Kajian BudayaManggarai

Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Kanisiusdeki.com – Pengalaman hidup manusia tidak selalu menyajikan kisah hidup yang menyenangkan dan indah. Jikalau kita mampir ke laman media sosial seperti facebook, sangat terlihat serba-serbi kehidupan: bahagia atas kelahiran anak, berseri-seri karena keberhasilan, syukur karena dibebaskan dari kesulitan dan keselakaan pun tak ketinggalan duka mendalam karena sakit dan kematian, kekecewaan karena diperlakukan tidak adil dan dipinggirkan.

Ekspresi atas pengalaman itu bermacam-macam. Kebahagiaan ditampilkan secara gamblang melalui kata-kata puitik, alunan musik dan melodi serta emoticon-emoticon yang kini menjadi bahasa baru dalam komunikasi sosial. Pengalaman derita diungkapkan dalam doa, kemarahan dan bahkan caci maki. Semua itu menjadi ekspresi yang biasa, normal dan tak terhindarkan.

Baca Juga : Tombo Adak Orang Manggarai
Baca Juga : Fokus Manggarai: Wisata Budaya dan Religi

Dalam tradisi budaya Manggarai, ekspresi-ekspresi semacam itu juga terlihat dalam banyak hal. Utamanya secara gamblang ditampilkan dalam doa-doa. Doa Torok diungkapkan secara resmi, formal, elegan dan gagah. Doa Torok dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa besar kehidupan yang terungkap dalam ritus-ritus adat yang sudah diwariskan: sejak manusia dalam kandungan, kelahiran, memulai pekerjaan dan perjuangan, kematian hingga pascakematian. Doa Torok diungkap dalam upacara komunal dengan komunitas sebagai saksi. Ia memiliki dimensi sosial.

Selain Doa Torok dengan komunitas sebagai rumahnya, ada juga Doa Keng sebagai ungkapan privat individu ketika dia mengalami berbagai peristiwa kehidupan, khususnya penderitaan. Ketika orang Manggarai mengalami kesukaran dalam hidupnya, khususnya karena kesulitan itu datang dari luar dirinya, muncullah Doa Keng.

Kata Keng sering dipadankan dengan kata kinda: keng agu kinda. Dalam Kamus Bahasa Manggarai hasil karya P. Jillis Verheijen SVD, kata keng dan kinda memiliki arti doa permohonan.[1] Artikel ini membahas zits im leben dari Keng dan korelasinya dengan situasi ketidakadilan.

1 2 3Laman berikutnya

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

4 Komentar

  1. Terima kasih ase…
    Luar biasa e… tulisan tentang ‘keng’ sangat baik sebagai cara mewariskan budaya Manggarai ke generasi penerus…
    Hanya sekadar diskusi… apa keng itu ada semacam doa tersendiri… atau sudah terintegrasi dalam torok2…
    Kalau ada ada yang tersendiri, baik juga kalau ada contohnya… 😁🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button