Berita

Menguak Teka-Teki Tanah Sengketa Labuan Bajo-Sisi Tilik Dokumen Tanah (2)

Pemda Manggarai Lalai?

Usai Bupati Gaspar menyelesaikan masa jabatannya sebagai kepala daerah Manggarai, dirinya diganti oleh Drs. Antony Bagul Dagur, M.Si. Rupanya pengurusan lanjut tanah di Karanga luput dari perhatian Bupati Anton waktu itu.

Bahkan Camat Komodo periode 1998-2003, Drs. Liber Habut, dalam sebuah dokumen Surat Keterangan bertanggal 10 April 2014 mengakui bahwa dirinya tidak pernah mengetahui dan melihat dokumen Surat Bukti Penyerahan Tanah Adat di Toro Lema Batu Kallo seluas 30ha yang diserahkan Haji Ishaka selaku Dalu Nggorang dan Haku Mustafa selaku Pemuka Adat kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. Hal ini berhubungan dengan kegiatan Camat dengan warga untuk permohonan penutupan gang di RT.006 RW.03 Ligkungan II Cempah Labuan Bajo. Pertemuan ini dilangsungkan pada 20 Oktober 1998.

Baca juga : Menguak Teka-Teki Tanah Sengketa Labuan Bajo-Sisi Tilik Dokumen Tanah

Haji Ishaka adalah seorang tokoh yang berjasa bagi Manggarai. Dalam dokumen resmi kabupaten Manggarai, disebutkan bahwa Haji Ishaka adalah Kepala Hamente Nggorang sekaligus penguasa hak ulayat atas tanah adat dalam wilayah bekas kedaluan hamente Nggorang. Sikapnya yang mudah memberikan tanah kepada berbagai pihak, khususnya lembaga, merupakan ciri khasnya. Ia memberikan banyak tanah kepada pemerintah, lembaga agama dan yayasan-yayasan. Tanah-tanah itu luas dan berkelas dengan topografi yang rata.

Kraeng Dalu Haji Ishaka, oleh karena jasa-jasanya pernah mendapat penghargaan dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Manggarai Frans Dula Burhan pada HUT Kemerdekaan RI yang ke-37 pada tahun 1982.

Baca juga: Prof. Dr. Berthold Antonius Pareira O.Carm: Selamat Jalan Elia dari Timur

Haji Ishaka kemudian meninggal dunia pada 24 Juni 2003. Berita duka berpulangnya Kraeng Dalu Nggorang Haji Ishaka disampaikan oleh Donatus Endo, staf dari Kantor Pertanahan Manggarai, dengan maksud disampaikan kepada Bupati Manggarai Drs. Antony Bagul Dagur. Dari dokumen Surat Pernyataan Petrus Tagus, diketahui bahwa Donatus Endo menyampaikan kabar duka itu kepada dirinya, lalu dia yang menyampaikan kepada Bupati Anton.

Baca juga : 50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Cosmas Djalang, Disiplin adalah Kunci Kesuksesan

Bupati Anton merespons kabar itu dan mengutus Petrus Tagus ke Labuan Bajo dengan membawa uang duka sebesar Rp.5.000.000 (Lima Juta Rupiah) yang diserahkan pada anak mantu Kraeng Dalu, Ismail Karim (Surat Pernyataan point 2-3). Dalam Surat Pernyataannya, Petrus Tagus mengakui bahwa uang sebesar Rp.5.000.000 itu bukanlah pelunasan utang yang tersisa pada Pemda atas tanah di Karanga (point 5). Itu murni uang duka penghargaan Pemda Manggarai atas meninggalnya seorang tokoh besar dalam pembangunan.

1 2Laman berikutnya

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

8 Komentar

  1. Saya tidak pernah tahu ceritanya begini.
    Cuma kasus ini mengingatkan sy tentang bbrp kasus tanah di Indonesia yg akhirnya dimenangi oleh PEMILIK TANAH tsb stlh melajukan PENELUSURAN DOKYMEN sampai zaman Hindia Belanda.

    1. Lapangan Hasibuan di Bandung.
    2. Kasus tanah di Meruya Selatan di Jakarta yg juga meliputi kantor Waliko Jakarta Barat.

    Di tingkat PK ahli waris menang.

    Mungkin mirip dgnkasus di Manggarai Barat itu.

    Jelas tanah yg di Manggarai itu tanah Ulayat. Hak utama ada Dalu.

  2. Bodohnya orang Manggarai jaman dulu biarkan saja pendatang menduduki Labuan Bajo dan pemerintah saat itu juga tidan bekerja dengan baik melindungi aset2 negara

  3. Biarlah pembaca yang ingin mengetahui soal ini membacanya di link ini. Ada banyak permintaan serupa sy tidak mengijinkannya. Salam.

  4. Selamat malam, Pak Kanisius Deki. Saya minta maaf. Saya belakangan baru baca tanggapannya atas permohonan izin saya sebelumnya. Jujur saja, setelah saya mohon izin saat itu, saya copy tulisannya lalu kirim ke Redaksi Matanews. Setelah dimuat baru saya lihat ada tanggapan pak Kanisius di kolom komentar.

    Tanpa maksud apa-apa. Saya membaca tulisan pak Kanisius seluruhnya. Pertimbangan saya, tulisan pak Kanisius sangat baik untuk mencerahkan publik yang cenderung asal komentar tanpa mengerti duduk persoalannya (terutama terhadap Bupati Mabar. Sekali lagi, saya mohon maaf. Terimakasih. Sehat selalu, Pak Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button