu sebagai rumah peristirahatannya yang terakhir.

Foto: Bapa Musa, rekan P. Kale.

Melanjutkan Karya Agung

Tugas dan pelayanan terhadap kelompok peripheral (terpinggirkan) ini terus dijalankan oleh para misionaris SVD dan awam yang dengan hati lapang memberikan cinta dan kasih sayang. Setelah P. Hila Gudi SVD meninggal, P. Kobus Modo, SVD meneruskan karya ini bersama bapa Musa dan tim.

Menurut catatan P. Kobus, ada begitu banyak perhatian dan cinta yang mereka terima dalam melanjutkan karya agung P. Kale. Para donator menyediakan sejumlah dana bagi pembangunan ruang baca dan perpustakaan. Pemerintah menyediakan hand tractor dan sejumlah dana sosial untuk aneka keperluan. Tak kurang juga warga masyarakat kota datang berkunjung dan mencurahkan perhatian. Ini semua adalah tanda-tanda bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan kenyataan yang tetap ada dan harus dipupuk untuk terus bertumbuh.

P. Kale sudah tiada. Namun cinta dan pengabdiannya untuk orang-orang Manggarai merupakan simpul-simpul Kerajaan Allah dalam wajah yang peduli dan rela berkorban bagi sesama yang menderita dan berkekurangan. Dengan cara ini, layaklah dia disebut sebagai pahlawan kemanusiaan bagi kita. Sebuah teladan yang mendorong kita melakukan hal serupa.

  Foto: P. Kobus Modo SVD
Jika ada yang tertarik membantu karya pelayanan untuk Panti ini dapat menghubungi P. Kobus Modo SVD: 0822-3693-9855.

Komentar

Berita Terkait

Menulis Buku, Bangun Budaya Literasi Dalam Koperasi Kredit di Indonesia
Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende
Yohanes Sason Helan, GM Kopdit Swasti Sari:Hati yang Selalu Mengabdi
Romo Edu Jebarus Pr: Sejarawan Gereja yang Andal
Dr. Max Regus Pr: Habemus Rectorem!
Caritas est Mater, Radix, et Forma Omnium Virtutum
Frans Kalis Laja: Pendobrak yang Pantang Menyerah
P. Dr. John M. Prior: Nabi yang Terus Bersuara

Berita Terkait

Selasa, 12 September 2023 - 07:48 WITA

Menulis Buku, Bangun Budaya Literasi Dalam Koperasi Kredit di Indonesia

Selasa, 15 Agustus 2023 - 19:33 WITA

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Senin, 24 Juli 2023 - 21:48 WITA

Romo Edu Jebarus Pr: Sejarawan Gereja yang Andal

Kamis, 22 Juni 2023 - 16:54 WITA

Dr. Max Regus Pr: Habemus Rectorem!

Kamis, 2 Februari 2023 - 17:36 WITA

Caritas est Mater, Radix, et Forma Omnium Virtutum

Minggu, 31 Juli 2022 - 20:43 WITA

Frans Kalis Laja: Pendobrak yang Pantang Menyerah

Selasa, 5 Juli 2022 - 13:24 WITA

P. Dr. John M. Prior: Nabi yang Terus Bersuara

Sabtu, 9 April 2022 - 13:34 WITA

Tokoh Koperasi Itu Telah Pergi

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA