Bangkit Lagi Untuk Berhasil Menengok Kelompok Sinar Pagi Nampong

- Penulis

Jumat, 19 Februari 2021 - 11:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto biji kopi (Dokpri)

Foto biji kopi (Dokpri)

Keluar dari jalur menuju Lungar, dekat dengan Wae Mantar, kita searah dengan jalan menuju Iteng. Sepanjang jalan yang berkelok-kelok, sejauh mata memandang kita menemukan kayu-kayu sengon di pinggir jalan. Tak lama kemudian kita bertemu dengan kampung pertama setelah keluar dari kawasan hutan konservasi. Kampung itu adalah Nampong, yang menjadi wilayah administrative desa Umung, kecamatan Satar Mese. Di kampung ini, saban hari selimuti kabut tebal. Mayoritas penduduknya memiliki matapencaharian sebagai petani.

Pada zaman dahulu, desa ini dikenal sebagai salah satu penghasil kopi di kawasan selatan, selain Lungar. Namun lambat laun setelah waktu terus berjalan, budidaya kopi makin menipis. Salah satu sebabnya ialah karena menurunnya produktivitas pohon kopi seiring dengan makin menuanya usia tanaman kopi itu. “Lama kelamaan para petani kopi meninggalkan kebunnya lalu mulai berfokus pada sawah. Sawah memberikan hasil yang kurang lebih pasti”, kisah Bapa Damianus Ngkau.

Baca Juga : Kesaksian yang Membuka Mata
Baca Juga : Masyarakat Lungar: Kopi Menjadi Andalan Hidup

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka sendiri tidak cukup tahu dari mana tanaman kopi mula-mula di daerah Nampong. Namun sejak para leluhur di kampung Nampong sudah ada tanaman kopi. Mereka juga mengandalkan hidupnya dari tanaman itu. “Dari sekian banyak petani kopi, kami termasuk yang tidak mau beralih fokus ke mengerjakan sawah. Kami masih percaya bahwa kopi akan menjamin hidup kami”, kisah Bapa Largus Kaput, 62 tahun, anggota kelompok tani kopi.

Para petani di Nampong rata-rata memiliki lahan untuk budidaya kopi seluas 0,50ha-1ha. Lahan itu terpencar di beberapa tempat. Masing-masing tempat ditanami jenis kopi yang berbeda. Dalam lahan sebanyak itu, masing-masing petani rata-rata memiliki 300-600 pohon kopi. Setiap tahun mereka dapat memanen kopi masing-masing petani bisa mendapatkan 200-400kg. “Kopi-kopi yang ditanam pertama di uma rana (kebun yang dibuka untuk pertama kalinya) sudah tua. Karena kurang berbuah maka kami tidak perhatikan lagi, bahkan kopi di lingko itu kami sudah tinggalkan. Banyak sekali kera di sana dan merekalah yang merusak tanaman kopi kami”, jelas Bapa Damianus Ngkau.

Komentar

Berita Terkait

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba
Ruteng, Kota Natal
Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai
Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang
Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai
Tombo Adak Orang Manggarai
Membangun Gerakkan Bersama
Sistem Ijon Sudah Pamit

Berita Terkait

Senin, 25 September 2023 - 11:49 WITA

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Jumat, 3 Desember 2021 - 11:20 WITA

Ruteng, Kota Natal

Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:03 WITA

Peran Cendekia Dalam Pendampingan Lembaga Adat Di Manggarai

Selasa, 20 Juli 2021 - 11:46 WITA

Kampung Tenun Itu Bernama Gumbang

Jumat, 25 Juni 2021 - 10:11 WITA

Keng, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Rabu, 16 Juni 2021 - 12:06 WITA

Tombo Adak Orang Manggarai

Jumat, 28 Mei 2021 - 12:29 WITA

Membangun Gerakkan Bersama

Selasa, 9 Maret 2021 - 18:25 WITA

Sistem Ijon Sudah Pamit

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA