Agama

KADERISASI YESUS Sebuah Tinjauan Biblis

Kanisius Teobaldus Deki M.Th
Dosen STIE Karya, Menulis buku: “Membangun Kerajaan Allah-Membentuk Komunitas Kasih-100 Tahun Paroki Katedral Ruteng” (Yogyakarta, 2020)

I.   PENDAHULUAN

Selama masa hidupnya di dunia (kurang lebih 33 tahun), Yesus menghadirkan misi Kerajaan Allah di tengah manusia. Kerajaan Allah dalam bahasa yang lain dalam kitab suci diartikan sebagai keselamatan (Ibrani: Syaloom, Yunani: eirene).[1] Untuk mencapai misi ini, Yesus tidak bekerja sendirian. Ia melibatkan banyak pihak: pribadi-pribadi, komunitas, kelas-kelas sosial (social class) dan juga pihak-pihak yang ditengarai sebagai musuh bersama secara nasional oleh orang Israel.

Gerakkan Yesus ini memiliki dampak yang sangat luas. Bermula di tanah Palestina, merambah seluruh Eropa hingga menjalar ke seluruh dunia. Gerakkan yang mengusung keselamatan ini lalu menjadi sebuah mega proyek kemanusiaan dalam aneka wajah. Ajaran dan agama Kristen berupaya memempatkan misi Yesus di pelbagai bidang kehidupan: pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya dan politik.

Implementasi ajaran Yesus dengan pelbagai model penafsiran atas spiritualitasnya membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan umat manusia. Pandangan-pandangan gereja Katolik pun Kristen bersama denominasinya berusaha mengangkat kembali martabat manusia dari keruntuhannya akibat pelbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Kajian ini bergerak dengan sebuah orientasi bahwa pelbagai masalah yang dihadapi oleh manusia di zaman ini dapat ditilik melalui perspektif religiositas Yesus dan ajaranNya. Utamanya, bagaimana Yesus memiliki model dalam pengkaderan orang muda untuk memenangkan Kerajaan Allah (keselamatan holistik)[2] di tengah dunia.

II.             KEPRIHATINAN DAN REFLEKSI

Ada dua hal yang menjadi keprihatinan dalam pembahasan ini. Pertama, hampir setiap hari kita membaca di Koran lokal NTT, adanya kasus korupsi pada institusi pemerintahan.[3] Statistik Provinsi NTT menunjukkan bahwa 90,2% penduduk NTT adalah orang Kristen.[4] Orang Kristen (Katolik dan Protestan) dilayani oleh 7 uskup, 931 pastor, 323 bruder, 1.695 suster, 2.404 pendeta, 1.429 guru injil, 6.766 guru agama, 25.012 penatua dan 14.900 diaken.[5] Dapat dipastikan pula bahwa sebagian terbesar pejabat pemerintahan adalah orang Kristen, mulai dari gubernur hingga kepala desa atau lurah.

Kedua, dalam skala nasional, harus diakui bahwa tokoh-tokoh Katolik sangat kurang, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas. Pada zaman Orde Lama pun Orde Baru, tokoh-tokoh Katolik memiliki peran yang sangat strategis di pelbagai bidang kehidupan Negara seperti ekonomi, keuangan, kesejahteraan rakyat, militer. Tokoh-tokoh seperti I.J. Kasimo, Mgr. Soegija Pranata, Drs. Frans Seda, Drs. Cosmas Batubara, L.B. Moerdani, J.B. Sumarlin, Adrianus Moi adalah sebagian nama yang layak disebutkan.

Berhadapan dengan dua kenyataan ini, pertanyaan yang muncul ialah “Bagaimana upaya kita membangun kembali ketokohan dalam diri kaum muda Katolik sehingga mereka dapat menjadi kader yang handal dan militan?” Pertanyaan ini muncul sebagai refleksi panjang setelah menjadi nyata bahwa makin hari, orang muda kita kuat dipengaruhi oleh trend materialism, egoisme, kekerasan yang menjadi mainstream zaman ini.

