Membebasan Diri Dari Kelekatan Terhadap Materi

- Penulis

Senin, 19 November 2018 - 16:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto: www.sinodeGMIT.org

Cara hidup Sokrates menandaskan hal ini secara eksplisit. Dari cara hidupnya yang sederhana, meskipun sebenarnya ia termasuk golongan menengah dalam masyarakat Athena, kita bisa menemukan banyak nilai liberatif terhadap materi. Sokrates hanya mengenakan jubah yang sama baik pada musim dingin maupun musim panas, tanpa alas kaki dan selalu berpuasa. Ia tidak mau bersekongkol dengan para hakim yang ingin mengadili seorang bernama Leon dari Salamis untuk dijatuhi hukuman mati demi merampas harta kekayaannya. Sokrates juga tidak meminta bayaran atas pengajaran yang diberikannya sebagaimana ia katakan dalam Apologia,

“…And if you have heard anybody say that I profess to give instruction, and get money in that way, neither is that true; although to my mind it is very fine indeed if any one is able to instruct his fellow, as are Gorgias of Leontini, and Procidus of Ceos, and Hippias of Elis.”[1]          

(…Dan jika engkau telah mendengar seseorang mengatakan bahwa saya mengaku memberi pengajaran, dan memperoleh uang dengan cara itu, keduanya sama sekali tidak benar; walaupun menurut pendapatku sebenarnya sangat baik jikalau ada seseorang yang mampu mengajar sahabat-sahabatnya seperti Georgias dari Leontini, Procidus dari Ceos dan Hippias dari Elis.)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam banyak kesempatan lain, ia selalu berbicara tentang hidup yang ugahari, bebas dari kelekatan dan keterikatan terhadap materi. Kelepasan terhadap materi membuat jiwa manusia mampu melihat nilai-nilai yang luhur, yang adikodrati. Sokrates melihat itu lebih jauh terutama berkaitan dengan apa yang menjadi hakekat manusia, apa yang menjadi tujuan hidupnya kelak.


[1] Lane Cooper, Plato on the Trial and Death of Socrates (Euthypiro, Apology, Crito and Phaedo), (Itacha:  Cornell University Press, 1974), p. 53.
Komentar

Berita Terkait

Siapa Menciptakan Tuhan?
Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?
TERGILAS ANGKA MIMPI
Motif Tenunan, Filosofi Kehidupan dan Nilai Budaya
ALTECO DAN KEBAIKAN
Selesailah Sudah…
Opa, Bangunlah…In Memoriam Opa Teus (1)
Orang Wonda-Lio & Pandangan Tentang Roh Jahat

Berita Terkait

Minggu, 18 April 2021 - 18:24 WITA

Siapa Menciptakan Tuhan?

Minggu, 27 September 2020 - 03:23 WITA

Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?

Selasa, 26 Mei 2020 - 18:36 WITA

TERGILAS ANGKA MIMPI

Jumat, 2 Agustus 2019 - 16:50 WITA

Motif Tenunan, Filosofi Kehidupan dan Nilai Budaya

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:37 WITA

ALTECO DAN KEBAIKAN

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:26 WITA

Selesailah Sudah…

Kamis, 7 Februari 2019 - 17:21 WITA

Opa, Bangunlah…In Memoriam Opa Teus (1)

Selasa, 4 Desember 2018 - 17:46 WITA

Orang Wonda-Lio & Pandangan Tentang Roh Jahat

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA