LECTIO DIVINA Panduan Mengakarkan Sabda Dalam Kehidupan Pribadi dan Komunitas[1]

- Penulis

Sabtu, 21 Mei 2016 - 03:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

  1. PENGANTAR

“One day during handwork, while reflecting on the activity of the human mind, suddenly I saw in my mind a ladder with four spiritual steps: reading, meditation, prayer, contemplation. This is the monkitab suci’ ladder, by which they ascend from earth to heaven. It is true, the ladder has only a few steps, but it is so high that whereas its, the lower part touches the earth, its upper part penetrates the clouds and reaches Heaven’s secrets” (Guido II, the cartucian)[2]

Dewasa ini ada pelbagai upaya untuk mengakarkan sabda Tuhan. Usaha-usaha ini dimaksudkan selain agar sabda Tuhan bertumbuh dan berkembang dengan baik, juga diharapkan dapat memperbaiki ahklak kehidupan manusia. Perbaikan ahklak ini berorientasi pada perubahan perilaku ke arah yang positif. Dalam hubungan dengan gerakan mengumatkan kitab suci, menemukan metode yang baik, efektif dan berdaya guna adalah kiblat yang sedang dijadikan fokus. Pada kesempatan ini, secara khusus artikel ini membahas salah satu model pendekatan ke arah itu yang dinamakan Lectio divina.

Kajian ini lebih merupakan sebuah guide line daripada sebuah penjelasan teoretik-analitik. Itulah sebabnya gaya pembahasannya melibatkan pembaca sebagai bagian integral dari keseluruhan komunitas yang ditujui. Sebuah usaha mengikutsertakan pembaca sebagai subjek aktif dengan pemanfaatan sebutan “kita” dalam seluruh teks kitab suci. Kendati demikian, referensi utama tetap disampaikan untuk tidak menjerumuskan isi tulisan ini kepada subjektivisme penulis.[3]

Lectio divina adalah pembacaan Sabda Allah dengan penuh iman dan doa yang berpangkal pada iman dalam Yesus Kristus yang telah bersabda “Roh akan mengingatkan kamu akan segala yang telah Kukatakan dan Ia akan mengantar kamu ke dalam kebenaran yang penuh”.[4] Tujuan lectio divina adalah “belajar kebijakitab sucianaan yang membawa kepada keselamatan karena iman akan Yesus Kristus”.[5] Dalam perjalanan historisnya, lectio divina bermula dari tradisi kerahiban yang hidup di padang gurun Timur Tengah sekitar abad ke-4 dan ke-7. lectio divina kemudian berkembang terus hingga dikenal di Gereja Barat, khususnya oleh rahib Benediktin[6] kemudian oleh para Karmelit. Dalam perkembangan selanjutnya, lectio divina diperkaya oleh reflekitab sucii-reflekitab sucii biblis yang dibuat oleh Bapa-bapa Gereja yang sangat berorientasi biblis.

Latar dari kehadiran lectio divina dilukiskan oleh Karen Amstrong[7] sebagai usaha untuk mengembalikan kekuatan daya ilahi melalui permenungan kitab suci. Hal ini diperjelas oleh sejarah tatkala Agustinus dari Hippo menyakitab suciikan bagaimana kaum Vandalis menyerbu kota Hippo, membangun gaya hidup konkupisensi, yakni hasrat irasional di mana manusia lebih mencari kenikmatan duniawi daripada sukacita dalam Tuhan.[8] Hal mana patut diamini bahwa abad ke-5 hingga abad ke-9 pendalaman kitab suci hanya dilakukan di komunitas biara-biara dalam belum sampai kepada umat secara merata.

