Politik

Cendekia dalam Perhelatan Politik: Menjadi Nabi atau Pengecut?

Catatan Pilkada ke-6)

Kanisius Teobaldus Deki

Waktu rejim Nazi di Jerman berkuasa, Hitler menerapkan kediktatoran dan mengubah Negara itu menjadi totaliter. Hampir semua aspek kehidupan dikendalikan oleh pemerintah. Rasisme menguat, khususnya anti Yahudi. Seluruh kekuasaan terpusat pada diri Hitler dan perintahnya menjadi hukum tertinggi. Pemerintah menjadi mesin pembunuh bagi rakyatnya sendiri.

Hal paling mengerikan dari kekejaman Hitler adalah munculnya kebijakan Holokaus (ὁλόκαυστος holókaustoshólos, “seluruh” dan kaustós, “terbakar”) yakni genosida atau pembunuhan massal secara terencana, sistematis dengan target khusus masyarakat Yahudi. Korban holokaus ini tidak main-main, 6 juta orang Yahudi mati di rumah-rumah gas beracun atau kamp konsentrasi karena kebijakan Hitler itu.

Kengerian Rezim Nazi tumbang setelah Sekutu mengalahkan Jerman pada bulan Mei 1945. Kekalahan itu juga mengakhiri Perang Dunia II di seluruh Eropa. Bersamaan dengan itu, kekejaman berhenti juga. Namun luka kekejaman itu tak sepenuhnya sembuh. Dunia ingin melupakannya sebagai sejarah hitam yang tak layak dicatat.

Di tengah kengerian itu, ada pertanyaan yang tersisa mengapa kekejaman itu bisa terkonstruksi sedemikian sehingga menghancurkan kehidupan banyak masyarakat? Di mana para cendekia atau kaum intelektual Jerman saat itu? Ataukah mereka justru menjadi motor penggerak kekejaman? Pertanyaan-pertanyaan inipun menjadi pertanyaan abadi setiap kali ada perhelatan politik yang menentukan arah pembangunan. Itulah yang menjadi focus wacana dalam artikel ini. 

Nazi dan Heidegger

Filsuf besar dunia dari Jerman, Martin Heidegger sangat sohor dengan konsep-konsepnya tentang fenomenalogi, eksistensialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme. Kemampuannya yang luar biasa mengubah orientasi filsafat Barat dari pertanyaan metafisis dan epistemologis ke pertanyaan-pertanyaan ontologis.

Namun siapa sangka, Martin Heidegger bergabung dengan Nazi (NSDAP) pada tanggal 1 Mei 1933, sepuluh hari setelah terpilih sebagai Rektor Universitas Freiburg. Setahun kemudian, pada bulan April 1934, ia mengundurkan diri dari Rektor dan berhenti mengambil bagian dalam pertemuan Nazi. Walaupun demikian, ia tetap menjadi anggota Nazi sampai dirubuhkan pada akhir Perang Dunia II. Sidang denazifikasi segera setelah Perang Dunia II menyebabkan pemecatan Heidegger dari Universitas Freiburg. Disaat bersamaan melarang dia untuk tetap mengajar. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1949, melalui penyelidikan, Heidegger masuk klasifikasi Mitläufer (sesama pengelana). Dia diijinkan  mengajar lagi tahun 1951. Tak lama sesudahnya Heidegger diberikan status emeritus pada tahun 1953 dengan hak-hak terbatas.

Ada hal yang mencengangkan di sini. Mengapa orang sekaliber Martin Heidegger masuk Nazi? Keikutsertaan Heidegger dalam gerakkan Nazisme, sikapnya terhadap orang Yahudi dan posisi diamnya yang nyaris total tentang Holocaust dalam tulisan dan pengajarannya setelah 1945 sangat kontroversial. Karyanya, The Black Notebooks, yang ditulis antara tahun 1931 dan 1941, memuat pernyataan anti Yahudi. Kesan keterlibatannya dalam Nazi makin kuat karena pasca 1945, Heidegger tidak pernah menerbitkan apa pun tentang Holocaust atau kamp pemusnahan. Dalam kengerian yang ditimbulkan Nazi, Heidegger tidak pernah meminta maaf untuk apa pun. Kendati demikian, secara pribadi, dia melukiskan jabatan rektor dan keterlibatan politiknya dalam Nazi sebagai “kebodohan terbesar dalam hidupnya” (die größte Dummheit seines Lebens). Sebuah situasi yang tak habis diakhiri penyesalan.

Cendekia sebagai Nabi

Kisah Nazi Jerman dan seorang filsuf besar seperti Heidegger yang hidup dan berkarya pada zaman itu membawa kita kepada wacana seberapa besar peran para cendekia dalam membangun Negara? Arus simpulan yang sederhana bisa ditarik. Keterlibatan Heidegger saat itu menjadi antithesis dari keberadaannya sebagai seorang cendekia di tengah masyarakat. Ia seharusnya menjadi pelawan atas kebijakan pemerintah Jerman yang destuktif. Dalam bahasa kitab suci, cendekia mestinya adalah seorang nabi (prophet) yang menegaskan kebenaran dalam situasi di mana kemanusiaan diluluh-lantakkan oleh kekuasaan.

Jika menelisik sejarah bangsa Indonesia, kaum cendekialah yang berdiskusi lalu berikhtiar agar Indonesia ini bebas dari penjajahan Belanda, juga Jepang. Karya teranyar Daniel Dhakidae yang diberi judul: Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru (2003:1) mendefenisikan cendekia sebagai manusia tapal batas dalam bingkai modal, kekuasaan dan budaya wacana kritis. Ia manusia bebas yang mengkonstruksi dirinya bagi kebenaran, keadilan dan kemaslahatan banyak orang. Sikap yang dimilikinya sebagai pembaca kenyataan yang kritis, pemasok ide-ide yang membangun hingga menyediakan diri sebagai penopang demokrasi, menjadi kekuatan tanding atas kekuasaan yang cenderung otoriter dan menyengsarakan rakyat.

Kaum cendekia atau para intelektual adalah api suar di tengah kegelapan budi masyarakat yang ditindas doktrin-doktrin kekuasaan yang salah arah. Mereka adalah para akademisi, para professional, tokoh media, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat yang memiliki insight pencerahan. Dalam hal pembangunan yang sudah tidak berkiblat pada bonum commune (kebaikan bersama), mereka adalah suara-suara yang terus bergema memberi pengaruh pada pelaku perubahan untuk terus berjuang gigih. Di sinilah mereka menjadi nabi yang pantang menyerah mempresentasikan sikap kritisnya.

Universitas dan Agama dalam Konteks Politik Pilkada

Heidegger dalam kebesarannya di dunia pemikiran internasional akhirnya kehilangan pamor karena pilihan sikap yang berseberangan dengan hakikat dirinya sebagai filsuf yang seharusnya memenangkan kebenaran dan kebaikan bersama. Filsuf besar yang menulis karya sohor seperti: Sein und Zait (1927), Die Grundprobleme der Phänomenologie(1927), Vom Wesen der Wahrheit (1935) dan masih banyak yang bisa dideretkan, tetap menimbulkan luka dari sejarah karena hilangnya peran seorang cendekia dalam pergumulan kemanusiaan.

Dari alur kisah historis Heideger sebagai rector universitas dan Nazi yang melakukan kekejaman, secara kasat mata kita melihat peralihan radikal yang salah dalam keberpihakan lembaga pendidikan tinggi dalam dunia politik. Universitas, termasuk rector, dekan dan seluruh civitasnya adalah pihak yang seharusnya menjadi tonggak kebenaran. Merekalah yang diharapkan oleh civil society pihak yang menjadikan kebenaran sebagai tonggak penopang arah pembangunan dan kehidupan. Merekalah yang mengkaji tentang keberhasilan pembangunan melalui data-data yang objektif. Dan jika temuan mereka pembangunan telah keluar dari relnya, maka merekalah pihak pertama yang menyuarakan mosi tidak percaya kepada pemerintah.

Selevel dengan Universitas, institusi agama juga demikian. Merekalah yang menenun nilai-nilai kebenaran. Suara profetis mereka gemakan, teriakan sehingga kehidupan bersama menjadi sebuah perayaan yang layak untuk disyukuri. Mereka tidak bisa memilih untuk kepentingan kelompoknya, melainkan kepentingan semua. Mereka tidak bisa mematok dukungan karena pragmatisme. Karena esensi kehadiran mereka adalah membawa kebaikan. Itulah sebabnya, mereka menjadi “pemisah” di tengah situasi dan kondisi yang serba buruk. 

Ketika orang-orang universitas tidak mampu membangun disposisi batin dan politis yang benar dalam carut-marut pembangunan di daerah ini mereka adalah garam yang sudah tawar. Mereka menjadi hamba-hamba kekuasaan yang menggantungkan harga diri pada donasi pemerintah dan kehilangan kedigdayaan di tengah patokan moral yang terus disuarakan sebagian masyarakat kritis. Merekalah yang menciptakan kekelaman dalam pembangunan persis ketika masyarakat mengharapkan cahaya perubahan.

Tatkala pemimpin-pemimpin agama berdiam diri dalam ketenangan rohani semu yang berimbas kepada hilangnya kepedulian kesengsaraan dan penderitaan rakyat, mereka adalah lampu pelita tanpa minyak, listrik tanpa arus, pipa tanpa air mengalir di dalamnya, jalan raya berlubang, sawah tanpa hasil, kebun tanpa nilai rupiah dan pembangunan penuh slogan. Bersama para penguasa, mereka ikut ambil bagian dalam penciptaan kehidupan yang menyengsarakan rakyat. 

Jika demikian adanya, baik orang-orang universitas maupun tokoh agama, juga para cerdik-pandai yang kita sebut sebagai cendekia atau kaum intelektual adalah pengkhianat kehidupan. Mereka tahu bagaimana seharusnya, tetapi mereka berani menyembunyikan kebenaran dan harapan karena mereka telah berubah menjadi pengecut!*** 


Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

17 Komentar

  1. Menurut pendapat saya dalam merinci ulasan dari artikel diatas ada dua topik yang penting yaitu cendikia dalam perheltan politik nabi atau pengecut, dari sini kita bisa menarik kearah kebijakan atau kekuasaan pemerintah indonesia saat ini.Bahwa kita sebagai orang muda yang berintelektual sebenarnya mempunyai tanggung jawab besar sebagai motor penggerak atas kebijakan pemerintah saat ini ,karena pentingnya peran kaum muda yang bisa dikatakan sebagai cendikiawan harus memiliki sikap pembaca kenyataan yang kritis, pemasok ide ide yang membangun hingga menyediakan diri sebagai penopang demokrasi, menjadi kekuatan tanding atas kekuasaan kebijakan pemerintah saat ini.
    Dari artikel diatas juga bisa kita menarik kaum muda untuk berperan sebagai api suara ditengah kegelapan masyarakat.( Maria yasinta damul)

  2. Menurut pendapat saya, kisah dalam artikel menceritakan tentang bagaimana sikap pemimpin yg memanfaatkan kekuasaan yg ada utk menguasai orang lain, dimana mereka hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri, sementara rakyat/masyarakat menderita.
    Memegang sebuah jabatan, apalagi jabatan yg sangat tinggi, bukan berarti bahwa segala sesuatu itu ada ditangan kita, dan kita berhak menguasai segalanya.
    Ketika seseorang ditunjukan utk menjadi pemimpin oleh masyarakat, berarti orang tersebut sangat dipercayai oleh masyarakat tersebut utk membawa perubahan.oleh sebab itu, dalam kepemimpinan, jalankan tugas sebaik mungkin agar masyarakat tetap mempercayai anda kedepannya utk menjadi pemimpin. Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, artinya memanfaatkan kekuasaan utk menguasai orang lain.

