Sosok

Drs. Yohanes Segau: Panta rhei kai uden menei!

Kanisiusdeki.com-Selama 35 tahun Bapa Yan, demikian biasa disapa mengabdikan diri di lembaga pendidikan SMAK St. Thomas Aquinas. 35 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah pengabdian yang tetap di tempat yang sama. “Apakah tidak ada kebosanan dalam alur waktu yang begitu lama?”, tanya saya suatu kali. Menurut pengalaman Bapa Yan, waktu terus mengalir, ia terus berproses di dalamnya. Sejalan dengan pernyataan filsuf terkenal, Heraclitos (480SM) dari Yunani, “Panta rhei kai uden menei” yang berarti semuanya mengalir dan tidak ada satupun yang tinggal tetap, pengabdian ini ada dalam lingkaran waktu.[1]

Baca Juga : Michael Ogos, B.A: Bona Culina, Bona Disciplina!

Baca Juga : Awas Bulan Maria!

Pernyataan Heraclitos dimaknai dalam 2 (dua) hal oleh Bapa Yan. Pertama, pengabdiannya selama 35 tahun merupakan rangkaian saat yang sarat dengan pengalaman. Ketika dirinya menyelesaikan pendidikan kesarjanaan di Universitas Nusa Cendana, jurusan Ekonomi Bisnis, tahun 1984 ia memang berniat kembali untuk mengabdi Tanah Nucalale, Manggarai tercinta. “Panggilan ini begitu kuat sehingga kendati ada tawaran untuk mengabdi di lembaga almamater, saya tetap berpendirian untuk kembali”, ungkapnya. Sejak dirinya tiba di SMAK St. Thomas Aquinas, ia menjadi Kepala Urusan Kesiswaan selama 10 tahun.

Baca Juga : Yoseph Tatu : Motivator yang Visioner

Baca Juga : Siapa Menciptakan Tuhan?

Ada perubahan dalam pola dan metode pendampingan siswa dari waktu ke waktu. “Saya lihat bahwa penerimaan siswa terhadap dampingan guru atau sekolah berubah dari tahun ke tahun. Jikalau dulu siswa memiliki ketaatan dan kepercayaan yang besar terhadap guru, lambat laun ikatan itu mulai longgar. Ini tantangan yang besar. Guru berusaha meneruskan pendidikan dari keluarga”, tandasnya. Dalam pantauan dan refleksi Bapa Yan, ketika situasi keterikatan guru-siswa mulai lemah, ada perubahan pola yang harus dilakukan. “Perubahannya pada paradigma. Jikalau sebelumnya kita merasa berkuasa, pendekatannya top-bottom, kini kita yang turun mendekati siswa. Jikalau dulu, kedisiplinan disertai kayu, kini kata-kata yang menyentuh dan perilaku yang penuh empati dari guru”, lanjutnya. Jadi, metode kita tidak tetap dalam pendampingan.

Kedua, kehidupan yang demokratis menjadi pilihan sikap yang tetap. Boleh berganti pimpinan, kurikulum, staf, siswa, yayasan, namun perubahan mendasar seperti komitmen, prinsip-prinsip haruslah tetap. Prinsip-prinsip itu terimplementasi pada kehidupan yang human, saling menghargai, saling memberdayakan dan demokratis. “Mengapa bertahan sedemikian lama? Ya, kehidupan di lembaga ini sangatlah demokratis. Kita saling menjaga dan melindungi sebagai sebuah keluarga besar dalam spirit nilai-nilai Katolik dan budaya Manggarai. Nilai-nilai ini menjadi tonggak penopang arah sehingga menjadi sumber kekuatan bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam tim”, jelasnya.

Baca Juga : HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR: Upaya Distansiasi Teks dan Pembaca-Sebuah Diskursus Reflektif-Kritis

Baca Juga : Frederikus Narut Taku: Kepala Desa yang Mengubah Haluan

1 2Laman berikutnya

Kanisius Deki

Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button