BELAJAR ADAT MANGGARAI (Bagian Pertama: TOROK)

- Penulis

Rabu, 20 September 2017 - 00:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kanisius Teobaldus Deki

Beberapa waktu terakhir ini kami sedang mengerjakan hal-hal yang terkait budaya Manggarai. Kami mewawancarai tua adat (ata pecing adak) di banyak tempat untuk akhirnya menghasilkan referensi yang berguna bagi generasi Manggarai yang akan datang. Berikut temuan-temuan kami (yang tentu masih bisa didiskusikan):

TOROK

1) Torok adalah ungkapan doa orang Manggarai yang ditujukan kepada Mori agu Ngaran-Jari agu Dedek (Tuhan dan Pemilik-Pencipta dan Pembuat), wura agu ceki (roh leluhur), naga beo/naga tanah (roh kampung), ata pa’ang be le (semua yang sudah meninggal dunia).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

2) Torok diungkapkan dalam dua bentuk. Pertama, Tudak yakni untuk upacara sederhana yang hewan kurbannya berkaki dua (ayam/manuk) dan bahan lainnya telur ayam (ruha manuk). Kedua, Renge untuk hewan yang berkaki empat. Misalnya: renge ela paka di’a (Mendoakan hewan kurban pada saat pesta kenduri). Berbeda dengan tudak yang hanya diucapkan, renge biasanya dinyanyikan dengan agung, yang disertai cako (memimpin) dan wale (jawaban). Di akhir bait selalu dikatakan melalui cako: “tangkur te….” lalu dijawab (wale): “eeeeeeeeeeeeeeeeeeee”

3) Torok dipimpin orang terpilih yang biasanya memiliki kemampuan dengan ungkapan-ungkapan (go’et) penuh makna dalam barisan kalimat puitik, dengan paralelisme keseimbangan (opisisi binaris) dengan struktur sebagai berikut:
Pertama: Sapaan kepada Tuhan, leluhur dan semua yang telah meninggal dunia.

Misalnya:
Denge lite morin agu ngaran, nenggitu ite wura agu ceki, sangged ite ngasang empo ame…one gendang Tenda

Selanjutnya Penyampaian permohonan:
ai comong agu wangkan dami, le ro’eng ngoel-rekok lebo, wing agu dading dami, hi….hitu pe’ang de elan lami ga, kudu adak cikop le’as lami, kudu petu kole sosor, tiwu galang na’ang, kudu anak dami kali, ise …latang ngger olon, ole, lesing koes dekit lite, na’a koes lanta, kudu ise koe kali ga ngger olon, latang wing agu dading dise, ra’ok koes lobo sapo, rentet lobo kecep, kud ras baling recap, res baling lele, kudu ta’I cala w’I-borek cala bocel.

Kedua:Penolakan (emi ata da’at):
Kali mana nggitu tae, kali mana nggitu torok, torok toe kop, pa’u toe patu, toe patun to’ong ela cikop le’as hitu pe’ang, toe cama laing leng lami, tura one urat lite, baro pe’ang ela hitu, lema rempas urat ela hitu pe’ang pempet kin salang.

Ketiga: Penegasan Kembali Permohonan dan sumpah (emi ata di’an):
Somba ema, toe hemong agu mamur lami, ruku agu sake, ata poli mbate dise ame, serong dise empo, hitu pe’ang de elan lami ga, kudut adak cikop le’as, kudu petu kole sosor, tiwu kole galang na’a, kudu wing agu dading dise koe ngger olon, lesing koe dekit lise, na’a koes lanta, kudu ise kali tai ga, latang te nggerolon, ole raok lobo sapo koes wing agu dading dise, kudu rentet lobo kecep, kudu ras baling racap-res baling lele, kudu ta’I cla wa’i-borek cala boceld. Hitug tae ema, hitug torok, patun lite ela cikop le’as hitu pe’ang, cama laing leng lami, ndeng keta neho poro atin ela hitu pe’ang kudu uwa gula, bok leso latang te mose dise ngger olon.

4) Torok terus berkembang sesuai dengan maksud (intentio) acara adak. Pengembangan dilakukan secara spontan dengan struktur yang tetap. Torok sebagai doa yang sakral sekaligus agung menjadi indah karena kata-kata puitik bagai mantera yang diungkapkan dengan lancar, intonasi yang fluktuatif dan irama yang sudah baku. Penutur torok (ata pande adak manuk ko ela) harus bersih dan penuh konsentrasi. Dari data diketahui, cadel (kegagapan dalam bertutur) bisa menjadi pratanda yang buruk bagi kelangsungan acara itu.

5) Mengagumkan keindahan tutur dalam permainan bahasa penutur torok misalnya kata:
“ro’eng ngoe-rekok lebo”
“petu kole sosor-tiwu galang na’ang”
“lesing koes dekit-na’a koes lanta”
“ra’ok koes lobo sapo-rentet lobo kecep”
“ras baling racap-res baling lele”
“toe hemong-toe mamur”
“ruku-sake”
“mbate dise ame-serong dise empo”
dll.

Ungkapan-ungkapan yang maknanya sama untuk menegaskan pentingnya permohonan ini. Sebuah permintaan bersahaja.

Komentar

Berita Terkait

Ruteng, Kota Natal
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang
Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terkait

Jumat, 3 Desember 2021 - 11:20 WITA

Ruteng, Kota Natal

Minggu, 24 Oktober 2021 - 17:23 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 16:54 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:52 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:34 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:03 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Selasa, 20 Juli 2021 - 11:46 WITA

Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang

Jumat, 25 Juni 2021 - 10:11 WITA

Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA