Politik

Orang-orang Berjiwa Kerdil di Pilkada Manggarai 2020

(Catatan Pilkada ke-7)

Kanisius Teobaldus Deki

Beberapa waktu ini, usaha untuk memenangkan Pilkada terus digencarkan. Paslon terus mendekatkan diri ke masyarakat pemilih. Mereka tidak sendirian. Ada juga tim sukses yang berusaha secara maksimal melakukan hal yang sama. Masing-masing tim membangun simpati dan keyakinan kepada para pemilih agar Paslon merekalah yang menang. Ini adalah hal lumrah dalam dunia politik. Kemenangan merupakan hasil dari perjuangan yang maksimal.

Untuk mencapai kemenangan, kerja-kerja politik dilakukan. Salah satu hal yang dupayakan adalah melakukan kampanye-kampanye politik. Kampanye politik diniatkan agar ada pengenalan yang cukup dekat dengan paslon dan program-program strategis yang dicanangkannya jika dia terpilih menjadi bupati pun wakil bupati. Pengenalan ini bermuara pada votum (pilihan keputusan) untuk memilih paslon tertentu. Paslon yang memiliki suara terbanyak akan keluar sebagai pemenang.

Baca Juga Membaca Pidato Politik Pak Christian Rotok

Paradoks Politik

Pilkada memiliki tujuan mulia. Melalui prosesi politik Pilkada, kekuasaan akan diperoleh untuk menentukan kebijakan-kebijakan pembangunan yang tertera pada visi, misi dan program kerja, baik Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) maupun Rencana Kerja Tahunan (RKT) pada setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah). OPD-OPD (atau dikenal dengan sebutan dinas) inilah yang mengemas program untuk menjawabi kebutuhan masyarakat. Tentu, program dibangun melalui analisis mendalam atas masalah yang ada di tengah masyarakat melalui peta kebutuhan (needs mapping).

Dalam menyampaikan visi, misi dan program kerja inilah Paslon dan tim suksesnya berusaha sekuat tenaga untuk menawarkan konsep-konsep pembangunannya. Di sinilah ruang bagi banyak persoalan yang membelit semua pihak. Ada berbagai macam strategi pemenangan. Dari pilihan untuk menggunakan cara yang baik, bahkan tak jarang memilih jalan yang buruk.

Baca Juga Pilkada 9 Desember 2020 Tanpa Selek Kope

Saat ini black campaign (kampanye hitam), hate speech (pernyataan kebencian) dan hoax (berita bohong) kencang menyerang kita dari segala arah, khususnya pada media sosial. Di media sosial seperti Facebook orang dengan mudah membuat fake account (akun palsu). Mereka dengan gampang mengambil foto orang lain untuk dijadikan foto profil. Mereka begitu enteng berkata apa saja, menghina, mencaci maki, mengumbar kebencian dengan tujuan menciptakan chaos (kekacauan).

Pelaku-pelaku akun palsu ini seakan menjadi pahlawan bagi sekelompok orang yang merindukan kericuhan. Pengikutnya tak sedikit. Komentar-komentar yang menyertainya juga spontan memicu kemarahan. Ada tindakan memancing yang sudah disiapkan perangkapnya. Ada yang marah itulah tujuannya. Kemarahan yang memuncak adalah scenario yang diinginkan.

Baca Juga Homo Viator Itu Bernama Agustinus Ch. Dula: Sebuah Prolog

Sayangnya, pergerakan pelaku akun palsu ini susah dibendung. Dengan liar mereka mengekspresikan kemauannya dan mengarahkan para pembaca ke perangkap-perangkap yang sudah disiapkan. Ada banyak yang terjebak ke jeratan. Tatkala pembaca masuk perangkap, tujuan pemilik akun palsu tercapai. Balas mencaci menjadi dominan. Prosentase yang menolak status-status penuh kebencian lebih sedikit.

Jika sudah demikian, politik memiliki jalan paradoksal. Di satu sisi, ia memiliki orientasi yang mulia: dengan mendapatkan kekuasaan, pemegang kekuasaan dapat membangun kebijakan pembangunan yang bermuara pada kesejahteraan banyak orang. Di sisi yang lain, kekuasaan yang hendak diraih itu rentan dengan praktik yang melawan hakikat kemanusiaan yang benar.

Praktik-praktik penghinaan, caci maki, penipuan, hujatan hingga penyerangan secara fisik pun mental dianggap sebagai sebuah kebajikan demi meraih kemenangan. Ada situasi “homo homini lupus” dalam ungkapan Thomas Hobes. Manusia telah menjadi serigala bagi sesamanya. Ungkapan ini ada dalam karyanya De Cive tahun 1651.

Baca Juga Disfungsi Lembaga Adat Dalam Sistem Penguasaan dan Pengelolaan Tanah di Manggarai

Menjadi Pribadi Pemberani

Pembangunan seyogyanya adalah fakta tentang perencanaan, implementasi dan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai subjek sekaligus tujuan pembangunan. Perencanaan pembangunan seharushnya berbasis pada kebutuhan riil (real needs) masyarakat. Pelaksanaannyapun sudah memiliki indicator-indikator capaian yang menyertainya.

Hasilnya, terlihat dalam bentuk nyata. Pada peningkatan SDM, adanya perubahan pola pikir yang terkristalisasi pada inovasi-inovasi program pembangunan. Pada infrastruktur, jalan, jembatan, gedung, irigasi, bangunan dapat dipakai dan bertahan lama. Pada bidang pendidikan, semakin banyak masyarakat yang mengenyam pendidikan formal pun nonformal melalui pelatihan ketrampilan.

Pada bidang kesehatan, penurunan angka stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak, berkurangnya berbagai penyakit dan usia harapan hidup yang kian tinggi. Demikian pertumbuhan ekonomi dinilai dari aspek daya beli, peredaran uang, pertumbuhan modal, minimnya angka pengangguran dan besarnya kesempatan kerja. Bidang-bidang inilah yang semestinya menjadi point penilaian tentang seberapa besar pembangunan telah dijalankan sesuai tujuannya.

Tatkala fokusnya bergeser, bukan lagi pada konsep pembangunan dan rencana capaian yang mengarahkan masyarakat pada kemajuan dan kesejahteraan, maka wacana semacam itu sudah keluar dari aras yang benar. Wacana politik semacam itu sudah menista politik in se (dalam dirinya sendiri). Sejalan dengan kekeliruan arah (disorientation) seperti itu, ada kecenderungan untuk menyerang pertahanan lawan secara membabi-buta melalui media sosial dengan focus pada hate-speech, black campaign dan hoax.

Orang Manggarai dikenal sebagai ata bae tombo, pecing adak (memahami pembicaraan yang benar, memiliki nilai-nilai budaya). Politik dan percaturan Pilkada adalah Salang Tuak (situasi temporal) yang memiliki limitasi waktu. Hanya dalam tempo beberapa bulan saja. Sedangkan kehidupan kita adalah Salang Wae Teku Tedeng (kehidupan lestari, tanpa dibatasi oleh waktu) memperlambangkan kebersamaan tiada akhir selain maut yang memisahkan.

Baca Juga Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?

Atas konsep karakteristik budaya leluhur yang telah disematkan kepada setiap orang Manggarai, maka situasi politik yang penuh caci maki, hinaan, seharusnya bukanlah identitas kedirian orang Manggarai yang selalu memiliki filosofi bae hiang cama tau (tahu menghargai sesama) sebagai bentuk perlawanan homo homini lupus dari Thomas Hobbes. Sejatinya, menurut Seneca, homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya.

Tindakan pemalsuan identitas dan kedirian melalui akun palsu merupakan deviasi dari salah satu keutamaan kardinal yakni keberanian. Keberanian (courage, fortitude) dalam pandangan St. Thomas Aquinas merupakan keutamaan (virtus, arête) setelah kebijaksanaan dan keadilan. Dalam perspektif St. Thomas Aquinas, keberanian memampukan seseorang untuk melawan halangan atau rintangan yang berusaha menajuhkan dirinya dari hidup menurut bimbingan akal budinya. Keutamaan keberanianlah yang mendorong orang yang bermartabat melawan kelemahan kehendak (weakness of will) dalam melakukan hal baik.

Di perhelatan politik Pilkada Manggarai saat ini ada begitu banyak akun palsu yang menyerang Paslon H2N bersama tokoh-tokoh yang mendukungnya. Akun-akun ini secara gencar, massif mengeluarkan kata-kata penuh caci maki, hinaan dan kebohongan.

Tindakan mereka menunjukkan secara terang benderang kediriannya sebagai pribadi-pribadi yang kerdil dan lemah. Mereka seolah sedang berjuang bagi kandidatnya, padahal di saat bersamaan mereka menciderai Paslonnya. Mereka adalah tanda-tanda kekalahan peradaban Manggarai yang memiliki tatanan nilai (pecing adak).

Mereka harus dilawan dengan kasih dan pengampunan. Kasih dan pengampunan itulah yang terus dilakukan H2N dan timnya untuk mempresentasikan politik yang sejati: memenangkan kemanusiaan kita sebagai orang Manggarai dari segala aspeknya.

Jika saja, ini acara cari jodoh yang pernah ditayangkan salah satu televisi swasta, mereka datang dengan topeng. Pembawa acara meminta mereka membuka topeng. Lalu terkuaklah siapa wajah di balik topeng itu. Hari ini juga sama, dalam Pilkada ini, bukalah topengmu, berdiskusilah secara santun. Jika tidak, anda tetaplah menjadi pribadi kerdil, lemah dan penakut. Hal mana melawan citra kita sebagai Ata Rona, Laki Tu’ung keta (lelaki pemberani)!***

Kupang, 30-31 Oktober 2020

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

13 Komentar

  1. Pilkada memiliki tujuan yang sama dan akan memperoleh kebijakan dan mengembangkan dalam perubahaan masyarakat.
    Dalam menyampaikan visi dan misi berusaha untuk mengembangakan generasi.

  2. Menurut saya dalam menyampaikan visi, misi, Dan program kerja, inilah palson dan tim suksesnya, disisi lain banyak ruang persoalan yg membelit semua pihak, ada juga tim sukses yg berusaha secara maksimal melakukan hal yg sama.

  3. Pilkada merupakan jembatan rakyat untuk memilih seorang pemimpin..pemimpin yang siap melayani mereka dengan hati yang tulus dan kelak bisa mensejahtarkan kehidupan mereka
    Bagi paslon yang Kalah,kalah bukan brarti gagal akan harapan..terus berjuang…

  4. Menurut saya,Tindakan pemalsuan identitas dan kedirian melalui akun palsu merupakan deviasi dari salah satu keutamaan kardinal,yakni keberanian.Untuk mencapai kemenangan,kerja-kerja politik dilakukan.

  5. menurut pendaat saya pilkada tahun ini lebih menyudutkan pihak lain,,atau paslon lain….
    karena,begitu banyak terdengar berita berita hoax yang beredar ,,,,dan ironisnya yg menyebarkan hoaks-hoaks tersebut bukan dari mulut paslon-paslon tersebut ,melainkan dari pendukung atau tim mereka masing-masing.
    karena ulah mereka,dimasyarakat menimbulkan kubuh-kubuh tertentu,untuk saling menyerang dgn kata-kata yang tidak etis.
    Begitulah filosofi kita orang Manggarai,cepat terpengaruh dari orang lain,tanpa menyadarinya lebih dulu . Toh,Bupati yang terpilihkan Bupati kita bersama juga.
    Jadi,sebagai orang Manggarai yang cinta damai saya mengikuti alur hukum yang sah di Indonesia. Terima Kasih

  6. Politik dalam suatu pilkada adalah bukanlah salah satu tindakan yang asing lagi bagi kita.tetapi disitu kita akan melakukan pemilihan dengan hati nurani.tanpa memandang keluarga.
    Dan bagi orang yang menggunakan akun palsu untuk bisa melakukan keritikan dan menghina sebebas bebasnya diumbar dalam media sosial itu adalah tindakan dan perbuatan yang tidak terpuji.
    harapan saya bagi paslon dan para tim yang untuk tidak dapat terprofokator ole kritikan dan hinaan yang diumbar dalam media sosial oleh orang yang menggunakan akun palsu .

    Petrus sokar

  7. Menurut sayan, dalam penyampaian visi, misi dan program kerja inilah palson dan tim sukses yang berusaha sekuat tenaga untuk menawarkan lonsep pembangunan.
    Pilkada memiliki tujuan yang melalui prosesi politik pilkada, dan kekuasaan yang diperoleh unyuk menentukan kebijakan yang tertera pada visi, misi dan program kerja baik rrncana pembangunan jangka pendek maupun pembangunan jangka panjang yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Terimakasih

  8. Menurut saya dalam era politik sekarang, lebih khusus terkait pemiku dibeberapa waktu lalu usaha dan pesaing antara pasien sangat tinggi untuk menempatkan diposisi tertinggi (sang pemenang). Pertanyaan dari saya apakah dari setiap paslon yang ada tidak menerapkan kekurangan? Sebenarnya hal yang harus dibicarakan adalah kekurangan tersebut. Sekarang tidak ada politik yang luput dari” sistem money politik” ini adalah cara curang paslon atau pihak pendukung paslon untuk mengusahakan kemenangannnya,jika kita kaji lagi selama waktu pemilu,obrolan masyarakat sangat tertampak jelas dengan kedukungannya terhadap sistem tadi,karena banyak yang berpendapat ” uang lebih penting saat itu” meskipun tujuan dari pemilu tersebut adalah untuk mensejahterakan masyarakat umum yang diatas namakan dan diprogramkan oleh paslon yang menang nantinya,tetapi saat itu masyarakat hanya ingin diperhati lebih khusus dengan adanya sistem money politik. Penyebab dari ini semua adalah dari masyarakat sendiri ternyata tidak puas dan bermuka materi(harta) terkait dengan program dan kebijakan pemimpin sebelumnya yang menurutnya belum leluasa. Disisi lain juga takut akan kepemimpinan setelah pemilu yang masih sama atau bahkan kurang dari kebijakan pemimpin sebelumnya. Sejujurnya masyrakat juga ada benarnya karena beberapa waktu ini pemimpin beserta bawahannya sudah sangat cendrung dibicarakan masyarakat luas mengenai tindakan korupsi,kolusi,nepotisme (KKN) yang sebenarnya merupakan tindakan yang menurunkan kepercayaan masyarakat akan kebijakannya. Meskipun disatu sisi juga pemimpin sudah berusaha melakukan pelayanannya misalnya dalam hal infrastruktur,sama saja jika masih belum maksimal (hanya ditempat tertentu ).
    (Laurensia Jelu )

  9. Dalam penyampaian visi dan misi dan program kerja ,inilah palson dan tim sukses yang berusaha sekuat tenaga untuk menawarkan konsep pembangunan pilkada memiliki tujuan yang melalui proses politik pilkada …Kekuasaan yg diperoleh untuk menentukan kebijakan yg tertera pada visi..Misi dan program kerja baik rencana pembangunan jangaka pendek maupun pembangunan jangka panjang….

  10. Menurut saya manfaat pemilu sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat,
    Juga sarana melakukan pergantian pemimpin secara konstitusional.
    Untuk para pemilih jangan sampai tergoda dan terjebak dengan politik uang yang hanya akan menyesatkan masyarakat, karena memilih bukan berdasarkan rekam jejak calon legislatif.

  11. Kemenangan merupakan hasil dari perjuangan yang maksimal. Untuk mencapai kemenangan kerja- kerja politik di lakukan . Salah satu hal yang di upayakan adalah melakukan kampanye- kampanye politik , kampanye politik di niatkan agar adabpengenalan yang cukup dekat dengan paslon dan program program strategis yang di canangkan jika ia terpilih menjadi bupati maupun wakil bupati

  12. Di era politik zaman sekarang khususny untuk pilkada beberapa waktu yang lalu. Berbicara tentang akun palsu bukanlah hak yang baru mereka selalu beraksi ketika akan di adakan pemilu, mereka mengeluarkan caci maki kepada paslon yang berlawanan dengan mereka di media sosial tujuaanya adalah untuk membuat kubuh sebelah terpancing dan akhirnya marah dan memang itulah tujuaan mereka. Dan menurut saya itu cara paling murahan demi untuk memenangkan paslon mereka.
    Toh pada akhirnya siappun pemenang kita tetaplah masyarakat. Dan intinya pemimpin tersebut bisa memwujudkan visi dan misi mereka menuju perubahan bukankah itu yang kita inginkan. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button