Sebutan lectio divina berasal dari kata bahasa Latin: Lectio dan Divina. Lectio berarti pembacaan, bacaan sedangkan Divina berarti ilahi.[9] Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa lectio divina adalah pembacaan ilahi atau membaca sesuatu yang bersifat ilahi. Dari uraian ini, muncul pertanyaan: “Bacaan manakah yang bersifat ilahi?” Pertanyaan ini membawa kita kepada dua jawaban berikut: Pertama, isi bacaan itu ilahi-rohani, yaitu tentang Allah dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Allah dan karya-karyaNya. Itu berarti kita membaca tentang “Yang Ilahi” yang berarti Allah telah membiarkan diriNya dibaca oleh kita dan melalui proses pembacaan itu Ia mewahyukan diriNya kepada kita. Kedua, pembacanya yang Ilahi. Itu berarti yang membacanya itulah yang ilahi. Allah sendirilah yang membaca diri kita. Isi bacaannya ialah diri kita dengan segala peristiwa dan pengalaman hidup kita (kelebihan dan kekurangan yang kita punyai). Dalam hal ini, dari kita dituntut suatu keterbukaan hati. Hal ini sangat urgen oleh karena keterbukaan dan kesediaan hati kita terhadap Allah, maka kita bisa membaca dan melihat diri kita dengan lebih baik dan jelas.
Kajian ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana membaca, merenungkan, berdoa dan berkontemplasi dengan kitab suci. Sebuah metode yang sangat baik di antara metode yang lainnya. Terdapat pula metode APA (amatilah, pahamilah dan aktualkanlah) yang tidak hanya berhenti pada pendalaman teks kitab suci tetapi juga pada implementasi.[10]

  1. PROSES LECTIO DIVINA
    Pada awalnya lectio divina adalah kesanggupan praktis yang mesti dimiliki oleh setiap rahib tanpa metode yang tetap. Lama kelamaan, lectio divina ditilik secara lebih detail dengan mempertimbangkan unsur-unsur penting di dalamnya sehingga menemukan sebuah metode tetap. Guido II, seorang rahib Kartusian, membuat penjelasan yang sistematis atas lectio divina.[11] Menurut Guido II, ada empat anak tangga kegiatan rohani untuk mencapai surga. Gambaran ini didasarkan pada mimpi Yakub di Betel (Kej 28:12-19). Keempat anak tangga itu adalah sbb: Lectio, Meditatio, Oratio dan Contemplatio. Melalui Lectio kita menyelidiki kemungkinan agar orang bisa hidup bahagia, Meditatio berusaha menemukannya, Oratio memohonkannya, dan Contemplatio mengalaminya. Lalu Guido II membuat penjelasan secara alegoris: Lectio bisa disamakan dengan membawa makanan ke dalam mulut, Meditatio adalah kegiatan mengunyah dan melumatkan makanan itu, Oratio mengenyam rasa makanan itu dan Contemplatio adalah kesedapan makanan itu sendiri.[12]

    Berikut akan dijelaskan secara berurutan keempat bagian dari Lectio divina mulai dari lectio, meditatio, oratio dan contemplatio.

2.1. Lectio (Pembacaan)
Membaca adalah hal pertama dalam lectio divina. Kegiatan utama di sini adalah membaca teks kitab suci. Tujuannya ialah supaya kita mengerti apa yang dikatakan teks kitab suci itu. Hal ini penting, terutama agar hidup kita selalu dibimbing dan diarahkan oleh Sabda Allah. Apa yang harus dilakukan agar kita dapat mengerti teks kitab suci? Bagaimana kita dapat memahami isi teks kitab suci itu? Ada hubungan yang erat antara pemahaman tentang wahyu, iman dan kitab suci. Hubungan itu merupakan cara yang menentukan agar kitab suci dimengerti, dipahami dan diperankan dalam kehidupan. Pada level ini, membaca bukan saja untuk mencari informasi tetapi lebih dari itu membina relasi.[13]

Ada tiga model pembacaan yang harus dilakukan yakni belajar membaca dengan seluruh tubuh, membaca dengan akal budi dan membaca dengan hati. Pertama: Kita perlu belajar membaca (bdk. Luk 8:18) dengan seluruh tubuh kita. Teks kitab suci itu dibaca dua-tiga kali disertai dengan adanya pause singkat di antara bacaan tersebut, memberikan perhatian pada kata-kata atau kalimat yang menarik, menyentuh atau menantang. Ada harapan agar apa yang diucapkan oleh mulut, bergetar dalam telinga, menggema dalam hati. Selain itu, kita bisa menulis kembali teks kitab suci yang menjadi bahan lectio divina dengan maksud agar memudahkan ingatan kita sendiri.
Kedua: Kita membaca teks kitab suci dengan akal budi. Fokus dari bagian ini ialah kita melihat mana pernyataan-pernyataan utama, siapakah yang berbicara atau bertindak, apa yang dikatakan atau dilakukan, pada siapa, mengapa, di mana, kapan, dst. Kita masuk ke dalam teks seraya berusaha memperhatikan kata-kata atau kalimat-kalimat dengan teliti. Hal yang harus dihindari adalah ketergesaan. Sikap tergesa-gesa membaca, menyulitkan dirinya dan orang lain untuk memahami apa yang dibacakannya. Selain itu, ketergesaan waktu membaca seperti itu sudah menunjukkan juga kurangnya pemahaman, penghargaan dan penghayatannya terhadap Sabda Tuhan.
Ketiga: kita membaca dengan hati. Aspek paling utama dalam bagian ini adalah membaca dengan penuh kasih, kerinduan, keterbukaan hati dan iman untuk menerima anugerah Allah. Hal seperti ini sangat membantu kita untuk memahami dan menerima, menghayati dan menjadikannya sebagai sumber dan pedoman hidup kita.
Membaca sangat mendasar dan berperan sangat penting dalam lectio divina. Karena itu dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan Lectio. Ada dua nilai yang diperoleh pada tahap ini. Pertama, untuk mengadakan lectio perlu kerendahan hati, kesabaran, keterbukaan dan ketekunan. Allah mendidik kita juga lewat kelemahan-kelemahan kita, tetapi juga lewat ketekunan, kesabaran dan kehendak yang kuat untuk melaksanakan isi kitab suci. Usaha yang terus menerus dalam membaca sampai memahaminya, sudah merupakan suatu kebajikan kristiani yang amat berharga. Kedua, jika terdapat hal-hal yang tidak dimengerti bisa ditanyakan kepada orang lain (para ahli) atau mencari bacaan-bacaan yang berbicara tentang hal itu. Harus ada kemauan kuat untuk berkembang dalam banyak aspek kehidupan (hal-hal positif); kita perlu mencari dan mencari sampai menemukan (bdk. Mat 18:12, Luk 15:3-7).

Capaian yang harus dimiliki dalam level ini adalah adanya pengertian tentang kata-kata, kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan kunci yang menjadi benang merah penghubung cerita. Selain itu, kita berusaha menemukan struktur atau susunan teks kitab suci, tema-tema utama, simbol-simbol, gaya cerita, dan konteks ceritanya. Untuk menemukan hubungan yang aktif, kita berusaha mengidentifikasi diri kita dengan para pelaku dalam cerita (kalau ada) dan mengapa demikian. Inilah yang oleh Paus Pius XII, Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik sebut sebagai pendekatan konteks tual kitab suci.[14]
Untuk menghadapi pelbagai kelemahan dalam membaca ini, terdapat beberapasikap yang harus dihindari antara lain fundamentalisme, individualisme, rasionalistis dan sekularistis. Keempat sikap itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, sikap fundamentalistis.[15] Sikap yang terlalu harfiah dalam menafsir atau memahami satu teks kitab suci, dan terlalu kaku / tertutup untuk menerima hal-hal baru yang mempunyai makna yang penting. Kitab suci memiliki banyak bahasa simbolis, karena itu kita harus memahaminya secara simbolis.

Kedua, sikap individualistis. Sikap yang mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan bersama, komunitas atau gereja. Kitab suci ditulis dengan tujuan membangun kehidupan komunitas, umat atau Gereja. Penghayatan hidup iman atau rohani bukan saja berarti kita harus memelihara hubungan pribadi kita dengan Tuhan tetapi juga hubungan personal dengan sesama. Orang yang (amat) individualistis tidak disukai oleh Tuhan dan sesama.

Ketiga, sikap rasionalistis. Sikap yang hanya terbuka menerima hal-hal yang bisa masuk akal, yang bisa dipahami dengan rasio. Karena itu, hal-hal yang tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti secara rasional, ditolak dan bahkan sering menjadi bahan ejekan. Dalam KITAB SUCI ada banyak hal yang tidak masuk akal, namun nyata dalam pengalaman hidup dan sering sangat membantu orang dalam usaha menghayati iman dan kasih, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama.