    Jadi, pesan dari artikel tersebut adalah bahwa kita sebagai anak muda kedepannya harus bisa menjadi generasi pemimpin yg berwibawa yg TDK melihat kekuasaan dlm memimpin. Artinya kita harus bisa memimpin untuk membawa perubahan bagi bangsa dan negara, yg akan membuat negara kita semakin berkembang dan maju. Salam perubahan.(VERONIKA HARMI)

  3. Maria yufitri kasih berkata:
    25 November 2020 pukul 20:24

    Menurut pendapat saya
    Kisah dalam artikel cendekia perhelatan
    politik: Menjadi nabi atau pengecut, yaitu seorang pemimpin hendaknya memimpin seluruh rakyatnyadengan adil dan bijaksana bukanlah dengan menjadi mesin pembunuh yang dalam arti memimpin dengan kekejaman atau dengan kekerasan. Sikap pemimpin hanya memanfaatkan kekuasaan yang ada untuk menguasai orang lain, dan hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri sedangkan rakyatnya sangat menderita.
    Dalam sebuh jabatan ketoka seseorang di tunjuk untuk menjadi seorang pemimpin, orang itu hendaknya memimpin secara adil dan bijaksana bukan dengan kekerasan yang hanya menghancurkan rakyatnya sendiri.
    Jadi, pesan dari artikel tersebut yaitu kita sebagai generasi penerus bangsa, ketika kita di pilih untuk menjadi seorang pemimpin kita harus menjalankan tugas, dan memimpinlah secara adil dan jangan memanfaatkan kekuasaan untuk menguasai orang lain tetapi kita harus bisa memimpin untuk membawa perubahan bagi bangsa dan negara kita agar menjadi lebih baik kedepannya.

  4. Tidak dapat dipungkiri setelah melihat realita yg terjadi pada beberapa ratus tahun silam, bibit-bibit kediktatoran, kesewenang-wenangan kekuasaan sudah ada dan dibuktikan dari adanya kekejaman di masa pemerintahan Hitler. Meski pada pemerintahan di masa sekarang sudah tidak setransparan seprrti Hitler, tetap saja ketidakadilan berada di pihak masyarakat yg tak dipandang negara ini. Mirisnya lagi, kaum cendikiawan, kaum intelektual mengenyam pendidikan hingga tingkata yg teratas, di mana suara kalian yg seharusnya meneriakan kebenaran, keadilan dan kebaikan, keberpihakan kalian hey para kaum cendikia bagi rakat biasa?
    Ya, kita mungkin mengharapkan cendikia sebagai tonggak penopang arah pembangunan dan kehidupan. Kita boleh saja memiliki ekspektasi setinggi langit, tetapi keadaan yg terjadi punya kenyataannya. Keuntungan terselubung entah itu money politic atau lain sebagainya dari kaum cendikia ini yg sdh menutup sisi kemanusiaan mereka. Kepentingan mereka sudah membutakan mata hatinya sehingga memilih untuk menutup mata tutup telinga terhadap tangisan rakyat.
    Satu hal yg dapat dipetik dari tema “Cendikia dalam Perhelatan Politik: Menjadi Nabi atau Pengecut?” adalah jangan berharap atau menggantungkan harapanyg terlalu berlebihan terhadap mereka. 1000 janji yg mereka iming-imingkan, yg terealisasi hanya dapat dihitung dgn jari. Mereka semakin di atas, dan rakyat yg sdh susah menjadi semakin susah. Gantungkan harapan pada diri sendiri, krn apapun dan siapapun yg berkuasa tdk dapat menentukan nasib seseorang!! #salamsehat

  5. Setelah saya membaca keseluruhan artikel isi ini, akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa, sebenarnya tulisan ini bertujuan untuk membuka cakrawala berpikir kaum intelektual, cendikiawan, para akademisi, tokoh agama, kaum muda dan seluruh mahasiswa atau kaum terpelajar untuk mengedepankan kebenaran dalam menentukan sikap politik. Sebab sikap politik yg berdiri di atas kebenaran merupakan kunci maupun fondasi untuk mencapai perubahan. (Ratnasari s. Marisa)

  6. Menurut saya bahwa kaum cendekiawan juga bisa menjadi salah satu dari mereka yang bisa membuat sebuah kekacauan dalam politik,, hanya karena untuk mendapatkan sebuah kedudukan yang tinggi walaupun itu dengan cara kotor.

  7. Menurut pwndapat saya:

    Dalam hal ini pemerintah pemerintah seharusnya tidak bertindak hanya karena untuk di lihat orang saja tetapi betul-betul memeperhatikan rakyat,jangan karena memiliki jabatan yang tinggi,pemerintah bertindak sesuka hati.berpikirlah sebelum bertindak.Dan karena rakyat lah aku bisa berada di posisi seperti ini

  8. Setelah saya membaca artikel di atas.
    Setelah melihat kejadian di beberapa tahun yang silam, pemerintah Hilter sewenang wenang menguasai negara ini.
    Meskipun negara ini sekarang bukan lagi seperti di masa pemerintah Hilter,saya rasa ketidak adilan itu masih ada.
    Buktinya banyak anak terlantar,orang yang tidak melilik rumah jarang di perhatikan oleh pemerintah.jadi menurut saya kejadian pada masa pemerintah Hilter masih ada hingga saat ini

    Oleh karena itu, kita sebagai kaum mudah yang intelektual kobarkan semangat kita untuk memberantas semua kejahatan yang terjadi di negeri ini.
    Kita harus mampu menjadi lampu pelita yang tanpa minyak,listrik tanpa arus. Kita harus sama-sama memperjuangkan negeri ini demi sebuah keadilan.
    “Salam semangat”

  9. Sebenarnya pemimpin itu harus memimpin yang benar untuk seluruh rakyat yg adil dan bijakasana
    Bukanya dengan menjadi pemesin pembunuh yang arti memimpin atau kekejaman dengan kekerasan
    maka dari itu jadi pemimpin itu jangan hanya memanfaatkan kekuasaan yang ada hanya untuk mengusai orang lain jangan mementingkan diri sendiri tapi rakyatnya menderita.
    #Edeltrudis muldin
    #salamhangat
    #super

  10. Setelah saya membaca isi dari artikel diatas, menurut pendapat saya hal yang paling penting dalam artikel diatas yaitu cendikia dalam perhelatan politik nabi atau pengecut, bahwa kita sebagai anak muda yang berintelektual sebenarnya harus bertanggung jawab terhadap kebijakan pemerintah saat ini.karena kita sebagai generasi penerus bangsa yang cendikiawan harus bisa membela bangsa dan negaranya untuk mengedepankan kebenaran.(Fransiska D.S
    Mulia)

  11. Setelah saya membaca artikel diatas, dimana seorang pemimpin yang memanfaatkan masyrakatnya sendiri untuk kepentingan pribadi. Saya berharap kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa membela banga dan negara agar tidak tertindas.dan kita sebagai kaum muda yang cendikiawan harus bisa membela kesejahteraan bangsanya.(Ronaldo Joi)

  12. menurut pendapat saya setelah saya membaca artikel di atas.Meski para pemerintah dimasa sekarang sudah tidaksetrasparan seperti Hiliter,tetap sajah tidak adil berada di posisi masarakat yang tidak di pandang di mata negara ini.para kaum cendikia, kaum intentelektual mengayam pendidikan hingga tingkat atas,dimana sura masarakat yang seharusnya teriak kebenaran,kebaikan dan keadilan tetapi samah sajah tidak di hiraukan sama sekali.masarakat hanya mengharapkan Cendikia sebagai fondasi,tongkat penopang pembangunam hidup masarakat.Mereka menutup mata dan telinga mendengar dan melihat tanggisan masarakat tetapi sama sajah satu kata yang saya suka dari artiket ini adalah kata”menjadi nabi atau pengecut” kata ini yang memiliki makna yang mendalam.(Marselina Mantur)

  13. Menurut pendapat saya mengenai tema tentang Politik Cendekia dalam Perhelatan politik : Menjadi Nabi atau Pengecut.
    Yaitu pemerintah menjadi mesin pembunuhan bagi Rakyatnya sendiri,seperti dari seluruh kekuasaan terpusat pada diri Hitler dan perintahanya menjadi hukum tertinggi.Dengan demikian masyrakatnya pun menjadi korban atas kekejaman dan kejahatannya entah demi profesi atau mementing dirinya sendiri.
    Dan juga Para cendekia atau kaum intelektual jerman saat itu yang seharusnya mereka menjadi palawan atas kebijakan pemerintahan jerman yang destuktif,bukan mereka justru menjadi motor penggerak kebijakan atau kejahatan bagi rakyatnya yang menimbulkan rakyatnya terbunuh.
    Pemerintah atau pemimpin seharusnya menjadi motor atau penggerak yang baik dan bijaksana untuk melindungi rakyatnya karena rakyat yang dapat membentuk pemerintah,bukan menjadikan rakyatnya sebagai korban kejahatan dan kekejaman hingga adanya pembunuhan terhadap rakyat.

  14. Artikel yang sangat baik analisisnya untuk menggemakan keberanian demi keadilan dan terjadinya perubahan. Selain itu tulisan ini menyadarkan rasa tanggung jawab para cendikiawan untuk menjadi teladan kebenaran, keadilan demi kebaikan bersama. Sejak menjadi mahasiswa telah memiliki kepedulian akan keprihatinan – keprihatinan yang mengancam peri kemanusiaan, keadilan, perpecahan Negara rasis dll. Belajar dari realita Indonesia yang mengalami situasi terancam oleh kelompok muslim radikal, banyak cendikiawan telah lama getol menyuarakan Islam yang damai dan penuh kasih. Tetapi mereka tidak mendapat tempat di kalangan madyarakat, pemerintah dan penguasa. Tokoh cendikia seperti Siti Musda Mulia, Buya Syafi Maarif, Muhammad Quraish Shihab dll. Mereka hingga sekarang tetap memiliki ajaran agama muslim yang baik, tetapi pemikirannya tidak laku bagi para ulama yang memiliki basis masa yang banyak. Entah mengapa. Agaknya yang sangat menentukan kebijakan bagi masyarakat adalah penguasa dan para elit politik, tentu berdasarkan undang – undang yang berlaku. Para cendikia akan sungguh di terima jika memiliki hubungan atau di kenal baik oleh para elit, sehingga pemikirannya dapat bermanfaat langsung bagi situasi zaman.

  15. Setelah saya membaca isi dari artikel diatas menggerakkan kita sebagai generasi penerus untuk memperkuat desentralisasi,baik politik, administrasi maupun fisik.Tuntutan ini didasari paling tidak melalui beberapa pertimbangan.banyak permasalahan yang semuanya bermuara pada sikap mental pelaku penyelenggaraan pemerintahan daerah yang tidak memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang ditopang Juga menjalankan perilaku biografi yang karuptif di segala tindakan.(Agnes Ndelos)

  16. sebuah artikel yang menarik untuk dibaca sebagai bahan referensi baik bagi masyarakat luas maupun bagi para pemerintah yang sedang mejabat maupun bagi para tokoh tokoh yang ingin mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin.
    karena diera pemerintahan rejim nazi di jerman dimana seoarang Hilter yang sedang menjabat sebagai presiden menerapkan gaya kepemimpinan yang totaliter dimana pemerintah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat. diera pemerintahannya yang dibantu oleh seorang filsuf besar jerman martin hidreger meenjadi benteng pertahanan yang kuat, dan memperalat universitas para tokoh agama sebagai fondasi kepemimpinan Hitler yang kejam dan transparan. sama halnya yang pernah terjadi di indonesia 30 tahun silam.
    karena seperti yang kita ketahui diindonesia pernah terjadi praktik pemerintahan yang otoritarian di era orde baru dimana para tentara memiliki peran yang dominaan dan para kaum kaum elit, para cendikiawan menjadi benteng pertahan kekuasaan yang sangat kokoh. keegoisan dari seorang soeharto dimasa keepemimpinannya yang haus akan kekuasaan menetang orang yang berani mengkritik sistem pemerintahannya dan menindas masyarakat biasa. dari artikel diataan saya menyimpulkan, seorang filsuh besar dunia dari jerman Heidegger demi sebuah kekuasaan dia mengesampingkan perannya sebagai kaum cendikia dimana dia seharusnya membelah kebenaran dan mengkritik sistem pemerintahan hitller yang kejam malah sebaliknnya dia ikut bergabung bersama hilter untuk menindas masyarakat.
    Bahkan sampai dengan saat inipun diindonesia masih memiliki bibit-bibit kekuasaan yang otoriter meskit tidak setrasparan pada masa Hitler dan Soeharto.(Edawardus richardo nompa)
    #salam perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button