Pertanyaan ini sekaligus menjadi titik tumpu untuk kelahiran sebuah gerakkan massif dalam membangun kembali reruntuhan idealisme nilai yang kian kandas dalam percaturan kehidupan kita. Pertanyaan ini juga membuka dan menyentakkan kesadaran kita untuk berpikir serius-kritis agar darinya lahir jawaban-jawaban yang menggerakkan terbentuknya sel-sel kader dalam setiap lapisan, pada semua level kehidupan.

Membingkai gerakkan besar ini, menurut hemat saya, kita perlu belajar pada sang Guru, Yesus, yang telah membawa misi keselamatan ke tengah dunia, melakukan proses pengkaderan murid-muridNya, demi memenangkan misiNya dalam sejarah penyelamatan (Heilgeschichte).

3.3.                   Orientasi dan Misi Yesus

Untuk mengetahui orientasi dan misi Yesus, salah satu cara terbaik adalah menggali riwayat hidup Yesus dalam keempat injil.[9] Dalam dan melalui pembacaan atas informasi historis mengenai Yesus ada dua sisi yang dapat ditegaskan. Pertama, dalam beberapa teks bisa jadi ditemukan kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan melacak apa yang dikerjakanNya (ipsisima vox et facta). Kedua, yang lebih penting, menemukan maksud Yesus yang asli (ipsisima intentio).[10] Dalam bagian ini, fokus kita ialah: apa orientasi dan misi Yesus?

Pertama, orientasi Yesus yang paling utama adalah diselamatkannya semua manusia, membawa mereka ke dalam Kerajaan Surga. Orientasi ini menjadi alasan keberadaan Yesus di tengah dunia.

Kedua, demi mencapai orientasi itu, Yesus berusaha mewartakan Kerajaan Allah kepada semua manusia. Pewartaan injil menjadi sebuah keahrusan untuk menyampaikan kabar pembebasan bahwa manusia yang terkungkung dalam dosa dan penderitaan akan mengalami keselamatan sebagaimana dinyatakan oleh Yesaya:

Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel (Yes 29:18-19).

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara (Yes 35:5-6).

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung (Yes 61:1-2).

Dalam analisisnya mengenai misi Yesus, Albert Nolan menyampaikan bahwa Yesus dalam konsep Kerajaan AllahNya bermaksud untuk menyembuhkan orang miskin dan yang tertindas, melakukan penyembuhan dan memberikan pengampunan.[11]

3.4.                   Proses Pengkaderan Yesus

3.4.1.Mulai dari Diri Sendiri

  • Pernyataan Publik

Peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan merupakan pernyataan publik pertama yang menunjukkan identitas Yesus. Pernyataan pertama datang dari Allah Bapa. Dikisahkan sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:16-17).

Pernyataan kedua, adalah pengakuan dari Yohanes Pembaptis. Injil Yohanes berkisah:

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34)

Pernyataan ketiga, datang dari Yesus sendiri pada saat Dia membacakan kitab nabi Yesaya di Sinagoga tatkala Ia datang ke Nazaret, kampung halamanNya sendiri. Pada waktu itu, Yesus diminta oleh petugas Sinagoga untuk membaca kitab suci. Injil Lukas menulis:

Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”(Luk 4: 16-21).

Selain teks Lukas, penginjil Yohanes secara khusus menyampaikan kesaksian tentang diriNya:

Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya (Yoh 5:36-38).

Pernyataan-pernyataan publik ini begitu penting yang menunjukkan ketokohan Yesus sebagai seorang mesias, penyelamat yang datang menyelamatkan umat manusia, sebagai misi yang harus dijalankannya. Pengakuan pertama menunjukkan pengakuan dari Allah secara eksplisit. Terbersit unsur legalitas misi Yesus yang datang dan ditegaskan Allah sendiri. Pengakuan kedua pengakuan manusia sebagai bentuk penerimaan atas misi dan jati diri pembawa misi. Pengakuan ketiga adalah penegasan dari Yesus sendiri tentang identitas diriNya sebagai mesias.

  • Persiapan Misi: Berpuasa dan Berdoa

Injil secara kronologis menceritakan tentang perjalanan misi Yesus. Diawali dengan kelahiran, masa kanak-kanak lalu masa persiapan berkarya. Menurut hemat saya, moment Padang Gurun adalah kesempatan Yesus merumuskan visi misi diriNya. Sebuah moment pemurnian (purification) sekaligus pengosongan diri. Dalam kesempatan itu, Dia berpuasa selama 40 hari dan 40 malam lalu dicobai iblis untuk mengetahui apakah Ia masih setia pada komitmen perutusanNya.

Ada tiga bentuk percobaan yang diberikan kepada Yesus oleh iblis. Pertama, mengubah batu menjadi roti. Percobaan ini menjuruskan Yesus pada ruang mental instant. Serba cepat tanpa kerja keras. Minim perjuangan. Selain itu, Yesus menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu. Termasuk kehidupan itu sendiri harus merujuk pada firmanNya. Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4).

Kedua, Injil bercerita bahwa kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat 4:5-7).

Bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa Iblis ingin Yesus menyalahgunakan kekuasaanNya untuk hal-hal yang tidak perlu. Menjatuhkan diri hanya untuk memperlihatkan Dia berkuasa adalah tindakan konyol. Yesus mengakhiri cobaan dengan ini menyatakan agar tidak boleh mencobai Tuhan.

Ketiga, Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus (Mat 4:8-11).

Dalam pencobaan ini, Yesus diarahkan Iblis untuk tunduk-takluk pada kuasanya. Kejayaan dan ketenaran duniawi menjadi hal yang dipromosikan kepada Yesus. Namun nyata bahwa Yesus menolak semua itu dengan kembali berkiblat pada misi perutusanNya. Dengan kata lain, Yesus tidak mencari pemuasan bagi kebutuhan materialnya, membuat tindakan yang spektakuler dari kedudukan dan kekuasaanNya atau bersahabat dengan iblis demi kekuasaan politis.[12]

Selain berpuasa selama 40 hari-40 malam, Yesus juga berdoa dan kunjung putus. Ia berdoa siang dan malam. Pada teks-teks kemudian diperlihatkan oleh penginjil bahwa Yesus senantiasa mengungsi ke tempat yang sunyi dan hening untuk berdoa (Misalnya Luk 11:1).

3.4.2.           Mencari dan Menggembleng Kader    

  • Pemilihan Para Murid

Setelah kembali dari Padang Gurun, Yesus menuju Galilela, diam di daerah Kapernaum. Di sana Dia bertemu dengan para penjala ikan di danau Galilea. Dia memilih Simon (Petrus) dan Andreas saudaranya. Yesus berkata kepada mereka:

“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia (Mat 4:19-22).

Apa yang menyebabkan mereka dipilih untuk menjadi murid Yesus? Mengapa Yesus tidak memilih kaum cerdik pandai yang menguasai ilmu pengetahuan agama? Itulah pertanyaan yang patut dilayangkan atas proses recruitment murid-murid Yesus. Jawaban atas pertanyaan itu dapat diselidiki dengan menelusuri injil Lukas.

Dalam Injil Lukas 5:1-11 diperlihatkan bahwa unsur yang paling besar dari diri Petrus adalah kepercayaan pada kata-kata Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam. Situasi Petrus adalah moment delikat.[13] Situasi lelah, putus asa karena ketiadaan ikan yang dapat ditangkap tidak membimbangkan sikap dan pilihan Petrus. Kepercayaan Petrus akan kata-kata Yesus yang menyuruhnya menebarkan jala merupakan alat bukti yang sahih apakah Petrus sungguh diandalkan atau tidak.

Apa yang menarik selanjutnya dari kisah ini ialah Petrus menyadari keberdosaannya. Secara halus Yesus menunjukkan dan membimbing Petrus untuk menyadari dirinya sebagai orang berdosa dan kuasa Allah. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, untuk menjadi murid Yesus, seseorang harus berani mengakui dosanya dan bertobat.

  • Pendidikan para Murid

Adakah Yesus memiliki kurikulum pendidikan para murid? Pertanyaan ini begitu mendasar. Terbaca dalam Injil bahwa Yesus memilih para murid dari pelbagai latar belakang. Petrus dan Andreas adalah nelayan. Mateus pemungut cukai. Simon dari golongan Zelot.[14]

Pertama, mendidik dengan memanggil untuk melihat, mendengar, meraba dan mengenal. Yesus memilih murid-muridNya dari antara orang-orang yang dijumpaiNya. Yesus “memanggil” orang-orang adalah didikan pertama. Seorang akan menyadari dirinya jika ia dipanggil dan diberi atribut khusus. Peristiwa pemanggilan itu lalu berimplikasi pada usaha mengenal Yesus.

Panggilan ini juga dimaksudkan untuk melihat (horao). Dalam Injil Yohanes, istilah horao disebutkan sebanyak 31 kali, sedangkan dalam tradisi sinoptik sebanyak 34 kali (Mat 13 kali, Mark 7 kali dan Lukas 14 kali). Dua murid Yohanes mencari Yesus di mana Dia tinggal. Jawaban Yesus: “Marilah, kamu akan melihatnya (opsesthe)”. Pengalaman melihat dan bertemu dengan Yesus dalam sejarah membuat murid-murid berani mencari lebih lanjut.

Selain dipanggil untuk melihat, tradisi Yohanes menekankan dimensi “mendengar” (akoein). Istilah ini ditemukan 58 kali dalam injil dan 16 kali dalam surat-surat. Mendengarkan tidak kalah dengan melihat. Hal itu nyata dalam Yohanes 5:24:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

Mendengar merupakan proses menjalin hubungan pribadi secara mendalam, seperti kawanan dengan gembalanya (Yoh 10:3).

Selanjutnya, Yohanes juga menekankan dimensi “meraba”. Dimensi “melihat” dan “mendengar” mungkin masih menunjukkan unsur rohani dalam pengalaman akan Yesus, maka istilah “meraba” jelas menunjukkan hubungan yang fisik dengan Yesus sejarah sebagai pangkal hidup rohani, hubungan pribadi yang mendalam. Oleh penginjil, Yesus dilukiskan sebagai orang yang meraba orang buta, membersihkan kaki para murid dan menerima urapan Maria di Betania.

Melihat, mendengar, meraba akhirnya bermuara pada pengenalan akan Yesus. Mengenal Yesus secara pribadi akhirnya menentukan seluruh makna jiwa dan semangat rohani dalam tradisi Yohanes. Yesus memang ditampilkan dalam tradisi itu sebagai yang mengenal para murid (Yoh 1:48), berimplikasi pada tuntutan agar para murid juga mengenal Dia. Relasi kausalitas saling mengenal ini digambarkan dalam perumpamaan antara gembala dengan kawanan yang dijaganya (Bdk. Yoh 10:14-15.27).[15]

Kedua,mendidik dengan tantangan. Yesus tidak mendidik murid-murid dalam kelas khusus. Sambil jalan ke mana-mana Yesus menyelipkan pendidikan khusus bagi murid-muridNya. Ada beberapa moment yang bisa disebutkan:

  • Motivasi mengikuti Yesus (Mat 8:18-22, Luk 9:57-62). Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka. ” Yesus menantang konsep-konsep mereka secara keras. Tuntutan ini adalah cara yang ekstrem untuk menunjukkan bahwa panggilan mengikuti Yesus mengatasi semua kewajiban lain. Ucapan-ucapan ini begitu penting untuk memahami pentingnya menjadi murid.[16] Bahkan Yesus juga menyampaikan bahwa suatu saat akan mengalami penderitaan yang tragis: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”(Mat 17:22-23). Mendengar pernyataan itu, hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Yesus berterus terang sehingga kader-kaderNya siap dari semula.

Tempat perutusan (Mat 10:16-20, Mrk 13:9-13, Luk 21:12-19). Yesus mengutus para muridNya ke tempat-tempat yang sulit, dilambangkan seperti domba ke tengah serigala. Yesus meminta mereka untuk waspada karena aka nada tantangan, baik dari penguasa agama maupun penguasa pemerintahan, untuk diadili dan dihukum. Namun Yesus tetap menguatkan mereka agar mereka tidak boleh kuatir.

  Cara menjadi murid. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya, Dia melarang mereka untuk membawa emas, perak, bekal, baju lebih dari satu, tongkat, kasut karena “seorang pekerja patut mendapat upah. Tantangan ini begitu berat seolah-olah mereka akan mendapat kesulitan karena tidak memiliki apapun dalam bingkai material. Tetapi justru di situlah spiritualitas pengosongan diri menjadi hal yang dapat diandalkan. Seorang kader hidup dari keyakinanNya akan Yesus!Masih berkaitan dengan hal ini, Mat 16:21-28 menyatakan bahwa:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:24-26).

Upah mengikuti Yesus (Mat 19:27-30). Mengikuti Yesus ternyata tidak berorientasi pada pendapatan materi, melainkan sebuah kedudukan bahagia dalam kerajaan Allah. Injil melukiskan situasi itu:
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19:27-29).

  Penderitaan. Para murid langsung menyaksikan drama tragis penderitaan Yesus sejak di taman Getsemani hingga bukit Golgota. Yesus diperlakukan secara kasar, diborgol, disiksa, diadili secara tidak adil, difitnah, disesah, dipukul bahkan disalibkan. Yesus menunjukkan bahwa mengikuti Dia memiliki tantangan yang sangat besar, bukan hanya dalam tataran konsep, tetapi juga dalam tindakkan nyata (Mat 26:36-27:56). Semua hal itu terjadi di depan mata para murid sendiri. Apakah melihat hal itu mereka lalu takut? Mundur? Nyatanya tidak demikian. Para murid tetap setia, kecuali Yudas Iskariot yang mengkianati Dia.

Ketiga, mendidik dengan contoh. Yesus tidak hanya mengajarkan kepada murid-muridNya. Dalam seluruh hidup Yesus, contoh-contoh diberikanNya secara jelas-gamblang. Ketika Yesus mengajar tentang kasih, Dia berbuat kasih. Pengampunan, Dia mengampuni. Pengorbanan, Dia berkorban. Berdoa, Dia berdoa sehingga murid-muridNya meminta Dia untuk mengajar mereka berdoa. Melayani, Dia melayani. Tahan terhadap penderitaan, Dia menderita. Membela kebenaran, mengutamakan keadilan dan berani berbeda pendapat dengan arus pemikiran utama saat itu. Setia pada tradisi, namun kreatif mengeksplorasi nilai-nilai yang lebih positif dan manusiawi.

Yesus memberi contoh dan teladan. Dia tidak hanya berbicara atau mengajarkan teori-teori, namun mengaplikasikan ajaranNya dalam tindakan nyata. Yesus sungguh menghubungkan arti sebuah pengajaran dengan realisasi sebagai titik tujunya.

Keempat,mendidik dengan motivasi. Mat 10:16-33 memperlihatkan penganiayaan yang mungkin datang karena mengikuti Yesus. Namun Yesus memberikan motivasi kepada murid-muridNya. Penguatan iman dan daya tahan terhadap pelbagai kemungkinan yang buruk. Kata Yesus:

“Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:19-20).

Yesus memotivasi murid-muridNya untuk tidak takut dan memperlihatkan penderitaan yang akan datang. Ada tiga kali Yesus menyampaikan keadaan yang akan terjadi, termasuk bagaimana menghadapi penderitaan itu. 1) Mat 16:21-28, 2) Mat 17:22-23, 3) Mat 20:17-19.

Kelima, mendidik untuk diutus. Mat 10:1-4, 5-15 berkisah tentang Yesus memanggil keduabelas rasul dan mengutus mereka pergi memberitakan “kerajaan Allah sudah dekat”. Adapun tugas mereka adalah mencari domba yang hilang dari Israel, menyembuhkan orang sakit, mentahirkan orang sakit kusta, mengusir setan-setan.

Sebelum pemilihan para rasul, Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17). Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu (Mat 4:23).

  • Beraksi dan Bersaksi
    Sebelum pemilihan para rasul, Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17). Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu (Mat 4:23).

Demikianlah Yesus dari tempat yang satu ke tempat yang lain mengajarkan setiap orang sambil berbuat baik: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tulis mendengar, orang mati bangkit dan orang miskin diberitakan kabar baik (Mat 11:5-6).

3.5.                    Hasil Pengkaderan Yesus
3.5.1. Kader yang Percaya
Para murid yang dipilih Yesus kemudian menjadi kader yang percaya. Mereka mengikuti Yesus ke manapun Dia pergi. Mereka mengalami kehidupan bersama Yesus, dalam suka dan duka, untung dan malang. Bahkan di depan mata mereka Yesus yang mereka anut, puji dan kagumi dibantai dengan cara yang sadis.
Menghadapi semua itu, para murid sebagai kader Yesus mengandalkan kepercayaan total sebagai landasan membangun tugas pelayanan mereka selanjutnya. Dari pengalaman para murid itu, kepercayaan total kepada pribadi Yesus dan misiNya merupakan modal terbesar dalam kehidupan selanjutnya, hingga akhir hayat mereka.

3.5.2.           Kader yang Militan
Pascakenaikan Yesus ke surge, para murid berkumpul dan membangun rencana pelayanan mulai dengan berdoa bersama, memilih pengganti Yudas (Matias), menerima urapan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus (Kis 1:1-5, 2:1-13).
Petrus merupakan tokoh kunci yang mulai berkotbah (Kis 2:14-40) tentang Yesus, membangun cara hidup yang selaras dengan ajaran Yesus (Kis 2:41-47) dan bahkan dia menyembuhkan orang lumpuh (Kis 3:1-10). Petrus makin banyak menyembuhkan orang sakit (Kis 5:12-16) dan bahkan membangkitkan orang mati (Kis 9:32-43). Bahkan mereka tidak takut dihadapkan kepada penguasa agama (Kis 4:1-22) dan dipenjara (Kis 5:17-25). Karena pelayanan makin dibutuhkan Petrus dan rasul yang lain memilih tujuh orang untuk ikut dalam pelayanan (Kis 6:1-7).

Buah dari perjuangan Petrus dan kawan-kawan membentuk kader nyata dalam keberanian Stefanus. Stefanus melakukan gerakan yang militan. Tidak ada ketakutan padanya dalam menjalankan misi Yesus walaupun dia akhirnya dibunuh (Kis 6:8-15, 7:1-54).

Pertobatan Paulus menjadi salah satu tonggak penting untuk menjadikan dirinya sebagai murid yang sangat militan (Kis 9:1-19a). Barnabas dan Paulus ke Anthiokia, Ikonium, Listra dan Derbe, Filipi, Makedonia, Tesalonika, Berea, Korintus, Efesus, Troas, Miletus, Tirus, Siprus, Roma dan masih banyak daerah lain. Paulus di tangkap (21:27-36) dan akhirnya mati di Roma.[17]

Militansi Petrus, Stefanus dan Paulus merupakan model tokoh yang membesarkan hati bahwa mengikuti Yesus merupakan jalan terjal yang harus ditaklukkan dengan kerelaan untuk menderita demi kerajaan Allah yang makin dikenal oleh manusia di seluruh penjuru dunia.

IV.           RELEVANSI
4.1.         Urgensitas Pengkaderan Orang Muda
Pertemuan Curah Pendapat Kader Katolik di Belo, 22-24 November 2013 menggarisbawahi pentingnya pengkaderan orang muda di semua bidang kehidupan di Indonesia. Hilangnya kemunculan tokoh-tokoh Katolik sebagaimana disebutkan pada awal kajian ini harus merupakan moment berharga untuk menciptakan kader, yang bukan saja militan tetapi memiliki visi kristiani.

Tugas raksasa ini mesti menjadi grand planning gereja ke depan. Sehingga dengan demikian, kita dapat memastikan peran-peran strategis dalam pelbagai aspek kehidupan dapat diambil demi perluasan kerajaan Allah itu.

4.2.  Peran Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan merupakan tempat yang dapat menempa kader-kader muda. Melalui kurikulum yang baik, kaum muda secara inplisit sudah diarahkan menjadi kader. Tinggal saja, yayasan dan sekolah Katolik mau berikhtiar untuk menjadikan pendidikan kader sebagai salah satu point penting untuk membangun bangsa-negara-gereja di masa depan demi bonum commune.
Untuk mencapai hal itu, diharapkan yayasan dan sekolah katolik mulai berpikir serius untuk menemukan langka-langkah aplikatif dalam kerja sama dengan stakeholder yang mungkin.

4.3.   Peran Strategis Lembaga Gereja
Dalam kaitan dengan pembentukkan kader kaum muda, paroki memiliki ruang yang sangat strategis, melalui pendalaman iman, kegiatan-kegiatan gerejani, untuk menempa kaum muda dalam aspek rohani. Selain itu, peran Pusat Pastoral Keuskupan melalui Komisi Kepemudaannya menjadi think thank untuk membangun pergerakkan yang progresif di tingkat keuskupan dan menganimasi seksi kepemudaan di Paroki dalam kerja sama dengan organisasi-organisasi Katolik (THS-THM, PMKRI, Ikatan Sarjana Katolik, WKRI, dll).

Konsolidasi yang baik akan menjadi lahirnya kader-kader kaum muda Katolik yang berkualitas di pelbagai level kehidupan (pendidikan, politik, ekonomi, budaya, dll). Gerakan-gerakan spiritual yang tidak diback-up oleh manajemen organisasi yang baik tidak dapat menghasilkan kader yang baik. Karena itu, kerja sama multipihak dalam pembentukkan kader menjadi hal yang harus.

V.  PENUTUP
Pembahasan kajian ini bergerak dari situasi kekinian yang berposisi pada keprihatinan kepada tilikan mendalam akan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dalam membentuk kaderNya sendiri untuk memenangkan misi Kerajaan Allah. Yesus memilih para murid untuk menjadi kaderNya, menggembleng mereka dan kemudian mengutus mereka ke tengah masyarakat dengan pelbagai tantangan yang riil.

Yesus telah berhasil menjalankan misiNya dengan proses pengkaderan para muridNya. Langkah Yesus ini dapat kelihatan dalam pertumbuhan kekristenan yang melangkaui seluruh dunia dalam pelbagai wajah pelayanan. Kita dapat belajar pada pola Yesus dalam pembangunan kader. Berguru pada Yesus menjadi sebuah pilihan yang tak dapat ditawar-tawar demi membangun basis pertahanan kader kita yang militan, bermutu dan memenangkan agenda keselamatan.***

REFERENSI
Buku, Kamus, Ensiklopedi dan Koran
Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen-Warta Gembira yang Memerdekakan.            Yogyakarta: Kanisius, 1991.
AS Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English(England: Oxford University Press, 1995.
C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah-Keselamatan yang Diberitakan Alkitab.Yogyakarta: Kanisius, 1989.
C. Groenen dan Stefan Leks, Percakapan tentang Alkitab Sesudah Konsili Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius, 1986.
Diana Bergant & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.Yogyakarta: Kanisius, 2002.
 Guido Tisera, Yesus Sahabat di Perjalanan-Membaca danMerenungkan Injil Lukas. Maumere: Ledalero, 2003.
James M. Robinson, A New Quest of the Historical Jesus.London: Rapard, 1979.
John M. Echols dan Hasan Shadly, Kamus Inggris-Indonesia.Jakarta: Gramedia, 2003.
JD. Douglas et al. (eds.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini M-Z.Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995.
Leslie E. Mitton, Jesus: The Fact Behind The Faith.New York: Harper and Row, 1976.
Pos Kupang edisi 23 November 2013.
Pusat bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka, 2012.
St. Darmawijaya, Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru.Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 1992.
Tom Jacobs, Paulus-Hidup, Karya dan Teologinya. Yogyakarta: Kanisius, 1983.

Website:

BPS, “Statistik NTT 2012” dalam: http://ntt.bps.go.id/index.php/sosial- dan-kependudukan/agama /24-data/agama/347- persentase-pemeluk-agama-menurut-kabupaten-kota-dan-agama-yang-dianut-2012.
http://ntt.bps.go.id/index.php/sosial-dan-kependudukan/agama.

[1] Istilah Indonesia “pe-nyelamat-an” dipilih untuk menerjemahkan kata Ibrani yesyu’a’ dan kata Yunani sooteria. LAI menerjemahkan sooteria dengan keselamatan. Padahal kata yesyu’a’ lebih memiliki arti dinamis yang menunjukkan tindakkan penyelamatan. Bdk. C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah-Keselamatan yang Diberitakan Alkitab (Yogyakarta: Kanisius, 1989), h.31.
[2] Keselamatan (salam, syaloom) berarti manusia dalam semua segi dan sudutnya utuh, lengkap baik dari segi material, segi sosial dan segi religius. Tindakan penyelematan adalah proses membantu manusia dari kondisi malang ke pada situasi selamat. Rencana penyelamatan Allah berarti usaha Allah untuk menyelamatkan manusia dalam pelbagai prosesnya dalam sejarah. Bdk. C. Groenen dan Stefan Leks, Percakapan tentang Alkitab Sesudah Konsili Vatikan II (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hh. 69-72.[3] Misalnya, Pos Kupang edisi 23 November 2013 melansir berita korupsi pengadaan buku di dinas Pendidikan Kota Kupang yang melibatkan mantan wali kota Kupang, Drs. Dan Adoe.
[4] BPS, “Statistik NTT 2012” dalam: http://ntt.bps.go.id/index.php/sosial-dan-kependudukan/agama/24-data/agama/347-persentase-pemeluk-agama-menurut-kabupaten-kota-dan-agama-yang-dianut-2012.
[5]Ibid, http://ntt.bps.go.id/index.php/sosial-dan-kependudukan/agama.[6] Pusat bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2012), h. 601
[7] John M. Echols dan Hasan Shadly, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 253
[8] AS Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English (England: Oxford University Press, 1995), h. 157
[9] Sebuah karya yang dapat membantu kita memperluas pandangan para ahli mengenai hal-hal yang dianggap pasti secara histrois dalam kehidupan Yesus, bdk. Leslie E. Mitton, Jesus: The Fact Behind The Faith (New York: Harper and Row, 1976).
[10] James M. Robinson, A New Quest of the Historical Jesus (London: Rapard, 1979), hh. 67, 105.
[11] Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen-Warta Gembira yang Memerdekakan (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hh. 33-35.
[12] Diana Bergant & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002), h. 39
[13] Guido Tisera, Yesus Sahabat di Perjalanan-Membaca dan Merenungkan Injil Lukas (Maumere: Ledalero, 2003), hh. 50-51.
[14] Simon orang Zelot disebutkan dalam Luk 6:15, Kis 1:13, Mat 10:4 dan Mark 3:18. Menurut Yosefus, sejarawan, partai Zelot adalah filsafat keempat di tengah-tengah orang Yahudi yang didirikan oleh Yudas orang Galilea yang memimpin pemberontakkan melawan Roma tahun 6 M. Orang Zelot keras menentang penyerahan uptei Israel kepada kaisar kafir, dengan alasan hal itu merupakan pengkianatan terhadap Allah, sebagai raja Israel sebenarnya. Mereka disebut Zelot karena mereka fanatic terhadap Matatias, anak-anaknya dan pengikutnya yang menunjukkan zelos (semangat besar) untuk Allah melawan Antiokhus IV (1Makabe 2:24-27). Bdk. JD. Douglas et al. (eds.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini M-Z (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995), h. 651.
[15] Bdk. St. Darmawijaya, Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru (Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia, 1992), hh. 207-210.
[16] Diana Bergant & Robert J. Karris, op.cit., h. 46
[17] Tentang Paulus secara lengkap dapat dibaca: Tom Jacobs, Paulus-Hidup, Karya dan Teologinya (Yogyakarta: Kanisius, 1983).

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button