Keempat, sikap sekularistis. Sikap yang menolak keterlibatan Tuhan dalam perjalanan hidup manusia. Menurut orang-orang sekularistis, Allah lepas tangan sesudah menciptakan alam semesta ini. Padahal sebetulnya, kitab suci juga berbicara tentang keterlibatan Allah dalam hidup konkrit manusia.
Pada akhir dari seluruh proses membaca, pertanyaan dasar yang harus dijawab pada akhir proses membaca adalah: “Teks kitab suci itu berbicara tentang apa kepada saya?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

2.2. Meditatio (Permenungan)
Setelah melalui proses membaca, kita melangkah ke tahap beriukutnya yakni meditatio. Dalam tahap ini kita berusaha menemukan relevansi teks kitab suci itu bagi diri kita. Sesungguhnya cerita atau peristiwa kitab suci yang kita baca itu adalah juga cerita atau peristiwa yang sedang terjadi pada diri saya, kita, keluarga, Gereja, sekarang ini dan di sini (hic et nunc). Kita berusaha menemukan nilai-nilai hidup yang permanen dan tetap aktual dari generasi ke generasi atau zaman lampau, kini dan nanti.
Dalam tahap ini kita berusaha mendengarkan Tuhan. Dia berbicara kepada kita tentang diri kita yang sebenarnya. Dalam suasana dialog, kita boleh mengungkapkan apa saja (susah, senang, keluhan, pujian, permohonan, dll) kepada Tuhan. Pertanyaan pokok di sini: “teks kitab suci berbicara apa tentang diri saya?”
Untuk mengadakan meditatio ini diperlukan:

  1. Ingatan atau imaginasi tentang pengalaman masa lampau. Kita bernostalgia tentang pengalaman itu: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyakitkan.
  2. Identifikasi diri kita dengan para pelaku dalam cerita kitab suci. Sejauh mana pelaku itu cocok dengan kita? Rasakanlah sapaan dan pesannya buatmu.
  3. Usaha anda untuk menemukan dan merasakan adanya perubahan dari satu situasi ke situasi lain, misalnya: dari rasa kecewa, putus asa menjadi senang dan memperoleh peneguhan, ataupun sebaliknya.
    Berusaha agar tegas menentukan sikap-sikap, bisa berlangkah maju tidak sampai “terhanyut” dalam pengalaman-pengalaman konkrit.

2.3. Oratio (Berdoa)
Langkah ketiga adalah oratio. Jika kita menyimak seluruh proses, sebetulnya sejak awal lectio divina sudah ada doa atau suasana doa. Namun yang diutamakan pada tahap ini adalah kita berusaha mengungkapkan doa-doa kita berdasarkan bacaan dan renungan kita tadi. Jadi, di sini kita secara pribadi menyampaikan doa-doa kita.
Berdasarkan doa-doa pribadi tadi, maka sekarang kita beranjak ke doa universal. Di sini kita berdoa bersama seluruh Gereja atas cara yang sama. Kita berdoa bukan saja untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang-orang lain yang kita jumpai dalam meditasi kita tadi.

Terdapat tiga jenis doa yakni doa syukur atau terima kasih, doa pujian dan doa permohonan. Ketiganya dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, Doa Syukur-Terima Kasih. Kita bersyukur atas segala sesuatu yang telah kita peroleh baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan namun punya makna penting bagi kehidupan kita. Misalnya: Maz 21; 40 ; Yun 2:1-10.
Kedua, Doa Pujian. Kita memuji Allah atas keagungan dan kasih setiaNya kepada kita dalam diri Yesus Kristus. Misalnya: Maz 148-150. Ketiga, Doa Permohonan. Kita memohon bantuan Tuhan agar berhasil dalam karya dan dapat menyenangkan sesama. Kita juga mohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa yang telah kita perbuat. Misalnya: Maz 35; 38; 41; 44; 51. Kita berdoa juga agar kita sanggup masuk ke tahap contemplatio.

