50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Cosmas Djalang, Disiplin adalah Kunci Kesuksesan

- Penulis

Sabtu, 9 Januari 2021 - 21:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kanisius Teobaldus Deki
Penulis Buku Terus Menjadi Cahaya Yang Berpendar:
50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas

Lelaki itu berperawakan pendek. Dari wajahnya terpancar aura seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa. Sorotan matanya yang tajam menyiratkan ada ketelitian dan kecermatan dalam menyikapi seluruh peristiwa hidup. Ia pantang menyerah dalam pilihan sikapnya demi kepentingan banyak orang. Ia memosisikan diri sebagai seorang petarung yang mementingkan hajat hidup masyarakat atau orang-orang yang dipercayakan kepadanya.

Ia berprofesi sebagai guru sekaligus seorang politisi handal. Perannya dalam sejarah pemekaran kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur sangatlah besar. Namun jangan salah mengira, lelaki ini memiliki jiwa yang lembut dan kasih seorang bapa. Dalam kesahajaan hidupnya, ia tetaplah seorang pribadi yang human dan penuh lelucon. Dia adalah Bapa Cosmas Djalang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca juga: Mengenal 25 Tahun Kopdit Hanura Borong: Herman Ruba Thuru, Hanura adalah Muara Impian

Cosmas lahir di Mukun, Desember 1943. Pendidikan sekolah dasar ditempuhnya pada Sekolah Rakyat hingga tamat tahun 1956. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di Seminari Pius XII Kisol, lembaga yang baru saja didirikan oleh P. Leo Perik, SVD. Cosmas menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama di lembaga calon imam itu tahun 1960. Karena berniat jadi imam, maka pendidikan lanjutan atasnya diteruskan di Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko dan selesai tahun 1964. Ia kemudian melamar ke Seminari Tinggi Ledalero dan belajar di sana selama 2 (dua) tahun, 1964-1966. Rupanya, panggilannya menjadi imam kemudian surut. Ia memilih untuk menjadi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia hingga meraih gelar Sarjana Muda Pendidikan dari Universitas Nusa Cendana Cabang Ende tahun 1970.

Sebelum menyelesaikan kuliah di Undana Cabang Ende tahun 1970, Cosmas sudah menjadi guru honorer di SMEAN Ende tahun 1967-1970 dan KPAAN Ende 1968-1970. Usai menyelesaikan studi, kecintaannya akan Manggarai memanggilnya pulang. Mula-mula dirinya bekerja di SMAK St. Thomas Aquinas tahun 1970-1973. Selama 3 tahun itu, ada banyak pengalaman yang membekas.

Baca juga: Hironimus Seman: Koperasi Kredit Bagian dari Pewartaan Gereja

Sebagai seorang pendidik, Cosmas menampilkan dirinya yang disiplin. Disiplin diungkapkannya secara nyata pada seluruh hidupnya. Ketepatan waktu, mengerjakan pekerjaan rumah, menyelesaikan tugas-tugas administrative dan yang lebih mendalam adalah disiplin berpikir. Kemampuan berpikir anak didiknya selalu diuji. Diawal pembalajaran dilakukan pre-test untuk mengetahui seberapa besar kemampuan daya ingat akan pembelajaran sebelumnya. Di akhir pembelajaran diadakan post-test untuk menguji seberapa besar konsentrasi siswa terhadap proses yang baru saja lewat. Ia juga tak lupa memberikan pekerjaan rumah untuk memperkuat daya jangkau pemahaman peserta didik atas pembelajaran di sekolah.

Baca juga: Homo Viator Itu Bernama Agustinus Ch. Dula: Sebuah Prolog

“Kebiasaan melakukan pre-test dan post-test pada kami sungguh membekas. Kami terbiasa untuk membangun konsentrasi selama pelajaran berlangsung sambil mereka-reka ke depan, tugas apa yang akan diberikan beliau sesudah pembelajaran. Kami terlatih untuk mengingat sekaligus untuk menyiapkan diri”, kisah Abbat Elias, salah satu muridnya pada suatu sesi wawancara di Jakarta.

Disiplin itu juga diungkapkannya dalam diskusi-diskusi yang dibangunnya bersama banyak orang, termasuk para siswanya. Rumahnya sering dipenuhi siswa-sisiwi yang ingin belajar dan berdiskusi. “Kami terbiasa dengan pertukaran pendapat melalui diskusi-diskusi. Rumah kami sering dikunjungi oleh banyak orang yang ingin berdiskusi. Kami hidup dalam alam demokrasi yang sesungguh”, kisah ibu Maria Nony Silalahi, sang pendamping hidup Cosmas.

Walaupun ruang diskusi yang dibangun hanyalah bersifat aksidental dan tak sepopuler Academia Plato, namun banyak orang yang terbantu untuk mengembangkan konsep berpikirnya. Disiplin yang diterapkan untuk dirinya memang membuahkan hasil. Ia tidak saja menjadi seorang organisator yang handal tetapi juga politisi yang berkiprah untuk kehidupan banyak orang.

Komentar

Berita Terkait

LECTIO DIVINA Panduan Mengakarkan Sabda Dalam Kehidupan Pribadi dan Komunitas[1]

Berita Terkait

Sabtu, 9 Januari 2021 - 21:11 WITA

50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Cosmas Djalang, Disiplin adalah Kunci Kesuksesan

Sabtu, 21 Mei 2016 - 03:56 WITA

LECTIO DIVINA Panduan Mengakarkan Sabda Dalam Kehidupan Pribadi dan Komunitas[1]

Berita Terbaru

Foto: Jokowi diterima secara adat Manggarai (sumber: secretariat negara).

Politik

Joko Widodo dan NTT, Secercah Harapan

Selasa, 5 Des 2023 - 17:17 WITA

Buku

Petrus Djawa Sury, Pengabdian Tanpa Batas Pada Kebaikan

Sabtu, 11 Nov 2023 - 11:10 WITA

Berita

Kreba Di’a Dite, 1 Tahun Media Paroki Kumba

Senin, 25 Sep 2023 - 11:49 WITA

Foto: Erat menggenggam tangan anak-anak Ende, memotivasi, memberi spirit untuk menghasilkan Generasi Emas 2045 (sumber: Humas Kab. Ende).

Sosok

Membangun Generasi Emas Kabupaten Ende

Selasa, 15 Agu 2023 - 19:33 WITA