Sosok

Frans Kalis Laja: Pendobrak yang Pantang Menyerah

Kanisiusdeki.com – Pagi ini saya membuka grup Whatsapp (WA) Forum Puskopdit Manggarai. Saya jumpai berita tentang Frans Laja, Manajer Kopdit Ayo Mandiri (Aman) masuk ruang ICU. Tak lama berselang, ada berita dari anaknya, “Bapa sudah meninggal”, demikian pesan di WA. Sontak, semua pegiat Kopdit mengucapkan turut berduka cita yang mendalam. Salah satu pegiat Kopdit di Manggarai berpulang ke Rumah Tuhan.

Saya bersua Frans untuk pertama kalinya tahun 2008. Waktu itu sebagai mahasiswa kami melakukan kegiatan “Live-In” di wilayah Lio, daerah Paga-Mauloo pedalaman. Akses transportasi sangat susah kala itu. Kami berjalan kaki dari kampung Nua Ria menuru Gae Kiu. Dalam separoh jalan, tiba-tiba deru mesin motor Win produksi Honda terdengar kencang. Sepeda motor itu dikendarai seorang pemuda ganteng. Ia mengenakan jacket Lewis yang dipadu dengan ransel besar. Di wajahnya bertengger kaca mata dual-function: kacamata minus yang berwarna gelap ketika sinar matahari terik.

Saat dekat dengan kami, dia menyapa dengan ramah. Ketika tahu kami satu almater dengan dirinya, ia turun lalu berncerama dalam waktu yang cukup lama. Dalam tuturannya, ia bekerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkantor di Paga. Zaman itu, LSM sedang jadi primadona penggerak pembangunan yang sangat diharapkan masyarakat. “Kalian belajarlah dengan sungguh, sebab kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kamu mengantongi ijazah dan mengampilkasikannya di tengah masyarakat”, nasihatnya mengakhiri perbincangan pagi itu.

Ketika perjuangan LSM bersama pemerintah dan masyarakat sudah banyak mencapai hasil, lembaga donor mulai mundur dari Indonesia. Kemandirian yang menjadi orientasi kehadiran LSM mulai menampakkan diri. LSM berguguran satu per satu. Kecuali yang masih menjalankan advokasi terhadap pertanian dan kesehatan masyarakat tetap bertahan.

Dari kisahan yang pernah disharingkannya, Frans lalu berpindah ke Larantuka. Di sana ia bergabung dengan LSM juga serta membangun Koperasi Kredit. Rupanya ia membentuk keluarga di Larantuka. Mereka memiliki rumah sendiri. Setelah beberapa tahun menyatu dengan warga Larantuka, ia kemudian kembali ke Manggarai. Bersama Pak Tarsis Hurmali dari Yayasan Ayo Mandiri, mereka membentuk Koperasi Kredit (Kopdit) Ayo Mandiri (Aman). Nama ini cukup nyentrik karena berciri imperative. Ia bukan saja sebuah ajakan tetapi sebuah seruan untuk mandiri.

Kopdit Aman berjalan dalam niat dan cita-cita untuk membuat para anggotanya mandiri. Kopdit ini mulai beroperasi 19 April 2010 dan melayani anggota dari tiga kabupaten: Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur dengan jumlah anggotanya 6.022 orang dan asset 21,3 miliar. Frans selaku manajer lembaga ini memiliki karyawan sebanyak 24 orang.

Ada banyak terobosan yang dilakukan Frans membesarkan lembaganya. Ia datang ke berbagai tempat, khususnya di pelosok-pelosok Manggarai Raya. Walaupun rasio anggota dengan karyawan masih besar, 1:250, Frans terus memberi semangat pada karyawannya untuk tetap bekerja sekuat tenaga demi mencapai hasil maksimal.

1 2 3 4Laman berikutnya

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button