2.4. Contemplatio (Kontemplasi)
Langkah terakhir dalam lectio divina adalah contemplatio. Contemplatio sebetulnya merupakan momen pasif dari keintiman hubungan pribadi kita dengan Tuhan yang kita jumpai dan alami. Kalau pada tahap Lectio dan Meditatio, kita mendengarkan Allah secara aktif, maka sekarang dalam tahap ini, kita berusaha diam, membiarkan diri kita diisi oleh Allah. Kita membiarkan Tuhan masuk dan menguasai diri dan hati kita. Di sini kita merasakan keintiman hubungan pribadi kita dengan Allah, bukan lagi berdasarkan rasio melainkan bertumpu pada hati. Kita mengalaminya dalam arti (bdk. Pengalaman Petrus, Yakobus dan Yohanes di puncak gunung Tabor: Mat 17: 1-13/ teks kitab suci parl).

Contemplatio adalah juga rahmat Allah. Seorang kontemplatif hidup dalam Allah. Dia mencari sampai menemukan Allah. Dia berusaha melaksanakan kehendak Allah. Dia memikirkan perkara-perkara di atas/ Ilahi dimana Kristus ada (bdk. Kol 3: 1-3). Hal itu tidak berarti bahwa orang tersebut jauh atau berusaha menjauhkan dirinya dari dunia dengan segala macam persoalannya. Dia tetap berjuang dan berkarya di dunia, tetapi dia melihat segala sesuatu menurut hati dan kehendak Ilahi (bdk. Mat 16: 23; Mrk 8: 33).
Keempat anak tangga lectio divina ini merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, seperti yang terungkap dalam suatu rumusan klasik, yaitu: “Legendo oro, orando contemplor”, artinya: “Saya membaca untuk berdoa, dan dengan berdoa saya berkontemplasi”.

  1. HASIL YANG DICAPAI
    Proses Lectio divina yang dijalankan dengan setia akan menghasilkan buah-buah rohani seperti consolatio, discretio, deliberatio dan actio. Keempat hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
    Pertama, Consolatio. Kita akan mengalami kegembiraan atau suka cita rohani, hiburan dan peneguhan. Kita bersukacita karena kita telah menemukan apa yang terbaik di dalam relasi kita dengan Sang Sabda lewat lectio divina.

    Kedua, Discretio. Kita akan memiliki kepekaan rohani. Kita dibantu untuk melihat dan membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar, yang baik dari yang tidak baik, yang perlu dari yang tidak perlu. Kita menjadi peka terhadap hal-hal yang terjadi dan terhadap orang-orang di sekitar kita, khususnya terhadap tanda-tanda zaman, terhadap perasaan, kebutuhan dan harapan mereka. Kepekaan ini bermuara pada tindakan konkrit untuk membantu mereka.
    Ketiga, Deliberatio. Kita akan memiliki putusan atau pilihan konkrit sesuai dengan kehendak Allah. Kita dibantu untuk berani membuat keputusan atau pilihan yang penting. Kita hanya bisa membuat pilihan atau keputusan yang tepat, kalau kita membiarkan diri diisi dan diperkaya oleh Allah (Mat .
    Keempat, Actio. Kita akan memiliki aksi yang merupakan tindak lanjut dari pilihan atau keputusan yang telah kita buat. Aksi ini sangat penting. Yesus dalam kitab suci misalnya menegaskan hirarki tindakan: membaca, merenungkan, berdoa adalah sikap yang benar, tetapi jauh lebih benar adalah orang yang mendengar lalu melaksanakannya dalam kehidupan nyata (Mat 12:50, Mat 7:21).

4.TEKS KITAB SUCI LECTIO DIVINA[16]
ELIJAH: YAHWEH IS GOD
Read: 1 Kgs 18:1-46

  1. Invocation of the Spirit.
  2. Read 1 Kgs 18:1-46.
  3. An explanation of 1 Kgs 18:1-46:

The main scene of the chapter is the sacrifice on Mt. Carmel (vv. 20-40). An extensive introduction precedes it (vv. 1-19), and a brief narration describes the effects of the people’s conversion which is the climax of the central scene.
The inclusion of vv. 1 and 45 reveals that rain is the ground of the confrontation. Behind the problem of rain lies that of who is able to send it. When the Israelites arrived in Palestine they were semi-nomadic shepherds. They believed Yahweh was a God of shepherds, who protected their migrations showed them the way and saved them during tribal fights. When they settle in Canaan, they mingled with the farmers. Many of them could not understand how a God of shepherds could help them cultivate the land, provide rain and guarantee favorable seasons. Gods were classified. Let us not forget that we discover God by analogy. Our concept of God depends on what we able to do. What does Yahweh, the warlike God know of agriculture? The Baal’s are indeed the masters of the land. They are the ones who make the land fertile. From here sprung the confrontation between the warrior-God and the farmer-God. Fertility was at stake. Yahweh continued being the people’s God, but the one who satisfied their primary needs was Baal (Os 2). When the Israelites obtained them, they did not thank to Yahweh, but Baal; when they lacked these needs or when the very poor harvest, or a period of drought were at hand, instead of resorting to Yahweh, they invoked Baal. In any other culture, in the midst of religious syncretism, it would have been normal for the divinities to be very tolerant. But, Yahweh is a jealous God. The issue is not which of the two gods is the strongest, or who is the master of the mountain or of the plain, but who of the two is God.

Let us briefly at the characters who appear in our story and point out the reality hidden behind them. If we believe the Latin saying “nomen est omen” (the name is an omen), we observe that the names used to indicate God outline the area where our confrontation takes place: Elijahu (God + first person pronoun + Yahweh), Jezabel, Ithobaal’s daughter (prep. + 3nd person pronoun + Baal). Yahweh is my God / Baal is with him. If the name is an omen of what each reality conceals, in our text we move between two realities. Yahweh is my God and Baal is with him. Once again the theophany consist in the revelation of the name: Yahweh is God. Elijah: Yahweh is God 1 Kgs 18:1-46.

vv. 1-19. In 1 Kgs 16:29-34 we notice king Acab’s main sin: he married Jezabel, the daughter of the King of Sidon. Marrying her meant marrying her god, her culture and her traditions. From Sidon the cult of Baal Melqard was imported to Mt. Carmel. After the announcement (v. 1) Elijah behaves according to God’s instructions, (v. 2). The author introduces two men: Acab and Abdiah (Yahweh’s servant), who follow different paths not only because they go looking for grass the horses of the king’s army, but also because Abdiah fared God (v. 3), while Acab had abandoned God’s path and follow Baal (v. 18). Elijah come from Galaad region, east of the Jordan, a region that had never been occupied by the Canaanites. There Yahwism was kept intact without the syncretism that the other side of the Jordan had known. Elijah was not the only one who was against religion syncretism. At that time, there was a group known as the Rechabites (see Jer 35:1-11) who refused to face the challenges of the present in order to safeguard the past and could not build the future. On the contrary Acab was sacrificing the values of the past in favor of the present, dreaming of a glorious economical and political future for his kingdom. Elijah offered a third solution. Without being a conservative like the Rechabites who took shelter in the desert to flee from the temptation of Baalism, he was open to the new situation. If Israel would have wanted to follow the different path indicated by Acab, it could have had marvelous future together with the other nations, but it would not have been Israel, God’s chosen people. Elijah adapts the old traditions to the new situations, so that Israel can have its place among the nations and yet keep intact its characteristic of the covenant.[17]

vv. 20-40. The choice of Mt. Carmel for the confrontation was not casual. In the history of religious mountains often played an important role. There are sacred mountains all over the world. In ancient religions space was considered more for its characteristics than for its extension or geographical position. There, on the top of the mountains the gods met. What an individual or a community experienced in a particular place determined its value. The mountainous chain of Carmel was the borderline between Israel and Phoenicia. Approximately until 1000 B.C.E., Mt. Carmel, with its shrine dedicated to Baal, was not part of Israels’s territories. Conquered during David’s and Salomon’s reign, it became the seat of Yahwistic sanctuary, but it could not extirpate the Baal religion. The two religions coexisted on Mt. Carmel until the altar dedicated to Yahweh (v. 30) was destroyed. Mt. Carmel symbolized what was happening in Israel.

“How long will you keep hopping first on one leg then on the other?” Following a God meant accepting his religion. The Israelites are limping because at times they follow Yahweh and at times Baal. The people expect an answer (v. 21, 24, 26, 29, 37). The noun qol, in Hebrew means “voice”, but also “lighting”, “thunder”. The sound of thunder would announce the beneficent rain. One of Baal’s attributes is that of being the Lord of lighting, another one is that he is the charioteer of the clouds, who, from his chariot, throws thunderbolts on earth showing the power of the tempest. Or will perhaps Yahweh send fire, a ray from the sky, and make his voice heard? The prayer of Baal’s prophets is different from Elijah’s. The former dance and shout: “Oh Baal, answer us! But there was no sound, no answer” (v. 29). Instead, as soon as Elijah addresses God, he brings down the rain (vv. 36-38). The climax of the confrontation is the people’s conversion (v. 39) and the assassination of Baal’s prophets, not as a sign of vengeance, but of obedience to the law of Ex 22: 19-20, according to which those who sacrifice to other gods must be killed.

vv. 41-46. Elijah invites Acab to celebrate because once the people have been converted, God will send rain. The seven times Elijah sends the boy towards the sea to catch a sign of the rain show the prophet’s trust in the words he pronounced: “I will send the rain on the earth”. When rain falls, Elijah runs in front of Acab as the knights used to do in front of the king to announce the victory; the only difference is that the victory doesn’t belong to the king but to Yahwism, to Elijah and to the people.

COMPARE the text with 1 Kgs 19:9-15. Another voice from God resounds in Elijah’s life. A gentle breeze: in Hebrew, “qol demamah daqqah” literally translated as “voice of gentle-calmness”. The Hebrew word indicating calmness comes from the root “damah” that means to stop, to stay still, to keep quiet. The gentle breeze must not be taken in the romantic sense of a gentle evening breeze but as something that suddenly erased everything Elijah had thought and lived up to that time.

  1. Elijah experiences that God is “free”! God does not obey to Elijah, that is, he does not feel compelled to obey the criteria that tradition has established so that the people could recognize and verify his presence. He does not show himself neither in the tempest, nor in lighting nor in earthquakes. You can never know how God manifest himself?
  2. There is a contradiction between Elijah’s answer (I am the only one left) and his lived reality, between his speech and his action, marked by pessimism. According to his words he is the only one who keeps defending God; v. 18 tells us that there are seven thousand people who have not bowed down before Baal. Elijah is not objective in his analysis of the situation. Elijah experiences that God does not depend upon his defense! In spite of the destroyed altars, the broken covenant and the killed prophets, God’s cause was not lost. On the contrary! It is not Elijah who protects God, but it is God who welcomes, supports and defends the poor Elijah. It is this certainly that fills the prophet with courage.
  3. Elijah experiences God’s total gratuitousness and his presence! He let God be God! He contemplated reality with new eyes. Through purification, he recovered the freedom of action.
  4. Meditate on the text again. Examine in through and through. Look for parallel passages in the Bible. Try to find Christ prefigured in Elijah’s life! What does the text tell you about yourself? How does is resound in the story of your life?
  5. Pray with the text. Answer God with praise, than giving and supplication. Address God with his own words. Psalm 8. The Power of God’s NAME.
  6. Read the text again realizing it. Reading of 1 Kgs 18:1-46.
  7. “The Word is close to you, it on your lips and in your heart”. Treasure every word or sentence keep it in your mind. Contemplated the word with God’s glance.
  8. Our Father.
REFERENSI


Alexander, Vella, “Elias profeta en el libri de los Reyes” dalam: Programa de estudios sobre
la espiritualidad eliana de la Orden Carmelitana, Roma: Ed. Carmelitanae, 1994.


Amstrong, Karen, Alkitab, terj. Frans Borgias. Jogkarta: Mizan, 2013.


Betan, Alfons, “Lectio divina” Bahan Kuliah Kitab Suci, Maumere: STFK Ledalero, 1999.


Borgias, Frans, Agustinus. Jogjakarta: Kanisius, 2000.


Carlos de Mesters  (terjem. Piet Go), Lectio Divina. Malang: Dioma, 1995.


Deki, Kanisius Teobadus, Transformed in the Likeness of God.  Haifa-Israel:
Carmelite Edition, 2000.


Kahya, Kono B., Merasul Dengan Alkitab-Pelbagai Cara Pendalaman Alkitab, Malang:
Dioma, 2004.


Leks, Stefan, Mempelajari Alkitab Secara Pribadi-Sebuah Pegangan, Jogjakarta:
Kanisius-LBI, 1987.


_______, Sabda Tuhan dan Pembacanya, Yogyakarta: Kanisius, 1993.


Lukefahr, Oscar, A Chatolic Guide to the Bible, terj. V. Prabowo, Jakarta: Obor, 2007.


Suharyo, I., Membaca Kitab Suci-Paham-paham Dasar. Jogjakarta: Kanisius-LBI, 1991.
.

[1] Makalah ini pernah dipresentasikan di Komunitas Putri Kebijaksanaan 24 Agustus 2014

[2] Kanisius Teobaldus Deki, Transformed in the Likeness of God,  Haifa-Israel: Carmelite Edition, 2000, hal. 24-26.
[3] Sumber terbanyak tulisan ini berasal dari: Carlos de Mesters  dan diterjemahkan oleh Piet Go, Lectio Divina, Malang: Dioma, 1995, hh. 1-30 dan Alfons Betan “Lectio Divina” Bahan Kuliah Kitab Suci, Maumere: STFK Ledalero, 1998, hal. 1-10. Sumber lain melengkapi dua sumber itu.
[4] Bdk. Yoh 14:26; 16:13.
[5] Bdk. 2 Tim 3:15.
[6] Karen Amstrong, Sejarah Alkitab, terj. Frans Borgias, Jogjakarta: Mizan, 2013, hal. 157-185.
[7] Karen Amstrong, op.cit., hal. 157.
[8] Bdk. Price, Agustinus, terj. Frans Borgias, Jogjakarta: Kanisius: 2000, hal. 89-94.
[9] Kono B. Kahya, Merasul Dengan Alkitab-Pelbagai Cara Pendalaman Alkitab, Malang: Dioma, 2004, hal. 186. Karen Amstrong, op.cit, p. 159.
[10] Tentang hal ini akan dibahas pada kesempatan lain. Untuk pendalaman lihat: Stefan Leks, Mempelajari Alkitab Secara Pribadi-Sebuah Pegangan, Jogjakarta: Kanisius-LBI, 1987, hal. 31-81.
[11] Penjelasan Guido II dialamatkan kepada Gervatius, rekan seordonya dalam surat yang diberi judul: “Surat tentang Hidup Kontemplatif” atau kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Tangga para Rahib”.
[12] Jika merunut sejarah, Origenes pernah menyampaikan apa yang dinamakannya sebagai “penafsiran rangkap tiga” yakni penafsiran menurut makna, moral dan alegori. Namun dalam perkembangan lanjut, Origenes menambahkan penfasiran anagogis atau pengungkapan makna mistikal yang menyingkap makna eskatologis dari sebuah teks. Lihat: Karen Amstrong, op.cit., hal. 158.
[13] I. Suharyo, Membaca Kitab Suci-Paham-paham Dasar (Jogjakarta: Kanisius-LBI, 1991), hal. 17-18.
[14] Oscar Lukefahr, A Chatolic Guide to the Bible, terj. V. Prabowo, Jakarta: Obor, 2007, hal. 34-35.
[15] Stefan Leks menjelaskan sikap ini dalam uraian yang cukup panjang sebagai paham yang cenderung untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal. Kelemahan terdasar dari kelompok fundamentalisme adalah perhatian yang berlebihan pada sistem ajaran keagamaan ciptaannya sendiri, sementara kritik yang terlontar adalah ajaran adalah sarana, bukan tujuan. Bdk. Stefan Leks, Sabda Tuhan dan Pembacanya, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hal. 138-154.
[16] Bdk. Kanisius Teobaldus Deki, Op. Cit., hal. 24-26.
[17] Bdk. Alexander Vella, “Elias profeta en el libri de los Reyes” dalam: Programa de estudios sobre la espiritualidad eliana de la Orden Carmelitana, Roma: Ed. Carmelitanae, 1994, hal. 51-76.

Komentar

Berita Terkait

50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Cosmas Djalang, Disiplin adalah Kunci Kesuksesan

Berita Terkait

Sabtu, 9 Januari 2021 - 21:11 WITA

50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Cosmas Djalang, Disiplin adalah Kunci Kesuksesan

Sabtu, 21 Mei 2016 - 03:56 WITA

LECTIO DIVINA Panduan Mengakarkan Sabda Dalam Kehidupan Pribadi dan Komunitas[1]

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA